Tempatnya karya sastra dan seni mulai dari yang tidak terkenal hingga yang super terkenal.
Sabtu, 28 Oktober 2017
Selasa, 26 September 2017
ANTARA MASFLASH, CELLINE DION, DAN GANTENG UNYU
Kalian tahu lagunya Mbak Celline Dion yang judulnya I'm Your Lady? Kalau tahu, silakan bayangkan sendiri saat mendengar lagu itu. Dengarkanlah seperti saat berada didalam gedung yang luas dan suaranya menggema. Rasakan bahwa itu seperti konser musik Celline Dion yang asli dan pejamkan mata. Apa yang kalian rasa? Damai kah?
Berbeda dengan para kru The Tampan Decorators, mereka akan mulai panik ketika mendengar lagu tersebut didalam gedung tempat acara resepsi pernikahan akan digelar. Ya, itu karena lagu tersebut selalu diputar oleh pihak vendor lighting dan soundsystems, biasanya Masflash sebagai checksound terakhir ketika acara sudah hampir dimulai. Tetapi saat itu pula The Tampan Decorators yang bekerja dibawah bendera Ganteng Unyu masih sibuk finishing dekorasi.
Begini suasanya. Kru Masflash yang sudah stand by di posisi masing-masing mulai menyetel lagu I'm Your Lady nya Celline Dion. Lampu-lampu utama mulai dinyalakan menyorot panggung pelaminan yang disitu masih terdapat beberapa kru dekorasi sedang finishing garapan mereka seperti menutup celah yang masih longgar, meluruskan bagian yang miring, menambah pernak-pernik dekorasi, dan juga clean up area. Sedangkan di area lain ada kru yang masih mengecat material dekorasi yang tampak lusuh. Penambahan material pada gazebo-gazebo, stall makanan, pokoknya semua sibuk dan gerakannya menjadi lebih cepat seperti video yang ditekan tombol Fast Forward nya. Bahkan sang owner Ganteng Unyu pun ikut turun tangan membenahi bagian detail-detail dan bunga di pointview dan VIP area.
Sementara di bagian lain para kru catering sibuk mondar-mandir mengusung alat-alat makan semacam piring, mangkuk, gelas, sendok, garpu, dan pisau. Suaranya ribut karena kebanyakan cewek dan sedikit cowok. Suara piring beradu semakin memeriahkan suasana. Begitupun juga gelas yang ditata di atas meja ikut-ikutan rame. Tak mau ketinggalan para sendok, garpu, dan pisau kadang menjatuhkan diri demi membuat panik orang-orang disekitar. Bau masakan mulai menusuk hidung. Kru dekorasi yang sedang menggarap food stall biasanya langsung jadi lapar.
Semua kru akan menjadi lebih cepat kerjanya ketika para tamu undangan sudah mulai masuk ke dalam gedung. Dandanannya rapih. Aromanya wangi. Senyum sana senyum sini. Kadang ada juga yang selfie-selfie di area photobooth atau bagian dekorasi lain yang menurut mereka bagus untuk berfoto sendiri, berdua, atau rame-rame. Suka heboh sendiri mereka itu. Tapi, tamu memang harus disenangkan. Ada juga beberapa tamu yang harusnya disenangi, yaitu tamu yang enak dipandang mata.
Kru EO tak kalah sibuknya, mereka sudah fokus pada tugas mereka masing-masing. Dengan berkomunikasi lewat HT. Jalan sambil bicara, duduk sambil bicara, berdiri sambil bicara, pipis di toilet pun jika memungkinkan sambil bicara. Berlarian mereka ada yang mengarahkan tamu menuju tempat duduk, ada yang membawa souvenir untuk ditaruh dimeja resepsionis, ada juga yang mengatur lain-lain.
Pemandangan yang lumayan santai bisa dijumpai di bagian resepsionis, ada backdrop yang berdiri tegak disertai material dekorasi yang ikut numpang mejeng bersama para Usher yang cantik-cantik dan suka menebar senyum yang kadang membuat kru dekorasi tidak fokus bekerja sehingga tangannya kena palu atau tertembak gun tacker. Tak jarang pula terjadi tabrakan antar kru ketika sedang saling sibuk berlari dan tidak sempat memperhatikan jalurnya. Selain itu ada juga kotak uang yang fungsinya selain untuk menaruh uang juga berfungsi sebagai penghalang rok mini usher yang duduk biar tidak diamat-amati dan dimata-matai para lelaki. Para usher ini masih sempat-sempatnya foto-foto, santai banget mereka, kecuali pas tamunya banyak. Mereka pasti sibuk. Hehe
Kru photography dan video juga ikut-ikutan sibuk memasang alat-alat mereka di sudut-sudut yang tepat untuk mengabadikan momen sakral tersebut. Tidak hujan tapi bawa payung. Bawa besi-besi. Bawa macem-macem alat deh pokoknya.
Lagunya Celline Dion yang masih terus berputar tanpa bisa menawar itu terkadang juga mengantar kru pada suasana menikmati makan nasi box dibelakang panggung dengan wajah mengantuk, badan lemas, serta obrolan ringan. Sebelum mereka beristirahat sejenak sementara acara berlangsung, untuk kemudian membongkar apa yang mereka pasang. Ya, berjam-jam bahkan kadang berhari-hari mereka memasang dekorasi, hanya akan dipakai selama tiga jam, kemudian dilepas lagi.
Lagu dari mbak Celline Dion itu akrab ditelinga kru The Tampan Decorators dan akan selalu ada didalam pengalaman hidup mereka.
Jumat, 11 Agustus 2017
Selasa, 25 Juli 2017
HANYA KALENG KOSONG DAN BENANG PANJANG
Sorenya sedang hujan. Hujannya sedang di Jogja. Jogjanya menjadi dingin agar cukup romantis untuk meresapi suasana sore. Dari sebuah kamar seorang cowok terlantun sebuah lagu.
Forever and one
I will miss you
However i kiss you yet again
Way down in neverland..
Ya, itu lagu dari band Helloween. Cowok yang ada dikamar itu bernama Zen. Yang sedang rindu kepada seseorang di Bandung.
***
Sementara di Bandung juga sedang hujan. Seolah-olah ingin sama dengan Jogja yang sedang hujan. Dalam derasnya bunyi hujan terdengar lagu.
I'll be there as soon as i can
But i'm busy mending broken
Pieces of the life i had before..
Itu lagu dari band Muse yang sedang didengar seorang cewek bernama Angelina. Yang dirindukan seseorang di Jogja.
***
"Hai, Jogja sore ini terbuat dari air hujan.. sedikit angin.. suara pesawat.. dan aku yang sedang rindu.." tulis Zen dalam SMS.
"Rindu kepada siapa?" balas Angelina.
"Bala-bala.. roti bakar bandung.. peuyeum bandung.. dan kamu, Angelina.." Zen membalas.
"Hmmm.."
"Terbuat dari apa Bandungmu sore ini?" Zen bertanya lewat SMS.
"Bandung sore ini terbuat dari air hujan yang menari dengan riang gembira, seolah tidak tahu ada aku yang sedang sedih," jawab Angelina.
"Sedih karena apa?" tanya Zen.
"Karena kamu egois.." Angelina menjawab.
"Aku egois? Dalam hal apa?" Zen bertanya sambil bingung.
"Rindu.. rindunya kamu ambil semua, kamu nikmati sendiri.. padahal aku juga ingin rindu.. ingin merindukanmu.." jawab Angelina.
"Yang aku rasakan.. rindu itu berat.. aku takut jika kamu tidak kuat memikulnya.." kata Zen.
"Aku pun khawatir jika kamu terus yang memikul rindu itu, nanti kamu sakit.. bagilah rindunya.. aku separuh dan kamu separuh.. agar bisa aku merasakan rindu.. aku yakin kuat memikulnya.." kata Angelina.
"Baiklah.." Zen berkata dalam SMS.
"Terimakasih sudah boleh rindu kepadamu.." balas Angelina.
"Sama-sama.. dan jagalah rindu itu sampai kita bisa bertemu.."
"Kapan?" Angelina bertanya.
"Jika Allah menghendaki kapanpun waktunya.." jawab Zen.
"Baiklah.."
Dari kamar Zen dan Angelina terdengar alunan lagu dari Blink-182 yang berjudul "I Miss You"
***
Sejak awal mereka berkenalan hingga beberapa tahun lamanya. Mereka belum pernah bertemu sekalipun. Mereka hanya berhubungan lewat telepon, SMS, dan facebook.
Untuk bertemu pun sulit. Zen yang bekerja disebuah Wedding Organizer di Jogja punya hari libur Senin karena weekend selalu ada event. Sedangkan Angelina yang mahasiswi disuatu universitas di daerah Jatinangor pun tidak bisa bertemu jika hari-hari biasa.
Waktu yang harus ditempuh ketika ingin bertemu adalah delapan jam perjalanan naik kereta ekonomi. Jadwal keberangkatan kereta sesudah maghrib, sampai di stasiun tujuan dinihari. Melewati hutan, gunung, lembah, sungai yang mengalir indah ke samudera, sepuluh pom bensin, sembilan puluh dua kos-kosan, dan enam belas cabe-cabean.
***
Rindunya masih berlanjut. Selama nadi dan jantung masih berdenyut.
"Akan sia-siakah rinduku padamu?" Zen mengirim pesan kepada Angelina.
"Apa maksudmu?" balas Angelina.
"Siapa cowok yang selalu ada di fotomu itu?" tanya Zen.
"Dia hanya teman.." jawab Angelina.
"Aku cemburu.."
"Hahaha, akhirnya aku berhasil membuat kamu cemburu,"
"Kenapa senang?" tanya Zen heran.
"Tandanya kamu memperhatikan aku, dan cemburu adalah tanda cinta.." jawab Angelina.
"Tapi, Angelina.. sebagai cowok, aku tahu apa yang ada di pikiran temanmu itu.."
"Apa?"
"Tak usah dibahas lagi.."
"Lalu, apakah kamu akan berhenti merindukan aku?" tanya Angelina.
"Terpikir itu saat aku kecewa olehmu.. tetapi itu tak mungkin.."
"Kenapa tak mungkin?"
"Karena aku yakin bahwa berhenti merindukanmu akan lebih berat rasanya.." tegas Zen.
"Hehehe," Angelina tersipu.
Begitulah hari-hari yang dilalui Zen dan Angelina. Hari-hari yang penuh rasa rindu. Rindu yang menyesakkan dada, memberati pundak, serta membuat insomnia. Jarak yang jauh dan tak pernah ada disisi. Kadang cemburu dan curiga. Yang mereka bisa hanya jaga mata dan jaga hati. Yang mereka punya hanya saling percaya. Jogja dan Bandung kembali diguyur hujan. Biar melarutkan rindu yang ada di awan menjadi air. Biar mengalir dan bertemu di Samudera Hindia.
***
"Angelina.." Zen menyapa Angelina lewat telepon.
"Iya a'.." jawab Angelina.
"Apa kabar hari ini?"
"Baik, kamu?"
"Aku selalu baik.. Kamu sedang apa?"
"Sedang menikmati keindahan bulan di balkon.. kamu sendiri sedang apa?"
"Menatap bulan yang sedang kamu pandangi.. biar terlihat rindu yang ada.."
"Hehehe, kamu bisa aja.."
"Angelina pernah dengar cerita tentang Kerajaan Majapahit dan Pasundan?" Zen bertanya.
"Belum, tentang apa itu?" Angelina balik bertanya.
"Tentang perang bubat.. yang menyebabkan pria Jawa tidak boleh menikahi wanita Sunda.."
"Bagaimana ceritanya?" Angelina penasaran.
"Ceritanya panjang.. dan tugasku didunia bukan untuk bercerita padamu, hehe," jawab Zen kalem.
"Lalu apa tugasmu di dunia?"
"Merindukanmu.."
"Apa lagi?"
"Mencintaimu.."
"Terus?"
"Membuatmu senang.."
"Hehehe.."
"Banyak orang bilang, pria Jawa tidak boleh menikahi wanita Sunda karena leluhur orang Jawa adalah orang Sunda.. dan wanita Sunda hanya bisa dandan sama jajan.. usia pernikahan tidak akan lama, bisa berakhir dengan perceraian.." kata Zen.
"Pasti kamu juga dengar tentang persepsi orang-orang bahwa wanita sunda itu pemalas dan matre.. iya kan?"
"Iya.." jawab Zen lirih.
"Tidak semua begitu a'.. semua tergantung pribadi masing-masing.. dan tentang mitos itu tidak benar," jelas Angelina.
"Iya, Angelina, aku tahu.."
"Kamu jangan menghilang dari aku.."
"Siap!"
"Kamu jangan percaya mitos itu lagi.."
"Semua ini gara-gara ulah patih Gajah Mada yang arogan ingin menaklukkan Kerajaan Sunda.. kedatangan Maharaja Linggabuana dan putrinya Dyah Pitaloka serta rombongan ke Majapahit untuk acara pernikahan putrinya itu dengan Raja Hayam Wuruk malah berakhir dengan pertempuran yang menewaskan seluruh rombongan kerajaan Sunda ditangan Patih Gajah Mada dan pasukannya.."
"Serem a'.."
"Itulah awal diberlakukannya larangan Estri Ti Luaran oleh keturunan Prabu Wangi atau Linggabuana.."
"Oo.."
"Dan kamu harus tahu, betapa bencinya kerajaan Sunda kepada Gajah Mada sehingga di Bandung tidak ada nama Jalan Gajah Mada.."
"Tapi kalau jalan Gajah ada, hehe.."
"Jalan Badak juga.."
"Jalan Tapir.."
"Jalan Komodo, haha.."
"Jalan kehatimu ada nggak?"
"Ada.."
"Tidurlah, sudah malam.. disitu pasti dingin, berselimutlah.."
"Iya sayang.."
"Selalu rindu.."
***
Beberapa minggu kemudian Zen datang ke Bandung tanpa memberitahu kepada Angelina karena rencananya dia akan memberi kejutan. Dia membawa cincin emas untuk melamar Angelina. Sebagai bukti cinta dan sayang. Agar rindunya selama ini tidak sia-sia.
Zen baru saja menginjakkan kaki di Stasiun Kiara Condong. Ketika itu hujan rintik-rintik pukul tiga dinihari. Dia terpaksa tidur di area stasiun karena belum hafal daerah Bandung. Jadi belum berani berkeliaran ketika masih gelap. Apalagi ditambah hujan.
Zen terbangun ketika ada SMS masuk. Langsung dia lihat hape-nya. Dari Angelina.
"Hai, selamatkan pagi kepada Jogja.. aku sekarang ada di Jogja."
"Aku di Bandung." balas Zen singkat.
"Haaaah?!! Bandung?" Angelina kaget.
"Iya, kamu ngapain di Jogja?"
"Ada kegiatan dari kampus, sekalian mau memberi kejutan di hari ulang tahunmu.. Kamu sendiri ngapain di Bandung?"
"Sama, mau memberi kejutan padamu.. Eh, malah terkejut sendiri sekarang," jawab Zen.
"Besok aku pulang ke Bandung, tunggu aku.." kata Angelina lewat SMS.
"Tidak bisa, besok aku sudah harus masuk kerja lagi, nanti sore aku pulang naik kereta ke Jogja.."
"Emmm yasudah kalau begitu.."
"Iya, Tuhan belum menghendaki kita untuk bertemu.."
"Mungkin.. eh, selamat ulang tahun ya.. Semoga semua yang baik ada padamu.."
"Iya, terimakasih.."
"I miss you.." tulis Angelina.
"I miss you too.." balas Zen.
Rindu yang tak terobati. Karena obat dari rasa rindu adalah bila kedua insan yang saling merindui sudah bertemu. Walaupun kata Sujiwo Tedjo," puncak dari rasa rindu adalah ketika tidak saling memberi kabar, tetapi saling mendoakan."
Zen dan Angelina. Saling merindukan dan belum saling bertemu. Hanya bisa menyapa lewat tulisan dan suara. Hanya ada kaleng kosong dan benang panjang yang selalu setia menampung dan menyalurkan rasa rindu mereka.
SELESAI
Rabu, 19 Juli 2017
BELAJAR BAHASA SUNDA
KAMUS INDONESIA -SUNDA
A
Abu = Kekebul
Abu Rokok = Calacah
Ada = Aya
Adalah = Nyaeta
Adik = Rai, Adi, Pun Adi
Air = Cai
Ajar = Wuruk, Atik ;
Belajar = Diajar ;
Ajaran = Wurukan, Atikan
Akan = Bade, Arek
Akan = Bakal
Alis = Halis
Alis = Halis = Kening
Anak = Budak, Murangkalih
Anak Adik = Suan
Anak Kakak = Alo
Anak Kecil = Budak Leutik, Murangkalih
Aneh = Aheng
Angsa = Soang
An-jing = Gogog
Apa = Naon ;
Mau Apa = Bade Naon, Erek Naon
Api = Seuneu
Asam = Haseum, Asem (Benda)
Asin = Asin
Asin Sekali = Molelel
Atas = Luhur
Ayam = Hayam
B
Ba-bi hutan = Bagong
Badan = Awak, Waragad
Bagian = Bagean
Bagus = Sae, Alus
Bahagia = bagja
Bahu = Taraju, Pundak, Taktak
Baju = Raksukan, Anggoan, Acuk
Ballpoin = Pulpen
Bambu = Awi/Haur
Bangun Tidur = Gugah, Hudang (bahasa kasar)
Bantu = Bantos ;
Bantuan = Bantosan ;
Membantu = Ngabantos, Ngabantuan
Bapak = Pun Bapa, Tuang Rama
Baru = anyar
Barusan = Nembe, Bieu, Karek Bieu
Batas = Wates
Batu = Batu
Batu Kapur = Apu
Bawah = Handap
Bayangan = Sawangan
Bayang-bayang = Kalangkang
Bayi = Orok
Bebek = Entog
Begitukah = Baruk
Bekas = Tilas, Urut
Belakang = Pengker, Tukang
Belalang = Simeut
Belalang Sembah = Congcorang
Benar = Leres, Bener
Beol = E'e', Miceun, Modol
Berangkat = Mios, Angkat, Indit
Berapa = Sabaraha
Berapi-api = Nyeuneu
Berasal dari mana = Kawit timana / kawit timanten
Berbinar-binar (mata) = Cureuleuk
Berdasarkan = Dumasar
Bergembira = galumbira
Bergoyang = Ngageol, Ngagitek
Berkaitan = Patali
Berkelahi = Gelut
Berkilau = Mencrang
Besar = Ageung, Gede, Badag
Besi = Beusi
Besok = Enjing, Isuk Besok
Lusa = Pageto
Betet = Ekek
Betis = Bitis, Wetis
Bibir = Lambey, Biwir
Bidang = Widang
Bilangan = Wilangan
Bintang = Bentang
Biru = Bulao
Bisa = Tiasa
Bisa kenalan gak = Tiasa wanoh teu
Bodoh = Bodo, Boloho
Bra = Kutang, Beha
Buka = Muka
Bukan = Sanes, Lain
Bukit = Gugunungan
Bulan = Sasih (Almanak), Bulan
Bulan Sabit = Bulan Sapasi
Bumi = Dunya
Burung = Manuk
Burung Hantu = Bueuk
C
Cabang = Cagak
Cabe = Cabe
Capung = Papatong
Cari = Teang, Pilari, Neang ;
Mencari = Milari, Neangan
Celana = Lancingan, Calana
Celurit = Arit
Cicak = Cak cak
Coba = Cobi ;
Mencoba = Nyobian, Nyobaan, Ngajaran
Cobek = Coet
Cubit = Ciwit
Cuci = Wasuh, Ngumbah
Cuci Baju = Nyeuseuh
Cuci Piring = Kukumbah Piring
Cukup = Cekap
Cuma/Saja = Mung, Ngan
D
Dada = Dada, Payun
Dagu = Gado, Angkeut
Dahaga = hanaang
Dahi = Taar, Tarang
Danau = Situ
Dari = Ti
Dari Tadi = Titadi
Darimana = Kawit, Timanten
Datang = Dongkap, Sumping, Mulang, Balik (bahasa kasar)
Dekat = Caket, Deukeut
Delapan = Dalapan
Dengan = Sareng, Eujeung
Depan = Payun, Hareup
Desa = Lembur
Dia = Manehna
Dikesampingkan = Disingkahkeun
Dingin = Tiis (benda), Tiris (suhu)
Dompet = Loket
Dua = Dua
Dua Belas = Dua Belas
Dua Puluh Lima = Salawe
Duda = Duda
Dulu = Heubeul ;
Dahulu = Baheula
Dunia = Dunya
E
Elang = Heulang
Elus = Usap
Empat = Opat
Enam = Genep
G
Gabung = Rampak
Gadis = Parawan
Garam = Uyah
Garuda = Dadali
Garuk = Garo
Gatal = Ateul
Geli = Getek
Gelitik = Eleketek
Gembira = Gumbira
Gemuk = Bayuhyuh
Gerah = Hareudang, Kareunang
Gergaji = Ragaji
Gerobak = Gorobak
Gigi = Waos, Huntu
Gila = Gelo, Teu Eucreug
Golok = Bedog
Gula = Gula
H
Habis = Seep, Beak ;
Menghabiskan = Nyeepkeun, Meakeun
Hangat = Haneut
Hari = Dinten, Poe
Harimau = Maung
Hebat = Edun
Hewan = Sasatoan
Hidung = Pangambung, Irung
Hijau = Hejo
Hisap = Seuseup
Hitam = Hideung
Hitam Legam = Hideung Lestreng
Huruf = Aksara
Hutan = Leuweung
Hutan Gundul = Leuweung Carengcang
Hutan Rimba = Leuweung Geledegan
I
Ibu = Pun Biang, Indung
Ibu Jari = Jempol
Ijin = Widi ;
Diijinkan = Diwidian
Ikan = Lauk
Ilmu = Elmu
Ingat = emut/inget
Ingin = Hoyong, Palay, Hayang
Ingkar Janji = Jangji Sulaya
Istri = Garwa,Pun Bojo, Pamajikan
Itik = Meri
Itu-itu juga = Eta-eta keneh
Iya = Muhun, Sumuhun
J
Jadi = Janten ;
Sedang Terjadi = Lumangsung
Jahil = Jail
Jahit = Kaput ;
Menjahit = Ngaput
Jalan (benda) = Galur
Jalan (kerja) = Papah, Leumpang
Jam Berapa = Tabuh Sabaraha
Jam berapa sekarang = Tabuh sabaraha ayeuna
Janda = Randa
Janda Kembang = Randa Bengsrat
Janji = Jangji
Jari = Ramo
Jari Manis = Jarhiji
Jari Telunjuk = Curuk
Jari Tengah = Panengah
Jauh = Tebih
Jelas = Eces ;
Menjelaskan = Ngaceskeun
Jelek = Awon, Butut
Jemari = Ramo, Reuma
Jendela = Jandela
Jengkel = Keuheul
Jepit = Capit
Jidat = Tarang, Taar
Jijik = Geuleuh
Jilat = Letak, Lamot
Jitak = Teke
Jurang = Gawir
K
Kabarnya gimana baik = Kumaha damang
Kaget = Soak, Reuwas
Kain = Layon, Kaen
Kakak = Raka, Lanceuk, Pun Lanceuk
Kakak Ipar = Dahuan
Kakek = Aki
Kaki = Sampean, Suku
Kalah = Kawon, Eleh, Keok
Kalian = Aranjeun, Maraneh
Kambing = Embe
Kami/Kita = Urang
Kamu = Anjeun, Hidep, Maneh (bahasa kasar)
Kanan = Katuhu
Kandang = Kurung
Kapan = Iraha
Karet Penghapus = Panghapus
Kasian = Karunya, Deudeuh Katak/
Kodok = Bangkong
Kawin = Nikah
Kayak/Seperti = Siga
Kayaknya = Sigana
Kayu = Kai
Kebahagiaan = kabagjaan
Kecil = Alit, Leutik
Kecoa = Cucunguk
Kelakar = Ngabodor
Kelingking = Cingir
Keluarga = Kulawarga
Kemarin = Kamari
Kemarin Lusa = Mangkukna
Kemauan = Kahoyong, Kahayang
Kenyang = Wareg
Kepala = Mastaka, Hulu, Sirah
Keras = Teuas ;
Mengeras = Ngabagel, Neuasan
Kerbau = Munding
Keringat = Kesang
Kerja = Damel, Gawe ;
Pekerjaan = Padamelan, Pagawean
Kertas = Keretas
Kesana = Kaditu
Kesini = Kadieu
Ketek = Kelek, Ingkab
Ketel = Katel
Ketika/Saat = Basa, Waktos
Kira-kira = Kinten-kinten
Kiri = Kenca
Kolam Ikan = Balong
Kolam Lumpur = Leuwi
Kota = Dayeuh
Kota Pinggiran = Pasisian
Kucing = Ucing
Kuku = Kuku, Tanggay
Kumis = Kumis, Rumbah
Kuning = Koneng
Kunyit = Koneng
Kupu kupu = Kukupu
Kura-kura = Kuya
Kurang = Kirang
Kursi = Korsi
Kurus = Peot
Kutilang = Cangkurileung
Kutu busuk = Tumbila
L
Lagu = Tembang, Kawih, Langgam
Lain = Sanes, Sejen
Lainnya = Sejena
Lalat = Laleur
Lama = Heubeul (barang), Lami, Lila
Lapang = Tegal
Lapangan = Tegalan
Lapar = lapar
Lari = Lumpat
Layang-layang = Langlayangan
Lebih = Langkung, Leuwih ;
Melebihi = Alabatan
Leher = Tengek, Beuheung
Lemah = Leuleus
Lemari = Lomari, Almari
Lempar = Baledog
Lidah = Letah
Lihat = Ningal , Tempo ;
Kelihatan = Katembong
Lima = Lima
Luas = Lega
Lucu = Pikaseuriuen
Lumpur = Leutak
Lupa = Hilap
Lutut = Tuur
Lutut = Tuur = Dengkul
M
Maaf = Hapunten, Hampura
Main = Ameng, Ulin
Makan = Tuang (untuk orang lain) , Neda (untuk diri sendiri), Dahar (bahasa kasar)
Malam = Wengi / Peuting
Malas = Hoream
Mancung = Bangir
Mandi = Ibak, Mandi
Manis = Amis
Manis Sekali = Kareueut
Masa = Maenya, Piraku
Masalah = Perkawis, Mas alah
Masih ada = Aya Keneh
Mata = Soca, Panon
Mata Hari = Panon Poe
Mata kaki = Mumuncangan
Mau = Hoyong, Kersa
Mau makan dengan saya = Kersa tuang sareng abdi
Mau Menanyakan = Bade tumaros
Melamun = Ngimpleng, Ngalamun
Melarang = Nyaram, Nyarek
Membangun = Ngawangun
Membuka Rahasia = Ngabolekerkeun
Memutuskan = Mutuskeun
Menakut-nakuti = Nyingsieunan
Menang = Kenging, Meunang
Menantu = Minantu
Menanyakan = Naroskeun, Tumaros
Mencair = Le eh
Mengenai = Ngenaan
Mengenang = Mieling
Menggaruk = Gagaro, Ngagaro
Menggigil = Ngadegdeg, Ngahodhod
Menginap = Mondok
Mengingat = ngemut
Menjawab = Ngawaler
Menunggu = Ngantosan, Ngadagoan
Menyaksikan = Nyiksenan
Menyerupai = Mangrupakeun
Menyesal = Kaduhung
Merah = Beureum
Merasa = Rumaos, Ngarasa
Merayakan = Ngareah-reuah
Mereka = Maranehna
Merem = Peureum
Merinding = Muringkak
Merpati = Japati
Mertua = Mitoha
Merupakan = Mangrupa
Minum = Eueut, Nginum
Mo-nyet = Wanara
Muda = Anom, Ngora
Mudah = Gampil, Babari, Enteng, Gampang
Mungkin = Panginten, Meureun
N
Naik = Naek ;
Menaiki = Nerekel
Nama = Nami, Wasta, Ngaran
Namanya Siapa = Namina Saha
Nangis = Ceurik
Narik = Metot
Nenek = Nini
Ngantuk = Tunduh
Ngilu = Linu
Ngomong = Nyarios
Nyala = Hurung
Nyamuk = Reungit
Nyanyi = Ngalanggam, Ngawih
Nyapu = Sasapu
P
Padam = Pareum
Pagi = Enjing-enjing, Isuk-isuk
Pagi Buta = Janari
Paha = Pingping
Panas = Panas
Panjang = Panjang
Pantat = Imbit, Bujur
Parit = Solokan
Pasir = Keusik
Payudara = Susu, Pinarep
Pelangi = Layung
Peluk = Keukeup ;
Dipeluk = Dikeukeupan
Pematang Sawah = Galengan
Pemerintah = Pamarentah
Pemukul = Paneunggeul
Pendek = Beke, Pendek ( Ukuran tubuh )
Pendek = Pondok
Pengantin = Panganten
Penitih = Panitik
Pensil = Patlot
Penyakit = panyawat
Pepohonan = Tatangkalan
Peralatan = Parabot
Perasaan = Raraosan
Pergi = Angkat, Mios, Indit
Perjaka = Bujangan
Perkenalkan = Nepangkeun
Permisi = Punten
Perut = Patuangan, Beuteung
Pesek = Pegek
Piknik = Pelesir
Pinggang = Cangkeng, Angkeng
Pinggiran Rumah = Pipir
Pintar = Pinter
Pintu = Panto
Pipi = Damis, Pipi
Pipit = Piit
Pisau = Peso
Plastik = Palastik
Pohon = Tangkal
Polisi = Pulisi
Pria = Pameget, Lalaki
Pukul = Teunggeul
Pulang = Mulih, Uih, Balik
Punggung = Tonggong
Pusat = Puseur
Putih = Bodas
R
Rambut = Buuk
Rangkul = Tangkeup
Rawa = Ranca
Rawit = Cengek
Remaja = Wanoja, Rumaja
Rias = Dandan
Ribut = Pasea
Rindang = Hieum
Ruangan = Rohangan
Rumah = Rorompok,
Bumi, Imah
Ruwet = Rungsing
S S
ahabat = Sobat
Sahabat Dekat = Sobat Dalit
Sakit = nyeri, Kasakit ;
Penyakit = Panyakit
Salah = Lepat, Teu Leres
Sama = Sami, Sarua ;
Sesama = Papada
Sambal = Sambel
Sambat = Nyambat
Sambit = Sabet, Kadek
Sampah = Runtah
Sana = Ditu ;
Sebelah Sana = Palih Ditu
Sandal = Sendal
Sandal Jepit = Sendal Capit
Sandal ber-hak = Kelom
Sapu Ijuk = Sapu Injuk
Sapu Lidi = Nyere
Saring = Ayak
Saringan = Ayakan
Satu = Hiji
Satu Juta = Sajuta
Satu Ribu = Sarebu
Saudara = Baraya, Dulur
Saya = Abdi, Kuring, Urang, Uing, Aing
Sayang = nyaah
Sayap = Jangjang
Sebagian = Sapalih, Sawareh
Sebaliknya = Sabalikna
Sebelah = Sapalih, Sabeulah
Sebelahan = Gigireun
Sebelas = Sabelas, sawelas
Sebut = Nyebat ;
Menyebutkeun = Nyebatkeun
Sedang = Nuju
Sedang sakit = udur
Sedih = tunggara
Sehat = Walagri
Sekarang = Ayeuna
Selangkangan = Palangkakan
Selokan/Parit = Solokan
Semacam = Sarupaning
Semangat = Sumanget
Sembilan = Salapan
Sempit = Heureut
Semua = Sadaya, Kabeh
Semut = Sireum
Senang = bungah
Sepatu = Sapatu
Sepuluh = Sepuluh
Sepuluh Ribu = Sapuluh Rebu
Serak (suara) = Peura
Seratus = Saratu
Seratus Ribu = Saratus Rebu
Seribu = Sarebu
Siang = Siang, Beurang
Siapa = Saha
Silakan = Mangga
Silau = Serab
Singlet = Kaos Sangsang
Sini = Dieu ; Sebelah
Sini = Palih Dieu
Sisa = Sesa ;
Menyisakan = Nyesakeun
Sisi = Gigir
Sobek = Soweh, Sowek
Sore = Sonten
Suami = Caroge, Salaki
Sudah = Parantos, Atos, Enggeus
Sudah Lama tinggal di sini = Tos lami linggih di dieu
Sudah makan belom = Tos tuang teu acan
Sungai = Susukan
Susah = Sesah, Hese
T
Tadi = Tadi
Tahi Lalat = Karang
Takut = Sieun
Tampar = Cabok, Gampleng, Tampiling
Tanah = Taneuh
Tanah Lapang = Tegalan
Tanda = Tanda ;
Menandakan = Nandakeun
Tangan = Panangan, Leungeun
Tangga Bambu = Taraje
Tapian = Nyiru
Tau = Terang, Uninga, Nyaho
Tegel = Tehel
Teguh = Panceg
Telapak Tangan = Dampal Leungeun
Telat = Laat
Telinga = Cepil, Ceuli
Teman = Rerencangan, Babaturan
Temu = Pendak, manggih ;
Ketemu = Kapendak, Kapanggih
Tentang = Perkawis
Teras = Tepas
Terbaha-bahak = Nyakakak, Ngabarakatak
Terbaik = Nyongcolang
Tergoda = Kagoda
Teringat-ingat = Kasuat-suat
Terkam = Kerekeb, Gabrug
Terkena Petir = Kabentar Gelap
Termasuk = Kalebet, Kaasup
Tersengat Listrik = Kasetrum
Tersenyum = Imut
Tersesat = Kasasab
Tertawa = Seuri
Tiang = Tihang
Tidak = Henteu
Tidak Akan = Moal
Tidak Mau = Alim, Teu Hoyong, Embung
Tidak Tau = Duka, Teu Terang, Teuing
Tidur = Kulem, Bobo, Sare (bahasa kasar)
Tiga = Tilu
Tikus = Beurit
Tinggal dimana = Linggih dimana
Tinggalnya dimana = Linggih Timanten
Tinggi (Tempat ) = Luhur
Tinggi (Ukuran Tubuh) = Jangkung
Tiri = Tere
Tolong = Bantos, Tulung ;
Pertolongan = Bantosan, Pitulung
Topi = Kerepus, Topi
Tua = Sepuh, Kolot
Tujuh = Tujuh
Tusuk = Tojos
U
Uang = Artos, Duit
Uang Logam = Receh, Kencring
Uban = Huis, Salatu
Udel = Bujal
Ular = Oray
Ulat = Hileud
Ulekan = Mutu
Untuk (Kegunaan) = Paranti
Untuk = Pikeun, Kanggo, Jang
Urakan/Norak = Kampungan
Usia = Yuswa, Umur
W
Wajah = Raray, Beungeut
Wanita = Mojang, Istri, Awewe
Waria = Banci, Bencong
Warna = Kelir
Y
Ya = Muhun, Heueuh
Yang = Anu
Yang Dipakai = Anu Dianggo, Nu Dipake
Sabtu, 01 Juli 2017
HID. KENANGLAH AKU : UNTUK HID
Aku sudah membaca buku yang ditulis oleh Kaje. Buku yang berisi cerita dari Hid tentang awal perkenalannya dengan aku sampai akhir Desember dua ribu empat belas. Itu adalah enam bulan pertama kisah Hid. Kaje bilang padaku katanya dia ingin menuliskan bagian kedua tentang kisah Hid yang terjadi antara bulan januari sampai bulan September dua ribu lima belas. Tapi Kaje bilang lagi katanya sulit menemui Hid yang sekarang sibuk sekolah di Akademi Kebidanan Pemerintah Kabupaten kendal. Jadi dia memutuskan untuk menemui aku di Jogja dan meminta aku untuk bercerita tentang kisah kedua dari sudut pandangku, mungkin juga ada kisah yang tidak diceritakan oleh Hid pada buku pertama juga akan aku ceritakan sekarang.
Kaje bertemu denganku disebuah warung angkringan di area jalan Pasar Kembang dekat stasiun Tugu dan jalan Malioboro. Setelah menyeruput kopi hitam panasnya yang kental, dia mulai berbicara.
"Mas Zen, apakah anda bersedia menceritakan kisah tentang Hid?"
"Siap mas," jawabku.
"Nggak pakai malu-malu dulu nih mas? Kayaknya semangat banget, hehe.." kelakar Kaje.
"Soalnya aku sudah lama ingin menceritakan hal ini kepada banyak orang mas.." kataku.
"Kenapa?" Kaje bertanya.
"Iya, suatu kebanggaan bisa mempunyai kisah dengan Hid, dan sebagai pelengkap kisah yang sudah diceritakannya pada buku yang pertama.." jelasku.
"Oo.. Apa ada motivasi lain, selain itu?" tanya Kaje lagi.
"Iya, ada," jawabku.
"Apa itu?"
"Jika aku punya anak nanti, bisa dibaca, ayahnya dulu pernah punya kisah unik dengan gadis tercantik di kampung, walaupun tidak pernah jadi pacar.."
"Ah hahaha.."
"Selain itu, lewat tulisan dari mas Kaje dibuku ini aku juga ingin mengatakan sesuatu kepada Hid, yang belum sempat aku katakan kepadanya," terangku lagi.
"Siap mas bro!"
***
Aku mengirimkan kisahku dengan Hid lewat email kepada Kaje. Tidak aku lakukan setiap hari. Kadang jika ada waktu senggang untuk menulis dan sedang ingin menulis. Biasanya malam hari setelah bekerja atau pagi hari setelah subuh.
Lewat tulisan ini, aku ingin Hid mengerti tentang apa yang aku rasakan selama tidak pernah bertemu dan berkomunikasi lagi. Aku juga ingin meluruskan bahwa aku dan Hid tidak pernah menjadi pacar. Jadi, bagi pembaca yang pernah membaca buku pertama, jangan salah paham ya.
Untuk Hid, bacalah buku ini. Dari awal sampai akhir, yang melengkapi kisahmu tentang aku. Bacalah! Bacalah! Hid. Sekarang giliran aku yang bercerita. Mungkin jika aku mati nanti tidak meninggalkan apa-apa, minimal aku meninggalkan kisah terindah bagiku. Walau mungkin bagimu tidak. Hehe.
Untukmu, Hid
Dariku, Zen
Senin, 12 Juni 2017
HID. KENANGLAH AKU : AKU
Aku sudah membaca buku yang ditulis Kaje, tentang kisah Hid yang bercerita tentang aku. Aku pun sudah bertemu langsung dengan Kaje di Jogja. Saat itu aku bertemu dengan Kaje untuk membahas tentang balasan cerita dari Hid, yang diceritakan melalui sudut pandangku. Oh iya, sampai sekarang aku tidak berani menemui ataupun menghubungi Hid sejak akhir lebaran tahun dua ribu lima belas. Karena aku tidak mau mengganggu hubungannya dengan pacarnya serta kuliahnya di Akademi Kebidanan. Biar dia tenang dan senang. Demi itu, aku pun meninggalkan Pekalongan menuju Jogja. Karena aku pernah membaca sebuah tulisan, "Jika kamu patah hati dan butuh ketenangan, datanglah ke Jogja."
Sebelum bercerita tentang Hid, aku akan memperkenalkan diriku dulu. Aku Zen. Tidak usah dengan nama lengkap biar kalian gampang menyebutnya. Aku bukan Zen Malik yang pernah gabung dengan boyband One Direction. Aku tumbuh dalam keluarga sederhana yang berisikan enam anggota keluarga, ada Ayah, Ibu, Kakak Laki-laki, Kakak Perempuan, Aku, dan Adik Laki-laki. Aku lahir di Daerah Istimewa Mlokolegi, di lingkungan pemukiman keluarga Mbah Darnyo, kakekku. Dimana disitu berkumpul rumah induk dan anak-anaknya. Dulu rumah induk, yaitu tempat yang ditinggali almarhum Mbah Darnyo dan almarhumah Mbah Suryi serta anak bungsunya yang aku sebut Lik Nah (nama aslinya Casonah, dan Lik itu artinya sama dengan Bulik/Bulek/Tante), ada dibelakang rumah almarhumah Mak Uwo Taryi (Mak Uwo artinya Mak Dhe/Budhe/Bibi). Lalu disebelah kiri atau sebelah timur rumah induk ada rumah Om Akrom, sedangkan rumah orang tuaku ada di samping kiri atau sebelah selatan rumah almarhum Mak Uwo Taryi, kemudian dikanan atau sebelah utara ada rumah Mak Uwo Kus. Dulu masih ada lahan luas yang membentang dari depan rumah Mak Uwo Kus sampai depan rumah orang tuaku. Tempat orang-orang bermain Bulutangkis dan juga anak-anak bermain Sepakbola serta permainan tradisional semacam galasin (ditempat kami menyebutnya sin), seketeng, petak umpet, lompat tali, kasti, dan sebagainya. Ah, aku jadi ingin kembali ke masa kanak-kanak.
Sekarang, ada perubahan penghuni dan bangunan. Ya, rumah induk sekarang ditinggali oleh Om Noto dan istrinya yang disebut Bulek Wati serta anak-anaknya yaitu Umam, Firda, dan Riz. Rumah yang dulu terbuat dari pagar bambu sudah dipugar menjadi bangunan modern. Rumah Om Akrom masih tetap ada disampingnya dan juga terus mengalami pemugaran sedikit demi sedikit, ada Bulek Sri sebagai istrinya, kemudian ada juga anak-anaknya yaitu Iwit, Sigit, Ana, dan Nisa. Rumah Mak Uwo Kus masih utuh, hanya menambah warung makanan yang sekarang tidak digunakan lagi. Penghuni rumahnya banyak yang pindah karena menikah, contohnya Mbak Win, Mbak Mur, dan Rini yang ikut suami masing-masing. Yang masih disitu adalah Pak Uwo Kuat sebagai kepala keluarga, Mak Uwo Kus, Hermi, Sodik (menantu), Cicik, Oliv, dan Lala (cucu). Rumah orang tuaku juga mengalami perombakan besar-besaran. Bangunan awal sudah tidak terlihat jejaknya, sudah tertutup rumah Mbak Nit yang ditinggali bersama Mas Parjo (suami), dan anak-anaknya yaitu Ayu dan Bagus (lebih terkenal dengan sebutan Obes). Rumah orangtuaku menyambung dibelakang rumah Mbak Nit, sekarang hanya ada Azis adikku, dan Ibuku. Aku jarang pulang. Mas Herman sudah membuat rumah bersama istri dan anak-anaknya ditempat lain. Dan Ayahku sudah meninggal dunia. Rumah model Joglo yang ditengah milik almarhumah Mak Uwo Taryi masih tetap berdiri, tetapi sudah tersentuh perubahan pada tiang penyangga atap depan. Pohon Jambu dan Belimbing ditebang demi pembuatan lapangan bulutangkis yang baru. Rumah itu hanya ditinggali Mbak Novi (Dhe Opi) dan suaminya yaitu Mas Wito (Dhe Wito) serta ayahnya yaitu Pak Uwo Tarman. Ada tambahan bangunan yang sebenarnya milik Mas Dar, tapi belum ditempati hingga sekarang.
Ada dua bangunan baru ditempat yang dulunya adalah kebon. Sekarang telah berdiri rumah milik Mas Wahyudin yang ditinggali bersama Mbak Mur sebagai istri, serta anak-anaknya yaitu Dziki dan Irfan. Rumah itu dulunya ketika masih dalam bentuk fondasi adalah milik orang tuanya Hid, tetapi tidak jadi dibangun karena mereka lebih memilih pindah ke rumah yang dulu pernah diceritakan oleh Hid, yang ada didekat jalan raya. Seandainya orang tua Hid jadi membangun rumah ditempat yang sekarang sudah ditinggali Mbak Mur pasti akan terjadi kisah lain.
Bangunan kedua, letaknya ada disebelah timur atau sebelah kiri bangunan tadi, ditempati oleh Wawan dan Siti serta anak-anaknya. Kalian harus tahu bahwa Wawan dan Siti adalah Oom dan Tantenya Hid. Ya, adik dari ibu Rumiyati. Anak dari Mbah Waisah. Makanya kadang aku tidak sengaja melihat Hid lewat di gang samping rumahku ketika ada urusan kerumah Buleknya itu.
***
Wah, ceritaku jadi melebar dan panjang sekali. Padahal aku belum sempat menceritakan tentang aku sendiri. Malah sepertinya aku bercerita tentang keluarga besar Mbah Darnyo. Kalau begitu aku mulai saja cerita tentang aku. Bagi pembaca yang ingin tahu silakan dibaca. Bagi yang tidak ingin tahu, lewati saja.
MASA TK
Dulu aku pernah masuk Taman Kanak-kanak yang bernama TK ARUM MANIS, tempatnya masih ada sampai sekarang. Ketika di TK, aku berangkat ditemani dan ditunggui ibuku. Tidak banyak yang aku ingat, hanya dulu tempat duduk yang sebenarnya hanya muat untuk duduk dua orang itu kami duduki berempat, Aku, Wimpok, Sigun, dan Tiyo. Mereka adalah teman sekolah sekaligus tetanggaku dan juga teman bermain dirumah.
Setelah TK selesai, aku tidak langsung masuk SD, katanya belum cukup usia, padahal aku sudah bisa baca, tulis, dan berhitung. Yasudah, aku dibawa orang tuaku merantau di Lampung, berjualan tempe. Dan menyebabkan aku punya banyak teman disana.
MASA SD
Aku pun masuk SD, yaitu SD Negeri 1 Bulakpelem. Yang lokasinya berada di depan Balai Desa Bulakpelem. Teman seangkatanku yang dulu di TK menjadi kakak kelasku. Sehingga aku jarang bermain dengan mereka kecuali kalau malam dikampung. Jam sekolahnya pun berbeda. Kelas 1, 5, dan 6 masuk jam 7 pagi. Lalu kelas 2 masuk jam 9 pagi, pulangnya jam 12 siang. Sedangkan kelas 3 dan 4 masuk jam 12 siang, pulang jam 4 sore.
Hal itu membuat aku berangkat sekolah ikut bareng murid kelas 6 karena aku tidak berani berangkat ke sekolah sendiri. Aku ingat, ada tiga orang yang dulu sering berangkat dengan aku yaitu Mas Sub, Mas Kisyono, dan Mas Lani. Mereka baik-baik, kadang pas istirahat diajak jajan ke warung Mak Mus. Minum wedhang teh manis dan makan gorengan ditraktir. Dulu warung Mak Mus ada didalam lingkungan Balai Desa. Sekarang sudah pindah didepan TK ARUM MANIS.
Sebenarnya banyak sekali kisah waktu SD. Tapi ini bukan buku biografi. Jadi sepenggal-sepenggal saja kisahnya.
MASA SMP
Aku sekolah di SMP Negeri 1 Sragi dan mulai mengenal teman-teman dari desa lain. Saat aku ingat SMP, maka hal pertama yang keluar adalah Ayu Ghani Ramadhan. Siswi cantik yang kulitnya putih, yang rambutnya lurus, matanya dua, pakai seragam putih-biru naik sepeda gunung merek GENIO, yang asalnya dari Sragen. Aku sempat membuat buku fiktif dengan tokoh utama Ayu Ghani dan Suptop pada masa SMP, ditulis tangan dengan lembaran-lembaran kertas yang dipotong-potong sesuai ukuran novel. Dan temanku yang paling semangat dalam mengumpulkan kertas adalah Yudha, yang sampai lulus SMA masih sempat main band bareng. Dirumah Yudha lah aku dan teman-teman belajar main gitar dan membicarakan tentang cewek-cewek disekolah.
MASA SMA
Aku tidak langsung melanjutkan ke SMA waktu itu karena takut pelajaran Matematika. Jadi aku ikut orang tuaku lagi di Lampung satu tahun, kali ini berjualan keripik tempe. Barulah kemudian pada tahun dua ribu lima aku masuk SMA Negeri 1 Sragi. Teman seangkatan di SMP jadi kakak kelas, termasuk Yudha. Keuntungannya, aku jadi kenal dua angkatan.
Aku sempat membentuk grup band bernama GREEN TEA bersama Yudha, Ovi, dan Norman. Yang sering menampilkan lagu-lagu dari GREEN DAY.
Masa putih abu-abu aku anggap sebagai masa yang paling berwarna dan mungkin tak terlupakan.
***
Begitulah sedikit cerita tentang aku. Berikutnya aku akan mulai menceritakan tentang Hid, dari awal kenalan sampai kemudian aku pergi. Semua aku coba ceritakan hingga jelas. Biar kalian tahu. Biar Hid juga tahu.
Jumat, 19 Mei 2017
THE TAMPAN DECORATORS : TIPS AND TRICK
I. PERALATAN
I.I. PERALATAN PRODUKSI
- Cutter
- Alat tulis
- Gergaji tripleks, besi
- Ampelas
- Kuas
- Penggaris/meteran
- Lakban kertas
I.II. PERALATAN OPERASIONAL
- Catut/tang/tang potong
- Palu
- Cutter
- Gun Tacker
- Gergaji kayu
- Jarum
- Lakban hitam/bening/kertas
- Obeng
- Bor
- Tali, tambang, senar
- Scafolding
- Tangga
II. PERLENGKAPAN PRODUKSI DAN OPERASIONAL
- Tusuk gigi/sate
- Lem gabus/putih/kuning
- Paku
- Isi staples
- Cat kayu/besi/tembok
- Isi cutter
- Glitter
- Kawat putih/hitam
- Rafiah
- Tas kecil
TIPS
- Saat bekerja, usahakan memakai kaos yang menyerap keringat
- Sedia sepatu untuk bekerja, selain sebagai pelindung kaki sepatu juga kadang menjadi satu keharusan saat mendekor di hotel
- Gunakan pelindung kepala, terutama saat bekerja di outdoor siang hari
- Gunakan tas kecil untuk membawa alat dan kelengkapan
- Selalu sedia minuman
- Jangan lupa istirahat dan beribadah
TRIK
- Usahakan menyelesaikan pekerjaan yang sulit dilakukan pada posisi vertikal dilantai sebelum dipasang, jangan dipasang tegak dulu lalu dikerjakan. Trik ini cukup menghemat waktu dan tenaga.
- Untuk pemasangan kain yang harus menggunakan gun tacker, tembakkan gun tacker separuh saja yang penting kuat. Tujuannya agar mudah saat melepasnya lagi. Selain itu bisa juga didasari dengan wristband sebelum ditembak dengan gun tacker.
- Ketika Lakban lebih cepat daripada Paku. Gunakan trik ini untuk mempermudah pemasangan bahan styrofoam yang dipadukan dengan material semacam besi dan kayu. Trik ini cukup cepat dalam pemasangan maupun pembongkaran, tetapi hanya boleh dilakukan pada dekorasi indoor dan material pointview atau photobooth.
- Pemasangan letter one by one perlu bantuan garis yang dibuat menggunakan senar pancing.
- Ingat, memasang dekorasi bukanlah membangun rumah secara permanen. Jadi, selalu tanamkan pemikiran "kita memasang untuk dibongkar", usahakan efisien dalam pemasangan dan pembongkaran.
THE TAMPAN DECORATORS : MARS THE TAMPAN DECORATORS
Kami kru Tampan Dekorator
Bersiap untuk kerja
Kerja di outdoor ataupun indoor
Jayalah kru Tampan Dekorator
Siang malam tetap bekerja
Kadang berhari-hari
Demi uang dan makan nasi
Tetap bekerjalah
Kami kru Tampan Dekorator
Bersiap untuk kerja
Selalu membawa catut dan cutter
Jayalah kru Tampan Dekorator
Kami kru Tampan Dekorator
Bersiap untuk kerja
Senangkan klien senanglah si Bos
Bayar tinggi Tampan Dekorator
Rabu, 10 Mei 2017
THE TAMPAN DECORATORS : JOGJA - PAPUA - JOGJA
Ada kabar, di grup WA GU WO (WhatsApp Ganteng Unyu Wedding Organizer) bahwa mereka dapat order untuk mengerjakan dekorasi pernikahan di kota Sorong, Papua Barat. Bagi kru yang berminat, dipersilakan untuk mendaftar, tapi terbatas hanya delapan personel saja. Maka pagi itu di bulan Desember, kru digudang ramai membicarakan hal tersebut. Tanggapannya beraneka ragam, ada yang berani, ada yang takut karena jauh, takut mabuk laut, takut naik pesawat, takut orang Papua, takut bayarannya tidak cocok, dan ada pula yang berani tapi bimbang.
Adalah Mas Ratno, kru yang pertama mendaftar selain Pak Tomo yang sudah tentu ikut karena dia Supervisornya, walaupun usianya sudah menunjukkan angka 48, tapi untuk masalah semangat, nggak kalah sama anak muda. Mas Ratno sudah berpengalaman di bidang dekorasi dan kru panggung, sudah hampir seluruh pulau Jawa dan sekitarnya pernah ia jelajahi.
Kru lain belum ada yang berani mendaftar hingga bulan telah memasuki pertengahan Januari. Menurut kabar, Widhi tadinya ikut mendaftar tapi kemudian mengundurkan diri karena kemungkinan istrinya melahirkan pada bulan menjelang keberangkatan ke Sorong.
Menjelang akhir bulan Januari, barulah kru yang terdaftar menjadi delapan orang, yaitu Pak Tomo, Mas Ratno, Bowo, Pak Mamik, Mas Yoyok, Thomas, Daru, dan Zen.
Daru tadinya tidak mau ikut karena belum ada kesepakatan harga atau upah kerja. Tapi setelah lama dibujuk dan dijelaskan oleh supervisornya, akhirnya Daru mau berangkat.
Zen adalah kru yang awalnya tidak ditawari untuk ikut, tetapi kemudian diusulkan oleh Daru untuk diikutsertakan, jadilah dia sebagai kru terakhir yang terdaftar.
Oh iya, ada dua kru yang belum sempat dikenalkan pada bab perkenalan diawal tadi, ada Pak Mamik dan Mas Yoyok.
Pak Mamik adalah florist di Gereja Kota Baru yang juga ahli memasak. Usianya sekitar 55 tahun, penampilannya gendut, rambut sudah ada uban, kulitnya putih, dan kalau ngomong selalu diikuti tawa kecil diakhir kalimat. Kecuali pas marah atau sakit.
Mas Yoyok, rambutnya gondrong, usia sekitar 43, tinggal di Muntilan bersama istrinya untuk menggarap kebun Singkong yang luas. Hobinya ngopi, segala macam kopi dia suka. Tapi kalau tidur suka susah dibangunkan. Alarm di hapenya berbunyi nyaring berulang-ulang pun masih terus tidur.
***
Kemudian pada Pertengahan Mei, material dekorasi diberangkatkan lebih dulu menggunakan container berukuran 2 meter x 6 meter x 2 meter berwarna hijau dan diangkut kapal lewat Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Yang mengawal barang sampai ke Surabaya adalah Daru dan Mas Yoyok dimana mereka membuktikan betapa ganasnya hidup dijalanan. Ya, panas dan berdebu. Juga, Mas Yoyok kehilangan sendal jepitnya yang kiri. Ganas bukan?
Dan Rombongan kru yang berisi delapan manusia, diberangkatkan dari kantor Ganteng Unyu pada awal Juni, tepatnya tanggal 3 Juni di pagi hari yang dingin. Naik travel dengan riang gembira seperti anak TK yang mau pergi liburan. Membawa banyak bekal dan banyak pakaian. Delapan jam kemudian sampailah mereka di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.
Jadwal keberangkatan kapal yang tertulis pada tiket adalah jam delapan malam, tapi nyatanya kapal datangnya nanti jam empat subuh, lalu berangkat lagi jam sembilan pagi. Artinya mereka semua menginap di pelabuhan malam ini. Dengan duduk lesehan dan tiduran diatas tikar berbahan karung plastik dan kertas semen berukuran 1x1 meter seharga sepuluh ribu rupiah.
Kemudian pada waktu subuh mereka bergegas bangun untuk menuju terminal pemberangkatan, beramai-ramai dengan calon penumpang lain yang akhirnya seperti lomba lari. Tapi sampai disana pintunya masih tutup. Antreannya panjang banget kayak orang ngantri mau naik kapal, padahal kan iya. Setelah pintu dibuka, masuklah mereka pada bagian cek isi tas dan manusia pada alat deteksi. Dimana Mas Ratno dan Zen sempat ditegur petugas karena mau menghindar dari detektor, takut ketahuan kalau membawa benda tajam, ya, kru dekorasi senjata andalannya adalah pisau cutter dan catut. Hehehe. Setelah melalui proses itu, kemudian ada proses stempel tiket dan tangan calon penumpang, masuk ke ruang tunggu.
***
Didalam kapal, ternyata nomer tempat penumpang tidak berlaku, yang berlaku adalah hukum siapa cepat dia dapat, asal ada yang kosong, tempati saja. Itulah tiket kapal kelas ekonomi.
Dari Surabaya, kapal berlayar menuju pelabuhan Makassar, lamanya perjalanan sekitar 24 jam. Kemudian dari Makassar, kapal berlayar lagi langsung menuju pelabuhan Sorong, Papua Barat, lamanya perjalanan sekitar 32 jam.
Kebetulan perjalanan mereka pas masuk awal puasa, jadi kru yang beragama islam melaksanakan tarawih dan sahur diatas kapal. Tiket bagi yang menjalankan ibadah puasa diberi tanda cap "PUASA". Kru yang berpuasa adalah Mas Ratno, Bowo, Daru, dan Zen.
Sampai di pelabuhan Sorong sekitar pukul lima waktu indonesia timur. Mereka dijemput oleh Andreas yaitu calon pengantin pria dan Nico, anak buahnya Andreas, menggunakan mobil Toyota Hi-Lux. Diantarkan sampai ke kontrakan di jalan Gunung Umsini nomer.52, kampung baru. Disana bertemu lagi dengan Memet, yang mengurus perawatan bangunan dan sekaligus bisa jadi supir.
***
Seminggu awal di Papua, kru The Tampan Decorators belum diperbolehkan bekerja, karena material dekorasi belum diangkut keluar dari pelabuhan. Jadi selama menunggu material, kegiatan mereka hanya jalan-jalan, mancing, tiduran, nonton film, ngobrol, dan merencanakan jadwal kerja nanti.
Untuk masalah makan, mereka disediakan sembako oleh pihak mempelai wanita, yaitu Adeline. Untuk uang belanja juga ada. Kebutuhan mereka semua disediakan, termasuk motor dan mobil jika diperlukan untuk pergi.
Pasti Andreas dan Adeline adalah manusia yang sadar bahwa mereka hidup juga membutuhkan orang lain. Termasuk kru dekorasi yang nantinya akan bekerja membuat momen pernikahan mereka menjadi lebih indah dan berkesan. Mereka sadar, jika tidak ada para penunjang dekorasi, maka pernikahan yang mereka impikan tidak akan menjadi tampak mewah dan meriah. Maka mereka memberikan fasilitas yang bagus untuk para kru sebagai motivasi agar kru bekerja dengan maksimal.
BERSAMBUNG KE PART II
THE TAMPAN DECORATORS : KRU DEKORASI DAN PROFESI LAIN
Kru dekorasi sebuah acara pernikahan kadang dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Hanya karena penampilan yang lusuh, pakaian bebas, suara keras ketika ngobrol dan bekerja bercucuran keringat. Tetapi walaupun begitu kru dekorasi patut diacungi jempol karena tanpa adanya mereka, pelaminan pernikahan yang kalian inginkan tidak bisa terpasang dengan baik dan bagus. Mereka bekerja siang dan malam demi menyenangkan klien-nya si bos. Betapa mulia pekerjaan sebagai kru dekorasi. Ya. Misinya adalah menyenangkan orang lain walaupun diri mereka kadang tidak senang dengan permasalahan yang ada dalam diri mereka seperti konflik internal rumah tangga, konflik dengan pacar, melawan rasa kantuk, menahan capek, bayaran yang kadang tidak sesuai dengan tenaga, dan juga kecelakaan dalam bekerja seperti jempol kena palu, jari teriris cutter, kulit terserempet kawat, atau bahkan tangan terjepit.
Kru The Tampan Decorators pun demikian. Karena mereka juga manusia biasa yang kebetulan dianugerahi ketampanan dan keterampilan pada bidangnya. Tidak mau kalah dengan yang kadang viral di sosial media tentang polisi ganteng, tentara ganteng, tukang cukur ganteng, tukang sayur ganteng, penjual durian ganteng, penjual nasgor ganteng, dan ganteng-ganteng yang lain. The Tampan Decorators membuat persamaan dengan profesi-profesi lain dengan alat yang mereka gunakan untuk bekerja dengan alat-alat kerja profesi lain.
The Tampan Decorators dan Polisi Ganteng
Ketika seorang polisi menikah, ada yang namanya prosesi "Pedang Pora" dimana kedua mempelai berjalan melewati pasukan pembawa pedang yang berjajar disamping walkways sambil menghunus pedang membentuk sebuah lorong untuk jalan kedua mempelai.
Maka, kru The Tampan Decorators ketika seorang temannya menikah pastilah diadakan prosesi "Cutter Pora" dimana caranya sama seperti Pedang Pora, hanya alatnya saja yang beda. Pedang diganti Cutter. Krek! Krek! Krek! Krek! (bunyi cutter dimaju mundurkan).
The Tampan Decorators dan Dokter Ganteng
Seorang dokter, ketika akan menyuntik pasien, pastilah akan mengecek jarum suntiknya lancar atau tidak. Caranya dengan menyentil jarum pada alat suntik lalu pemompa pada alat suntik didorong sehingga keluarlah cairan obat. Alat suntik siap digunakan. Dokter siap bekerja.
Kru The Tampan Decorators pun sama, ketika akan bekerja menggunakan cutter mereka untuk memotong sesuatu, pastilah melakukan cek dengan cara menyentil pisau cutter, mendorong pisau cutter keluar, dan mengiriskan pada jari tangan mereka sehingga keluar darah segar. Cutter siap digunakan. Kru nya pingsan karena salah iris.
The Tampan Decorators dan Pesulap Ganteng
Pesulap bisa memunculkan benda dalam waktu yang singkat, bisa menghilangkannya juga, kadang juga bisa atraksi ekstrem dengan bermain benda tajam, api, dan dilindas alat-alat berat.
Yang seperti itu bisa juga dilakukan oleh kru The Tampan Decorators. Jika kalian pernah menginap di hotel pada saat libur tahun baru, natal, dan hari besar lain. Kalian pasti akan menemukan lobby hotel yang pada malam hari masih kosong, tapi kemudian pada pagi hari sudah ada hiasan-hiasan dekorasi berdiri megah, itu adalah pekerjaan para orang yang kurang tidur.
Kru The Tampan Decorators juga bisa disejajarkan dengan legenda Candi Prambanan yaitu Bandung Bondowoso yang membangun seribu candi dalam satu malam. Sekedar catatan, dulu di Ganteng Unyu Wedding Organizer juga ada kru dekorasi yang bernama Budi Nugroho, tapi biasa disebut Gandung oleh teman-temannya, mungkin dia adalah titisan sang legenda Gandung Gondowoso, hehehe, kebetulan dia juga dulu tinggal di daerah Prambanan.
The Tampan Decorators dan Tentara
Ketika seorang anggota tentara meninggal dunia, akan ada acaran tembakan salvo ketika jenazah mulai dikebumikan. Entah tujuannya apa? Mungkin sebagai penghormatan terakhir.
Nah, yang ini belum pernah terjadi pada The Tampan Decorators. Mungkin nanti ketika ada salah satu kru The Tampan Decorators meninggal dunia, akan ada acara penembakan Gun Tacker dan pelepasan balon gas sebagai penghormatan terakhir atas jasa-jasa yang telah dilakukan ketika masih hidup.
Ada banyak hal-hal lain yang dilakukan kru The Tampan Decorators yang menyerupai profesi lain, misalnya suka memborong tusuk sate, bukan untuk jualan sate, tetapi untuk memperkuat sambungan pada styrofoam.
Lalu, menggunakan hair dryer seperti banci salon, tapi bukan untuk mengeringkan rambut melainkan mempercepat proses pengeringan cat pada material dekorasi yang dicat mendadak sebelum dipasang.
Ada lagi, menggunakan cat tembok dengan harga mahal hanya untuk mengecat material styrofoam yang sebentar dipakai lalu dibuang. Kru The Tampan Decorators berani.
Jika dituliskan semua, pastilah banyak lagi tentang keterampilan kru The Tampan Decorators yang unik. Tetapi lebih baik tidak dituliskan, biar kalian berfikir sendiri.
Yang jelas, jangan anggap remeh kru dekorasi. Karena mereka adalah penunjang lancarnya acara pernikahan dan pesta kalian. Sekali-kali kru dekorasi juga ingin jadi viral, masuk instagram, path, twitter, facebook, youtube sebagai TUKANG DEKOR TAMPAN. Jadi, jangan malu-malu minta foto bareng jika ketemu kru THE TAMPAN DECORATORS sedang mendekorasi pernikahan saudara, ulang tahun teman, pesta perpisahan sekolah bahkan upacara kematian klien-nya si bos. Terutama di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Selasa, 02 Mei 2017
THE TAMPAN DECORATORS : KRU OH KRU
Kalau belum pernah keiris cutter jari tangan atau kaki, namanya bukan The Tampan Decorator.
Kalau belum pernah kena Gun Tacker jari tangan ketika memasang kain, namanya bukan The Tampan Decorator.
Kalau belum pernah kena jarum ketika memasang kain dan mencopot kain, namanya bukan The Tampan Decorator.
Kalau belum pernah kena palu jempol tangan ketika memaku, namanya bukan The Tampan Decorator.
Kalau belum pernah kesiram cat ketika mengecat material dekorasi, namanya bukan The Tampan Decorator.
Kalau belum pernah menumpahkan dan ketumpahan lem, namanya bukan The Tampan Decorator.
Kalau belum pernah bikin tali dari lakban kertas dipilin-pilin, namanya bukan The Tampan Decorator.
Kalau belum pernah kepala bocor kena kawat ketika memasang seng disiang hari yang panas, namanya bukan The Tampan Decorator.
Kalau belum pernah kaki tertimpa tangga terap besi ketika malam hari dalam kondisi ngantuk, namanya bukan The Tampan Decorator.
Kalau belum pernah pakai masker tapi dibolongi biar bisa bernafas, namanya bukan The Tampan Decorator.
Kalau belum pernah kaget karena bohlam pecah waktu di test, namanya bukan The Tampan Decorator.
Kalau belum pernah naik skafolding setinggi enam meter, namanya bukan The Tampan Decorator.
Kalau belum pernah mengalami set dekorasi dengan waktu yang mepet tapi masih terjadi perubahan gambar dan ada tambahan item-item lain padahal acara sudah hampir dimulai, namanya bukan The Tampan Decorator.
Kalau belum pernah mengalami hal-hal unik lain yang belum disebutkan dalam hal dekorasi, namanya bukan The Tampan Decorator.
Kalau belum pernah bergabung dengan Ganteng Unyu Wedding Organizer, namanya bukan kru The Tampan Decorators.
Sabtu, 18 Maret 2017
THE TAMPAN DECORATORS : CEKER MBAK INTAN
Malamnya sedang hujan ketika si Dwi Gandool, office boy kantor Ganteng Unyu Wedding Organizer sedang pergi beli nasi untuk makan malam kru The Tampan Decorators yang saat itu masih ada disitu. Si Dwi lupa bawa jas hujan, jadilah dia berteduh dulu di warung nasi Pak Joko. Eh, Pak Joko nya sudah meninggal dunia sekitar empat puluh hari yang lalu. Sekarang istrinya yang jualan nasi sendirian.
Malam itu di kantor Ganteng Unyu masih ada Pak Tomo, Mbak Intan, Pak Irwan yang Sekuriti baru, Taufik, dan Zen. Tetapi yang menanti nasi untuk makan malam hanya Taufik dan Zen. Sementara hujan masih turun dengan gembira, menari-nari diatas aspal, batako, tanah, rumput, dan tempat yang terkena hujan.
Sehabis Isya' barulah Dwi Gandool datang. Naik motor Jupiter pilokan sendiri warna biru, sedangkan jok nya berwarna merah. Kasihan dia agak basah karena menerjang hujan yang belum juga kunjung berhenti. Dengan gaya khasnya yaitu tertawa Ha Ha Ha. Membawa kantong plastik berwarna hitam berisikan tiga bungkus nasi.
"Hujan deres banget, aku numpang teduh dulu di warungnya Lelet, ha ha ha!" Dwi berkata sambil tertawa. Lelet ini adalah sebutan khusus dari kru The Tampan Decorators untuk istri Pak Joko.
"Nggak bawa jas hujan bro?" tanya Pak Irwan.
"Iya, nggak punya, ha ha.." jawab Dwi yang lagi-lagi sambil tertawa.
"Nasiku mana Wi?" tanya Taufik.
"Ini, sama semua.." Dwi berkata sambil membuka bungkus nasinya yang berlauk sayap ayam. Ditempat Lelet atau warung nasi Pak Joko ini makan pakai lauk sayap ayam harganya cuma lima ribu lima ratus rupiah, kalau pakai kepala ayam cuma empat ribu lima ratus, pokoknya yang paling murah ya disitu.
"Punyaku mana Ndool?" itu adalah Zen yang bertanya kepada Dwi Gandool.
"Lha iki!"
"Sayape Lelet.." Zen membuka bungkus nasinya seraya berkata demikian.
"Wah, pada makan malam nih?" Itu Pak Tomo yang baru keluar dari kantor dan mau pulang kerumahnya.
"Iya Pak," Dwi menjawab. Taufik dan Zen diam saja karena mulutnya sibuk mengunyah daun singkong.
"Makan Bu.." Dwi Gandool menyapa Mbak Intan yang juga baru keluar dari kantor Ganteng Unyu, mau pulang juga.
"Oh iya.. Dienakin aja mas.." balas Mbak Intan. "Mas Dwi mau ceker nggak?" tanyanya.
"Ceker manusia? Ha ha ha!" Dwi menjawab dengan bercanda.
"Ceker buaya.." Taufik menimpali.
"Bukan.. Ini ceker ayam asli, mau nggak?" kata Mbak Intan sambil memarkir motornya.
"Pulang dulu saudara-saudara!" Itu suara Pak Tomo yang melaju dengan motor Crypton dan tidak lupa memakai jas hujan.
"Iya!!!!" Itu suara serentak dari Pak Irwan, Mbak Intan, Taufik, dan Dwi Gandool. Zen diam saja karena sedang mengunyah tulang sayap ayam.
"Ini pada mau ceker ayam nggak?" tawar Mbak Intan lagi yang sudah siap naik motor.
"Mau Bu, mau.." yang menjawab Dwi. Karena Pak Irwan sedang sibuk menulis, Taufik sibuk mengunyah nasi, Zen sibuk menyingkirkan sambel.
"Ambil piring dulu buat naruh cekernya, kalau pakai tempat punyaku takutnya nggak ada yang mengurus nantinya," kata Mbak Intan.
Dwi Gandool pun segera pergi ke dapur untuk mengambil piring.
"Wah, banyak banget nih.. Terima kasih Bu," Dwi berkata sambil mencomot sepotong ceker yang dimasak dengan kecap.
"Iya, biar enak lagi dibakar dulu.." saran Mbak Intan.
"Nggak usah, ini aja udah bisa buat lauk, hehehe.." itu Dwi lagi yang bersuara.
Ada sekitar dua puluh ceker jika dihitung, termasuk yang sudah dicomot Dwi tadi. Semuanya berbalut kecap manis. Sehingga rasanya jadi manis dan gurih. Lalu Zen mengambil dua untuk digabung dengan sayap ayam tadi. Pak Irwan mencicipi satu. Taufik juga mengambil satu. Dipiring terlihat masih banyak ceker-ceker cokelat dan manis yang menggoda selera. Ceker dari mbak Intan.
Mbak Intan yang jadi admin keuangan di Ganteng Unyu. Mbak Intan yang rambutnya diwarnai pirang. Mbak Intan yang motornya berwarna merah. Mbak Intan yang punya warung angkringan disekitar Pasar Kembang Jogja. Mbak Intan yang angkringannya berjudul "DODOLAN SEGO". Mbak Intan yang dengan teliti menghitung gaji karyawan Ganteng Unyu Wedding Organizer. Mbak Intan yang namanya terdiri dari huruf I-N-T-A-N. Mbak Intan yang namanya seperti nama perhiasan dari batu.
Setelah Mbak Intan pergi meninggalkan Sukun Raya no. 48, Pak Irwan segera menutup pintu gerbang. Dan kembali duduk di Pos Security yang nyaman.
"Ini cekernya mau disisain buat besok atau dimakan sekarang semua?" tanya Zen kepada Dwi.
"Habiskan sekarang aja! Hahaha.. Kalau buat besok udah nggak enak.
"Oke!" kata Zen seraya mengambil sepotong ceker lagi.
Dwi dan Zen seperti orang balapan makan ceker ayam. Sementara Taufik sudah hampir habis tiga ceker.
"Aku cuma ambil tiga nih.. Karena aku sukanya kalau yang dibakar.." kata Taufik.
Dwi dan Zen masing-masing menghabiskan ceker tujuh. Dan menyisakan satu diatas piring karena peraturannya, yang menghabiskan cekernya harus bertanggung jawab mengembalikan dan membersihkan piring tersebut.
Sementara hujan masih turun.
"










































