Tampilkan postingan dengan label The Tampan Decorators. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The Tampan Decorators. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Mei 2017

THE TAMPAN DECORATORS : KRU DEKORASI DAN PROFESI LAIN

Kru dekorasi sebuah acara pernikahan kadang dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Hanya karena penampilan yang lusuh, pakaian bebas, suara keras ketika ngobrol dan bekerja bercucuran keringat. Tetapi walaupun begitu kru dekorasi patut diacungi jempol karena tanpa adanya mereka, pelaminan pernikahan yang kalian inginkan tidak bisa terpasang dengan baik dan bagus. Mereka bekerja siang dan malam demi menyenangkan klien-nya si bos. Betapa mulia pekerjaan sebagai kru dekorasi. Ya. Misinya adalah menyenangkan orang lain walaupun diri mereka kadang tidak senang dengan permasalahan yang ada dalam diri mereka seperti konflik internal rumah tangga, konflik dengan pacar, melawan rasa kantuk, menahan capek, bayaran yang kadang tidak sesuai dengan tenaga, dan juga kecelakaan dalam bekerja seperti jempol kena palu, jari teriris cutter, kulit terserempet kawat, atau bahkan tangan terjepit.

Kru The Tampan Decorators pun demikian. Karena mereka juga manusia biasa yang kebetulan dianugerahi ketampanan dan keterampilan pada bidangnya. Tidak mau kalah dengan yang kadang viral di sosial media tentang polisi ganteng, tentara ganteng, tukang cukur ganteng, tukang sayur ganteng, penjual durian ganteng, penjual nasgor ganteng, dan ganteng-ganteng yang lain. The Tampan Decorators membuat persamaan dengan profesi-profesi lain dengan alat yang mereka gunakan untuk bekerja dengan alat-alat kerja profesi lain.

The Tampan Decorators dan Polisi Ganteng

Ketika seorang polisi menikah, ada yang namanya prosesi "Pedang Pora" dimana kedua mempelai berjalan melewati pasukan pembawa pedang yang berjajar disamping walkways sambil menghunus pedang membentuk sebuah lorong untuk jalan kedua mempelai.

Maka, kru The Tampan Decorators ketika seorang temannya menikah pastilah diadakan prosesi "Cutter Pora" dimana caranya sama seperti Pedang Pora, hanya alatnya saja yang beda. Pedang diganti Cutter. Krek! Krek! Krek! Krek! (bunyi cutter dimaju mundurkan).

The Tampan Decorators dan Dokter Ganteng

Seorang dokter, ketika akan menyuntik pasien, pastilah akan mengecek jarum suntiknya lancar atau tidak. Caranya dengan menyentil jarum pada alat suntik lalu pemompa pada alat suntik didorong sehingga keluarlah cairan obat. Alat suntik siap digunakan. Dokter siap bekerja.

Kru The Tampan Decorators pun sama, ketika akan bekerja menggunakan cutter mereka untuk memotong sesuatu, pastilah melakukan cek dengan cara menyentil pisau cutter, mendorong pisau cutter keluar, dan mengiriskan pada jari tangan mereka sehingga keluar darah segar. Cutter siap digunakan. Kru nya pingsan karena salah iris.

The Tampan Decorators dan Pesulap Ganteng

Pesulap bisa memunculkan benda dalam waktu yang singkat, bisa menghilangkannya juga, kadang juga bisa atraksi ekstrem dengan bermain benda tajam, api, dan dilindas alat-alat berat.

Yang seperti itu bisa juga dilakukan oleh kru The Tampan Decorators. Jika kalian pernah menginap di hotel pada saat libur tahun baru, natal, dan hari besar lain. Kalian pasti akan menemukan lobby hotel yang pada malam hari masih kosong, tapi kemudian pada pagi hari sudah ada hiasan-hiasan dekorasi berdiri megah, itu adalah pekerjaan para orang yang kurang tidur.

Kru The Tampan Decorators juga bisa disejajarkan dengan legenda Candi Prambanan yaitu Bandung Bondowoso yang membangun seribu candi dalam satu malam. Sekedar catatan, dulu di Ganteng Unyu Wedding Organizer juga ada kru dekorasi yang bernama Budi Nugroho, tapi biasa disebut Gandung oleh teman-temannya, mungkin dia adalah titisan sang legenda Gandung Gondowoso, hehehe, kebetulan dia juga dulu tinggal di daerah Prambanan.

The Tampan Decorators dan Tentara

Ketika seorang anggota tentara meninggal dunia, akan ada acaran tembakan salvo ketika jenazah mulai dikebumikan. Entah tujuannya apa? Mungkin sebagai penghormatan terakhir.

Nah, yang ini belum pernah terjadi pada The Tampan Decorators. Mungkin nanti ketika ada salah satu kru The Tampan Decorators meninggal dunia, akan ada acara penembakan Gun Tacker dan pelepasan balon gas sebagai penghormatan terakhir atas jasa-jasa yang telah dilakukan ketika masih hidup.

Ada banyak hal-hal lain yang dilakukan kru The Tampan Decorators yang menyerupai profesi lain, misalnya suka memborong tusuk sate, bukan untuk jualan sate, tetapi untuk memperkuat sambungan pada styrofoam.

Lalu, menggunakan hair dryer seperti banci salon, tapi bukan untuk mengeringkan rambut melainkan mempercepat proses pengeringan cat pada material dekorasi yang dicat mendadak sebelum dipasang.

Ada lagi, menggunakan cat tembok dengan harga mahal hanya untuk mengecat material styrofoam yang sebentar dipakai lalu dibuang. Kru The Tampan Decorators berani.

Jika dituliskan semua, pastilah banyak lagi tentang keterampilan kru The Tampan Decorators yang unik. Tetapi lebih baik tidak dituliskan, biar kalian berfikir sendiri.

Yang jelas, jangan anggap remeh kru dekorasi. Karena mereka adalah penunjang lancarnya acara pernikahan dan pesta kalian. Sekali-kali kru dekorasi juga ingin jadi viral, masuk instagram, path, twitter, facebook, youtube sebagai TUKANG DEKOR TAMPAN. Jadi, jangan malu-malu minta foto bareng jika ketemu kru THE TAMPAN DECORATORS sedang mendekorasi pernikahan saudara, ulang tahun teman, pesta perpisahan sekolah bahkan upacara kematian klien-nya si bos. Terutama di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sabtu, 18 Maret 2017

THE TAMPAN DECORATORS : CEKER MBAK INTAN

Malamnya sedang hujan ketika si Dwi Gandool, office boy kantor Ganteng Unyu Wedding Organizer sedang pergi beli nasi untuk makan malam kru The Tampan Decorators yang saat itu masih ada disitu. Si Dwi lupa bawa jas hujan, jadilah dia berteduh dulu di warung nasi Pak Joko. Eh, Pak Joko nya sudah meninggal dunia sekitar empat puluh hari yang lalu. Sekarang istrinya yang jualan nasi sendirian.

Malam itu di kantor Ganteng Unyu masih ada Pak Tomo, Mbak Intan, Pak Irwan yang Sekuriti baru, Taufik, dan Zen. Tetapi yang menanti nasi untuk makan malam hanya Taufik dan Zen. Sementara hujan masih turun dengan gembira, menari-nari diatas aspal, batako, tanah, rumput, dan tempat yang terkena hujan.

Sehabis Isya' barulah Dwi Gandool datang. Naik motor Jupiter pilokan sendiri warna biru, sedangkan jok nya berwarna merah. Kasihan dia agak basah karena menerjang hujan yang belum juga kunjung berhenti. Dengan gaya khasnya yaitu tertawa Ha Ha Ha. Membawa kantong plastik berwarna hitam berisikan tiga bungkus nasi.

"Hujan deres banget, aku numpang teduh dulu di warungnya Lelet, ha ha ha!" Dwi berkata sambil tertawa. Lelet ini adalah sebutan khusus dari kru The Tampan Decorators untuk istri Pak Joko.

"Nggak bawa jas hujan bro?" tanya Pak Irwan.

"Iya, nggak punya, ha ha.." jawab Dwi yang lagi-lagi sambil tertawa.

"Nasiku mana Wi?" tanya Taufik.

"Ini, sama semua.." Dwi berkata sambil membuka bungkus nasinya yang berlauk sayap ayam. Ditempat Lelet atau warung nasi Pak Joko ini makan pakai lauk sayap ayam harganya cuma lima ribu lima ratus rupiah, kalau pakai kepala ayam cuma empat ribu lima ratus, pokoknya yang paling murah ya disitu.

"Punyaku mana Ndool?" itu adalah Zen yang bertanya kepada Dwi Gandool.

"Lha iki!"

"Sayape Lelet.." Zen membuka bungkus nasinya seraya berkata demikian.

"Wah, pada makan malam nih?" Itu Pak Tomo yang baru keluar dari kantor dan mau pulang kerumahnya.

"Iya Pak," Dwi menjawab. Taufik dan Zen diam saja karena mulutnya sibuk mengunyah daun singkong.

"Makan Bu.." Dwi Gandool menyapa Mbak Intan yang juga baru keluar dari kantor Ganteng Unyu, mau pulang juga.

"Oh iya.. Dienakin aja mas.." balas Mbak Intan. "Mas Dwi mau ceker nggak?" tanyanya.

"Ceker manusia? Ha ha ha!" Dwi menjawab dengan bercanda.

"Ceker buaya.." Taufik menimpali.

"Bukan.. Ini ceker ayam asli, mau nggak?" kata Mbak Intan sambil memarkir motornya.

"Pulang dulu saudara-saudara!" Itu suara Pak Tomo yang melaju dengan motor Crypton dan tidak lupa memakai jas hujan.

"Iya!!!!" Itu suara serentak dari Pak Irwan, Mbak Intan, Taufik, dan Dwi Gandool. Zen diam saja karena sedang mengunyah tulang sayap ayam.

"Ini pada mau ceker ayam nggak?" tawar Mbak Intan lagi yang sudah siap naik motor.

"Mau Bu, mau.." yang menjawab Dwi. Karena Pak Irwan sedang sibuk menulis, Taufik sibuk mengunyah nasi, Zen sibuk menyingkirkan sambel.

"Ambil piring dulu buat naruh cekernya, kalau pakai tempat punyaku takutnya nggak ada yang mengurus nantinya," kata Mbak Intan.

Dwi Gandool pun segera pergi ke dapur untuk mengambil piring.

"Wah, banyak banget nih.. Terima kasih Bu," Dwi berkata sambil mencomot sepotong ceker yang dimasak dengan kecap.

"Iya, biar enak lagi dibakar dulu.." saran Mbak Intan.

"Nggak usah, ini aja udah bisa buat lauk, hehehe.." itu Dwi lagi yang bersuara.

Ada sekitar dua puluh ceker jika dihitung, termasuk yang sudah dicomot Dwi tadi. Semuanya berbalut kecap manis. Sehingga rasanya jadi manis dan gurih. Lalu Zen mengambil dua untuk digabung dengan sayap ayam tadi. Pak Irwan mencicipi satu. Taufik juga mengambil satu. Dipiring terlihat masih banyak ceker-ceker cokelat dan manis yang menggoda selera. Ceker dari mbak Intan.

Mbak Intan yang jadi admin keuangan di Ganteng Unyu. Mbak Intan yang rambutnya diwarnai pirang. Mbak Intan yang motornya berwarna merah. Mbak Intan yang punya warung angkringan disekitar Pasar Kembang Jogja. Mbak Intan yang angkringannya berjudul "DODOLAN SEGO". Mbak Intan yang dengan teliti menghitung gaji karyawan Ganteng Unyu Wedding Organizer. Mbak Intan yang namanya terdiri dari huruf I-N-T-A-N. Mbak Intan yang namanya seperti nama perhiasan dari batu.

Setelah Mbak Intan pergi meninggalkan Sukun Raya no. 48, Pak Irwan segera menutup pintu gerbang. Dan kembali duduk di Pos Security yang nyaman.

"Ini cekernya mau disisain buat besok atau dimakan sekarang semua?" tanya Zen kepada Dwi.

"Habiskan sekarang aja! Hahaha.. Kalau buat besok udah nggak enak.

"Oke!" kata Zen seraya mengambil sepotong ceker lagi.

Dwi dan Zen seperti orang balapan makan ceker ayam. Sementara Taufik sudah hampir habis tiga ceker.

"Aku cuma ambil tiga nih.. Karena aku sukanya kalau yang dibakar.." kata Taufik.

Dwi dan Zen masing-masing menghabiskan ceker tujuh. Dan menyisakan satu diatas piring karena peraturannya, yang menghabiskan cekernya harus bertanggung jawab mengembalikan dan membersihkan piring tersebut.
Sementara hujan masih turun.

"

Kamis, 17 November 2016

THE TAMPAN DECORATORS : CINTA WIRATNO KANDAS DI JEMBATAN GEMBLUNG

Wiratno yang tampan baru pulang kerumah Minggu pagi setelah selesai membongkar dekorasi di Jogja Expo Center (JEC). Dengan wajah pucat dan tubuh yang nampak sangat capek karena dua malam dia begadang mengerjakan dekorasi untuk acara resepsi pernikahan. Tapi dia membawa pulang uang bayaran sekitar enam ratus ribu dalam dompetnya sehingga hatinya tampak senang. Sampai dirumah, dia sarapan nasi yang sudah disiapkan ibunya. Lalu dia tidur tanpa mandi dulu. Walaupun begitu ketampanannya tidak luntur. Masih seperti pemeran Sembara dalam film Mak Lampir Ngidam Lemper.

Wiratno tertidur sampai sore hari menjelang maghrib. Matanya melek, ada beleknya sedikit. Diusapnya menggunakan jari tangan. Ternyata orang tampan tidurnya juga ngiler. Dengan malas dia mengelap ilernya yang sudah mulai mengering dipipi sampai ujung bibir menggunakan sprei bermotif hello kitty makan bakwan. Sprei itu hadiah dari mantan pacarnya waktu Wiratno ulang tahun.

Dengan tubuh masih terbaring. Matanya menerawang ke langit-langit kamarnya. Nyawanya belum terkumpul. Dia melamun. Membayangkan tentang wanita cantik yang mungkin menjadi jodohnya nanti. Dia asyik melamun sampai tidak sadar bahwa adzan maghrib sudah mulai berkumandang. Padahal menurut orang-orang tua jaman dulu, kalau maghrib-maghrib melamun, yang cowok bakal ditaksir kuntilanak, kalau cewek bakal ditaksir genderuwo atau buto ijo yang bisa merubah dirinya menjadi manusia. Buto Ijo kalau sedang jatuh cinta mungkin berubah warna jadi Buto Merah Muda. Karena cinta itu buta. Sehingga Buto pun buta karena cinta. Nggak tahu mana Ijo mana Merah Muda. Terlepas dari masalah buto tadi, Wiratno masih asyik melamun dikamarnya yang di dindingnya terpajang poster penyanyi dangdut Uut Selly, Via Valen, Eny Sagita, dan Lia Capuccino. Eh, ada juga poster cewek penari jathilan yang lagi naik kuda lumping makan beling satu kilo. Kudanya keselek. Jadinya pas difoto kudanya nyengir-nyengir.

Sedang asyik melamun, tiba-tiba pintu kamarnya digedor orang dari luar. Ternyata pelaku penggedoran adalah ibunya Wiratno. Penampilannya digambarkan sebagai ibu-ibu suku Jawa tulen. Bicaranya pun menggunakan bahasa Jawa karena memang keluarga Wiratno tinggal di daerah Gunung Kidul.

"Rat! tangi le.. wis maghrib iki lho.." ibunya berkata. (Rat! bangun nak.. ini sudah maghrib..)

"Nggih Bu.. niki kulo sampun melek kok.." jawab Wiratno. (iya Bu.. ini saya sudah bangun..).

Kemudian Wirat bangun dan menuju kamar mandi. Karena dari kemarin belum mandi. Sesampainya di kamar mandi, dia mencium aroma ketiaknya sendiri. Hampir muntah. Ternyata orang tampan kalau tidak mandi pun bau ketiaknya mirip bak sampah dipasar-pasar. Wiratno mandi sambil bernyanyi-nyanyi asyik. Lagunya campur sari berjudul Tresno Waranggono.
"Wis lilakno aku kang mas, tereet tereet tereeet.." begitu bunyinya.

Selesai mandi, Wiratno berpakaian. Kaos bergambar Andong Jogja menjadi pilihannya. Dipadukan dengan celana jins tiga perempat biru. Bersiul-siul lagu dangdutnya Rhoma Irama. Kemudian duduk diteras rumah sambil menyulut rokok. Menikmati asap yang berkebul-kebul. Seperti dia telah menemukan surga. Tidak lama kemudian, datang temannya yang bernama Kentung. Mengajak nonton jathilan di daerah Kalasan.

"Rat, nonton jathilan yuk.." ajak Kentung.

"Dimana Tung?" tanya Wirat.

"Di Kalasan, yang main Jathilan Paling Asyik.." jawab Kentung.

"Oke, saya ambil jaket dulu.." kata Wirat.

"Kita boncengan apa naik motor sendiri-sendiri Rat?" Kentung bertanya.

"Sendiri-sendiri aja ya, siapa tahu disana nemu cewek, jadi bisa diajak jalan-jalan sekalian, hehe.." jawab Wiratno.

"Oke deh, sip!"

"Eh, ntar dulu Tung.." Wiratno berkata.

"Apaan lagi Rat?"

"Anu, parkirnya bayar apa gratis?"

"Yaelah, kirain apaan.. Udah nggak usah mikir parkirnya, yang penting nonton jathilannya," jawab Kentung.

"Yaudah, ayo jalan," kata Wiratno sambil menstarter motornya.

***

Ngeeeeng.. Cegluk! Begitu bunyi motor Wiratno yang berhenti di parkiran penitipan sepeda motor.

"Sini mas, motornya jangan dikunci stang ya.." kata tukang titipan motor.

"Iya mas," Wiratno membalas.

"Ini nomernya, bayar langsung ya.." tukang titipan berkata lagi.

"Berapa?" tanya Wiratno.

"Tiga ribu.." jawab tukang titipan.

"Lima ribu dua motor ya mas, sekalian sama teman saya ini, adanya cuma lima ribu ini dikantong, hehe," kata Wiratno sambil mengeluarkan selembar uang lima ribuan dari kantongnya.

"Iya, mas, kita penonton setia Jathilan Paling Asyik lho, dimanapun pentasnya, kami selalu nonton.." timpal Kentung.

"Hmmm, yasudah nggak apa-apa sini.." kata tukang titipan.

"Makasih mas bro!" kata Kentung.

Lalu mereka berdua melangkahkan kaki menuju lokasi pertunjukan jathilan. Ternyata sudah mulai dari tadi. Penontonnya juga tampak ramai sekali memadati pinggiran arena. Persis laler ngerubung makanan lezat. Wiratno dan Kentung langsung mendesak ke dalam kerumunan itu. Kentung asyik menikmati pertunjukkan jathilan itu. Sedangkan Wiratno sebenarnya hanya mau mencari kenalan cewek saja dikeramaian tersebut.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Wiratno yang wajahnya tampan tersebut tiba-tiba pundaknya dijawil seorang cewek manis yang daritadi berdiri disampingnya. Dia menyapa.

"Mas.." kata cewek itu.

"Eh, iya, ada apa mbak?" tanya Wiratno kaget.

"Ada aku disini mas, kok dicuekin aja.." cewek itu menggoda Wiratno.

"Ah, mbak bisa aja.." Wiratno tersipu.

"Perkenalkan mas, nama saya Kanti.. mas namanya siapa?" tanya cewek yang bernama Kanti itu.

"Eh, anu, saya Wiratno mbak, panggil saja Wirat, atau Sudawirat, hehe.." jawab Wiratno sambil cengengesan persis beruk mau kawin.

"Oh, Sudawirat to.. kok mirip nama pendekar yang di film Mak Lampir Ngidam Lemper mas.."

"Hehe, Mbak suka nonton jathilan juga ya?" tanya Wiratno.

"Nggak juga mas, baru kali ini nonton jathilan.." kata Kanti.

"Oo.. Mbak Kanti rumahnya dekat sini?" Wiratno bertanya lagi.

"Bukan mas, saya orang daerah Berbah.. tadi kesini main dirumah teman, tapi dia sekarang berangkat kerja shift malam, jadi saya pulangnya nggak ada yang antar.. Mas Wirat orang mana?" kata Kanti panjang lebar.

"Oh begitu ceritanya.. saya orang daerah Piyungan mbak," Wiratno menanggapi.

"Iya mas," balas Kanti lirih.

"Kok nggak minta dijemput pacarnya?" Tanya Wiratno memancing untuk mengetahui dia sudah punya pacar atau belum.

"Saya belum punya pacar mas, alias jomblo.." jawab Kanti.

"Oh, jomblo.." dalam hati berkata YES! YES! YES!

"He-eh mas, kamu kesini sama teman atau sendiri?" tanya Kanti.

"Tadi sama teman, tapi naik motor sendiri-sendiri.." jawab Wiratno.

"Wah kebetulan dong.. nanti aku pulangnya ikut ya mas," pinta Kanti.

"Oh iya, bisa.. bisa," jawab Wiratno dengan hati berbunga-bunga.

"Pulang sekarang saja yuk mas, takut kemalaman, nanti ada begal.."

"Oh iya, ayo.."

"Rat, kamu mau kemana?" tanya Kentung yang kaget karena tiba-tiba Wiratno ngeloyor pergi.

"Mau pulang Tung, kamu ikut nggak?" jawab Wiratno.

"Jathilannya belum selesai, tanggung, yasudah kamu pulang dulu aja.. nanti aku nyusul," kata Kentung.

***

Beberapa kilometer dari tempat berlangsungnya pertunjukan jathilan tadi, Wiratno sedang asyik ngobrol berdua dengan Kanti diatas motor yang melaju pelan.

"Mas Wirat kerja dimana?" tanya Kanti.

"Anu.." Wiratno belum selesai ngomong, tapi segera dipotong Kanti.

"Masa kerjanya di anu mas? Hehe"

"Bukan, saya belum selesai ngomong.. saya kerja di Ganteng Unyu," sambung Wirat.

"Ganteng Unyu?" tanya Kanti heran.

"Iya, betul.."

"Tempat apa itu mas?" tanya Kanti lagi.

"Dekorasi nikahan.." jawab Wiratno.

"Namanya kok lucu mas, Ganteng Unyu, hehe.."

"Iya, soalnya yang kerja mas-mas ganteng seperti saya dan mbak-mbak unyu-unyu seperti kamu, hah!" Wiratno mulai menggombal.

"Ah, mas Wirat bisa aja.."

"Nti, kamu orang daerah Berbah, kenal Pak Kus nggak?" tanya Wiratno.

"Pak Kus yang supir itu mas?"

"Iya bener, kamu kenal?"

"Nggak begitu kenal mas, cuma ngerti aja.." jawab Kanti.

"Oo.. dia itu sering juga disuruh angkut barang-barang dekorasi Ganteng Unyu," jelas Wiratno.

"Oh gitu ya.."

"Rumah kamu sebelah mananya rumah Pak Kus?" Wiratno bertanya.

"Jauh mas.."

Tak terasa malam semakin dingin. Wiratno pun merasakan dinginnya malam itu. Padahal dia sudah memakai jaket yang cukup tebal dan baunya cukup apek. Didepan sebuah rumah yang sederhana tiba-tiba Kanti menepuk pundak Wiratno.

"Mas, sudah sampai mas.. rumah saya disini," kata Kanti.

"Eh, oh, iya Nti.."

"Terima kasih ya mas Wirat.. mampir dulu mas," ajak Kanti.

"Nggak usah Nti, udah malam, mau langsung pulang saja.."

"Yasudah, hati-hati ya mas.."

"Iya.."

Dalam hati Wiratno berbunga-bunga. Sepertinya dia langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Langsung ingin memilikinya.

"Ah, betapa senang rasa hati.." Wiratno menyanyikan sepenggal lagu dangdut lawas.

Sambil menstarter motornya. Kemudian dia memasukkan gigi satu. Sejenak kemudian dia panik karena motornya sudah di gas tapi tak beranjak maju sedikitpun. Wiratno bingung. Tiba-tiba suasana disekelilingnya yang tadi ada rumah-rumah mendadak jadi gelap dan terdengar suara gemericik air.

Wiratno merasakan kakinya basah dan dingin. Lalu dia mengecek keadaan sekitarnya dengan menyalakan korek api gas nya.

"Astaghfirullahaladziim! Kok saya ada di pinggiran sungai? Sungai mana ini? Perasaan tadi saya ada dikampung daerah Berbah.." kata Wiratno kepada diri sendiri.

Kemudian didengarnya ada suara motor lewat. Wiratno pun berteriak minta tolong kepada motor yang lewat tersebut.

"Tolong!.. Tolong!.." teriak Wiratno.

"Seperti suaranya Wirat.." ternyata orang yang lewat itu Kentung, dan mengenali suara Wiratno yang minta tolong. "Rat!? Rat!?"

"Tung tolong Tung!" teriak Wiratno yang juga mengenali suara Kentung.

"Ngapain malam-malam disitu Rat?" tanya Kentung penasaran.

"Udah nggak usah banyak tanya dulu, sekarang bantu saya dorong motor biar bisa dibawa ke jalan."

"Oke oke Rat!"

Akhirnya motor Wiratno berhasil dibawa ke jalan dan bisa dinaiki lagi. Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan pulang. Ngebut. Biar cepat sampai.

Waktu menunjukkan pukul sebelas malam ketika mereka berdua sampai dirumah Wiratno. Mereka kemudian duduk dikursi yang ada diteras. Wiratno menyalakan korek api gas dan menyulut rokok yang ada dimulutnya. Kentung juga ikut-ikutan.

"Kamu tadi ngapain dipinggiran kali Jembatan Gemblung?" tanya Kentung.

"Nggak tahu, tiba-tiba saya ada disitu.." jawab Wiratno.

"Kamu itu tadi kelihatan aneh, lagi asyik nonton jathilan tiba-tiba ngajak pulang, saya juga tadinya nggak mau pulang, tapi melihat kamu yang seperti ngomong sendirian, saya jadi khawatir ada apa-apa sama kamu, terus saya ikuti kamu dari jauh.." jelas Kentung.

"Saya itu tadi ngobrol sama cewek cantik, terus dia minta diantar pulang.." Wiratno juga menjelaskan.

"Tapi yang saya lihat, kamu ini naik motor sendirian.."

"Weladalah.. jadi cewek cantik tadi itu hantu jembatan gemblung?" Wiratno kaget.

"Pasti! Saya tadi ngikuti kamu itu sebenarnya juga takut, udah jalanannya sepi, kanan-kiri jalan ada kuburan luas, terkenal angker pula.. tapi berhubung kamu itu teman saya, apa boleh buat? Saya beranikan diri.." jelas Kentung.

"Terimakasih ya Tung, udah nolong saya.." kata Wiratno.

"Iya, makanya jangan keseringan melamun maghrib-maghrib, jadi ditaksir kuntilanak deh.. Haha," kata Kentung mencairkan suasana.

"Cewek itu tadi namanya Kanti, wajahnya juga agak bule gitu Tung.."

"Hemm, gaul juga hantunya menyamarkan huruf "U" jadi "A" biar kamu nggak tahu namanya Kunti, hahaha.."

"Mungkin sering nonton film barat, yang huruf "U" bisa dibaca "A" hahaha," Wiratno tertawa.

Wiratno yang tampan itu pun kemudian masuk ke dalam rumah setelah Kentung pamitan pulang. Di dalam kamar, Wiratno belum bisa memejamkan mata. Masih memikirkan nasibnya yang kurang beruntung dalam hal percintaan. Selalu berbanding terbalik dengan wajahnya yang tampan, yang seharusnya dengan mudah menaklukkan cewek-cewek dimanapun. Ada yang naksir, ternyata hantu. Kan repot. Tapi mungkin memang dalam kehidupan sekarang ini, tampan saja tidak cukup. Harus punya sesuatu yang lain, yang bisa membuat cewek-cewek nyaman berada didekat para cowok.

Akhirnya setelah beberapa jenak, Wiratno tertidur. Ngorok dengan irama musik jazz campur dangdut.