Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Desember 2016

BUKU : Zen. Kamu Dimana?

Buku cerita tentang Hid dan Zen yang ditulis oleh KaJe berdasarkan history SMS dan panggilan telepon antara dua tokoh utama tersebut. Buku pertama ini (yang mungkin bersambung) ditulis menggunakan sudut pandang si cewek. Yang mengisahkan perasaannya terhadap si cowok yang bukan pacarnya. Tentu saja ini bukan kisah cinta. Bukan drama percintaan remaja ataupun korea. Hanya kisah manusia biasa yang dikemas secara istimewa.

Bukunya bisa didapatkan disini http://nulisbuku.com/books/view_book/9179/zen-kamu-dimana
Atau di nulisbuku.com
Dengan harga Rp 59.960

Kamis, 21 April 2016

(sambungan dari I.R.A.K) AGUSTUSAN

Jumat, 8 Agustus 2014 masehi adalah hari pertama dimana aku terhitung sebagai bendahara Ikatan Remaja Kemplokolegi. Tugas pertamaku sebagai bendahara hanya mencatat keuangan organisasi. Tentunya berkolaborasi dengan Risma.

Aku ingat, waktu itu lomba sudah mepet, dan peralatan baru sebagian yang terbeli. Akhirnya aku dititipi untuk membeli pensil untuk lomba, balon, dan juga buku tabungan yang nantinya untuk mencatat tabungan pemuda sebagai uang kas. Pulang sekolah aku sempatkan mampir ke toko Lestari. Yang letaknya didekat SMA N 1 Sragi dan juga dekat rumah tempat aku tinggal dulu. Aku beli semua yang ada dicatatanku, tapi balon hanya sedikit, cuma sampel saja. Takut kalau nanti salah beli.

"Sudah pulang sekolah, bulek?" Zen SMS.

"Baru aja," balasku.

"Capek?"

"Iya"

"Istirahatlah.."

"Iya, om.. makasih.."

Aku tiduran dikamar. Mendengarkan musik. Lagu yang enak didengar saja, biar otak tidak tegang. Ternyata ada lagu Unintended juga di playlist tersebut. Ah, jadi ingat Zen. Padahal aku tidak sedang ingin mengingatnya. Sampai aku tertidur.

***

Begitu bangun, sudah jam lima sore. Aku menguap dan merentangkan tangan. Ah, nikmat sekali rasanya. Tidur siang memang lebih terasa nikmat daripada tidur malam karena saat tidur siang, begitu bangun aku tidak usah berfikir untuk pergi ke sekolah. Pikiran bebas tanpa beban. Sedangkan tidur malam, begitu bangun harus langsung siap menghadapi rutinitas sebagai pelajar. Lalu aku lihat hapeku, ada SMS.

"Nanti aku kerumahmu, ambil buku tabungan dan peralatan lomba.."

"Iya, tapi jangan sendiri ya, sama Risma."

"Ok, nanti aku bilang ke Risma.."

"Aku mau mandi dulu, om.."

"Baiklah.."

Tak usah aku ceritakan bagaimana aku mandi. Nanti kalian membayangkan diriku. Jangan. Lebih baik aku ceritakan kejadian selanjutnya.

Dari habis maghrib tadi, gerimis terus menerus. Mlokolegi malamnya dingin. Membuat aku ingin mendekam didalam kamar saja. Gerimisnya berisik. Tiba-tiba ada suara orang mengucapkan salam.

"Assalamu'alaikum!.." suara cewek, sepertinya Risma.

"Wa'alaikumsalam.." jawabku sambil berjalan keluar dari kamar. Lalu membuka pintu depan.

"Eh, Mol.." itu aku menyapa Risma yang biasa aku panggil Rismol.

"Iki Pol, aku dijak mas Zen mrene, jare pak njukuk alat-alat lomba karo buku tabungan," kata Risma dengan bahasa Jawa yang artinya (ini Pol, aku diajak mas Zen kesini, katanya mau ambil alat-alat lomba sama buku tabungan)

"Iyo, mrene ra mlebu.." aku berkata, artinya (Iya, sini masuk)

"Aku juga mlebu?" Zen bertanya, artinya (Aku juga boleh masuk?).

"He-em," jawabku.

Setelah mereka berdua duduk. Aku masuk ke kamar untuk mengambilkan barang yang mereka maksud yaitu pensil, balon, dan buku tabungan. Itu aku talangi dulu, karena uang pemuda masih ditangan Risma.

"Iki titipane," aku bicara ke Risma yang posisi duduknya satu kursi denganku. Artinya (ini titipannya?)

"Piro Pol regane?" artinya (berapa harganya?)

"Buku tabungan sijine limangatus, aku tuku seket lembar, dadine selawe ewu, terus pensil yo limangatusan, aku tuku selusin, dadi nemewu, nek balone aku ize tuku serenteng tok kui, telungewu, dadine kabehan telungpuluh papat, Mol.." jelasku kepada Risma yang artinya (buku tabungan harga satuannya lima ratus, aku beli lima puluh biji, berarti semuanya dua puluh lima ribu, terus pensil juga lima ratusan, aku beli selusin, jadi enam ribu, sedangkan balonnya aku masih beli satu renceng aja, tiga ribu, jadi jumlah totalnya tiga puluh empat ribu).

"Oh, yo, iki tak ganti nganggo duit kas."
(oh iya, ini aku ganti pakai uang kas).

"Mol, koe teko mrene numpak opo?" aku bertanya pada Risma yang artinya (Mol, kamu datang kesini naik apa?).

"Numpak pit Pol, pite mas Zen," jawab Risma yang artinya (naik sepeda, sepedanya mas Zen).

"Kok biso?" aku masih asyik ngobrol dengan Risma, sedangkan Zen diam saja. Kasihan juga sebenarnya lihat dia dikacangin. Tapi memang aku grogi kalau harus ngobrol dengan dia. Malam itu adalah malam pertama kali dia datang dan masuk serta duduk dirumahku. Eh, rumah nenekku ding.

"Kui, mas Zen ki mau teko nang umahku, terus ngejak aring nggonmu, nggowo payung nopo, niat nemen," jawab Risma yang artinya (itu, mas Zen tadi datang kerumahku, terus mengajak aku ke tempatmu, bawa payung juga, niat banget).

"Aku dijak ngobrol ra.. Moso ngobrole karo Risma terus?" Zen protes karena daritadi tidak diajak ngobrol, artinya (aku diajak ngobrol dong.. Masa ngobrolnya sama Risma terus?)

"Nek sampeyan wadon, tak jak ngobrol Om.. Hahaha" kataku yang artinya (kalau kamu cewek, aku ajak ngobrol om)

"Walah.. Berarti seumpomo aku mayeng mrene dhewekan yo dinengke tok?" Zen berkata yang artinya (walah.. berarti seumpama aku main kesini sendiri, bakal didiamkan saja?)

"Iyo.." Aku dan Risma menjawab secara bersamaan.

"Waduh.." Zen berkata sambil meneplak dahinya.

"Yowis, Pol, tak bali ndisit yo," kata Risma yang artinya (yasudah Pol, aku pulang dulu ya).

"Eh, ora sedelo maneh Ris?" itu Zen yang berkata, artinya (eh, nggak sebentar lagi Ris?)

"Ora, senengen sampeyan ngko nek nang kene suwe-suwe," jawab Risma yang artinya (nggak, nanti kamu kegirangan kalo disini lama-lama)

"Oh, yowis.."

Setelah itu mereka berdiri dari duduknya. Menuju pintu keluar. Sampai di pintu tiba-tiba Zen mengulurkan tangan untuk bersalaman. Secara refleks aku menjabatnya, lama, sekitar tiga puluh detik, baru dilepaskan.

"Assalamu'alaikum.." kata Zen.

"Wa'alaikumsalam.." jawabku.

Lalu aku lihat Risma dan Zen pergi. Risma berjalan kaki membawa payung, dan Zen naik sepedanya. Malam itu Zen memakai celana pendek warna cokelat bergaris-garis dan kaos berwarna biru dengan gradasi. Yang pernah aku lihat waktu Sholat subuh di mushola Al Amin ketika bulan puasa.

Ah, aku jadi rindu bulan puasa. Rindu suasana buka puasa, suasana sholat tarawih, dan juga sholat subuh di Al Amin. Tempat aku diam-diam mengamati Zen dari balik jendela kaca.

Malamnya semakin dingin. Gerimis belum reda. Sepi melanda. Lagi-lagi aku mendengarkan musik dikamar. Seperti di FTV yang romantis.

***

Hari Minggu, tanggal 10 Agustus 2014 masehi.

Setelah tadi malam kami para pemuda organisasi I.R.A.K berkumpul dirumah ibu kadus untuk membuat dan merancang perlengkapan lomba sampai malam, paginya kami harus berkumpul lagi, tetap di rumah ibu Kadus Riyanita karena tempat itu juga bisa dipakai sebagai kantor sekretariat I.RA.K saat ada kegiatan seperti agustusan ini, kebetulan lokasinya juga berdampingan dengan lapangan bulutangkis yang biasa dijadikan tempat untuk melaksanakan acara perlombaan.

Pagi itu jadwal pertama lomba adalah Sepeda Ria, yaitu jalan-jalan konvoi menggunakan sepeda yang dihias dengan kertas krep warna-warni dan juga bendera merah-putih. Setiap peserta akan mendapat nomor undian yang nantinya diundi saat acara konvoi sudah selesai.

Jam setengah tujuh pagi aku sudah sampai di sekretariat. Bersama panitia lain. Yang cowok-cowok tampak sibuk sekali mempersiapkan semuanya. Dan juga mengatur barisan peserta agar tertib dijalan. Yang cewek mah, nangkring dimotor aja, biasa lah, nggak mau repot. Hehehe.

Yang aku ingat, hari Minggu itu hanya ada lomba Sepeda Hias, dan tidak ada yang menarik untuk diceritakan, jadi aku langsung ke cerita lomba pada hari Jumat.

***

Jumat, 15 Agustus 2014 Masehi

Aku tidak begitu ingat secara urut tentang lomba pada hari itu. Otak manusia kadang bisa menangkap banyak informasi tetapi informasi tersebut pasti ada yang tertutup dan tersembunyi dibalik informasi lain. Jadi maaf jika ada yang terlewatkan. Kegiatan dimulai sehabis sholat Jumat. Itu isinya perlombaan yang diikuti anak-anak usia sekolah dasar sampai es-em-pe. Ada lomba memasukkan pensil ke dalam botol, lomba makan kerupuk, lomba sundul air, joget balon berpasangan, dan lain-lain.

Panitia dan peserta berpanas-panasan dibawah terik matahari. Lantai lapangan juga panas. Aku pada hari itu memakai baju kaos lengan panjang warna pink, celana jins, dan berkerudung cokelat. Turun juga ke lapangan untuk mengatur perlombaan dan memasangkan perlengkapan lomba.

Aku ingat kejadian saat lomba terakhir pada hari itu yakni lomba joged berpasangan menggunakan balon. Sebelum itu aku ingin menceritakan bahwa aku adalah salah satu dari peniup balonnya. Yang aku dan Risma beli dipasar Kalijambe. Aku sempat meniup beberapa balon di ruang tamu rumah ibu kadus. Dan ada kejadian yang menggambarkan betapa aku digilai oleh seseorang bernama Jaim. Dia senang sekali ketika balon terakhir yang aku tiup tak jadi ku selesaikan dan aku letakkan diatas meja. Langsung dia ambil dan ditiupnya sambil berbicara,"Rasanya seperti berciuman denganmu Dev.."

Aku langsung keluar karena dipanggil oleh panitia lain dan disuruh bersiap-siap mengatur lomba. Meninggalkan Jaim yang masih tertawa. Disitu ada juga cowok-cowok lain termasuk Zen.

Di lomba joged berpasangan itu, panitia juga ikut berjoged ria diantara peserta sambil mengawasi. Waktu itu aku tidak ikut berjoged, aku hanya memegangi balon, dan berdiri disamping Risma yang berjoged dengan Rohma. Suasananya ramai. Lagu yang diputar adalah lagu yang sering muncul ditipi waktu itu, kalau nggak salah judulnya Buka Dikit Jos! Hahaha. Didepan, tepatnya dirumah mbak Novi, ada Bapak Edi yang mirip Cesar sedang joged ala Cesar juga. Ramai banget pokoknya. Sampai tak terasa tinggal ada dua pasang peserta yang masih bertahan. Memperebutkan juara pertama.

Ah, salah satu pasang peserta gagal. Balonnya lepas dan melayang jatuh. Gugur. Tiba-tiba seperti ada yang menarik tubuhku dan merangkul aku sambil berkata,"Awas!"
Aku tidak tahu ada apa. Setelah aku sadar ternyata sudah ada perang air warna-warni yang dibungkus plastik diatas lapangan. Aku sudah berada diteras samping rumah ibu kadus ketika itu. Dan aku lihat disampingku ada Zen yang bajunya basah kena air. Rupanya tadi dia yang menarik aku menjauh dari perang air itu dan melindungi aku biar tidak terkena air.

"Iki tradisine nek lomba, hehe.." dia berkata. Artinya (ini tradisi kalo ada perlombaan)

"Oh, aku ora ngerti Om," timpalku, yang artinya (oh, aku nggak tahu om)

Lalu dia pergi ketengah lapangan, ikut perang air, aku hanya menonton. Lalu setelah stok air yang didalam plastik habis, barulah perang usai. Kemudian dilanjut joged bersama seperti pada acara tipi YKS itu. Yang jadi komandonya tetap Bapak Edi yang mirip Cesar. Akupun ikut berjoged waktu itu. Hahaha.

Acara pada hari itu ditutup dengan masak dan makan mie instan bersama di rumah ibu kadus. Yang punya rumah sedang tidak dirumah, aku dengar suaminya sedang dirawat di Puskesmas. Kami yang cewek-cewek kebagian tugas memasak sementara yang cowok bersih-bersih lapangan. Ada aku, Risma, Rohma, Cicik, Mbak Anifah, Wahyu, Mut, Hikmah, dan Vivi. Kami memasak mie instant banyak sekali. Sehingga terpaksa numpang masak dirumah Zen juga yang kebetulan menyambung dengan rumah Mbak Nit alias Ibu Kadus. Setelah itu aku pulang. Capek rasanya.

"Terima kasih sudah berpartisipasi dalam kegiatan lomba hari ini.." itu SMS dari Zen.

"Iya, sama-sama.."

***

Sepertinya bulan Agustus tahun 2014 adalah bulan yang melelahkan bagiku. Selain sekolah, kegiatan organisasi IRAK juga harus aku jalani.

Sabtu, 16 Agustus 2014 masehi dan panas. Tadi disekolah ada acara lomba antar kelas. Aku ikut lomba estafet air. Dan hasilnya kalian nggak perlu tahu. Karena kelas kami juara. Hehe.

Dan rupanya di Daerah Istimewa Mlokolegi juga masih ada terusan lomba. Yaitu babak final lomba yang sudah dilakukan penyisihannya pada tanggal 15 Agustus kemarin. Final akan dimulai pukul dua siang.

"Bulek, sudah pulang sekolah?"

"Sudah daritadi om, ada apa?"

"Nanti kesini ya, ikut bantu lomba lagi.."

"Insya Allah, aku capek, mau tidur dulu ya.."

"Iya, tidurlah.."

Aku terbangun pada pukul tiga sore. Sholat ashar lalu mandi.

"Bulek Hid, jadi kesini nggak?" tanya Zen.

"Nanti ya Om Zen."

"Disini butuh bantuan untuk bungkusin hadiah, soalnya mau dibagi nanti malam.. Tolong ya."

"Disitu udah ada siapa aja?"

"Banyak, tapi masih pada ngatur lomba, yang bungkus hadiah cuma ada Vivi sama Ani.."

"Oh, aku datangnya nanti jam empat ya.."

"Kalo bisa sih secepatnya.." SMS dari Zen kali ini aku rasa tidak seperti biasanya.

"Iya.."

Akhirnya aku pergi ke sekretariat IRAK bersama bulek Siti dan anaknya yang kecil. Naik motorku. Bulek Siti nonton lomba, dan aku langsung masuk ke rumah sekretariat untuk segera ikut membungkus kado hadiah. Disitu ada Vivi, Ani, Hikmah, dan Zen.

Tak ada kalimat yang keluar dari mulut Zen yang aku harapkan untuk menyapaku. Dia sibuk menulisi kado hadiah itu sesuai jenis lombanya.

"Hid, tolong kui Vivi direwangi mbungkusi yo.." Zen berkata, yang artinya (Hid, tolong itu Vivi dibantu buat bungkusin kado).

"Iyo," jawabku.

"Kok nembe mrene?" tanya Zen yang artinya (kok baru kesini?)

"Kesel, bar bobok," jawabku yang artinya (capek, habis tidur)

"Oh yowis kene bae, ora usah terjun ngurusi lomba," kata Zen, artinya (oh, yaudah disini aja, nggak usah ikut urus lomba).

"He'em," aku mengangguk tanda mengiyakan.

Lalu aku ngobrol dengan Vivi.

"Koe awit mau Vi?" artinya (kamu daritadi Vi?)

"Iyo," jawabnya.

"Mau melu lomba nang sekolahan?" tanyaku, artinya (tadi ikut lomba di sekolah?). Kebetulan aku dan Vivi sekolah ditempat yang sama yaitu SMA N 1 Wiradesa.

"Iyo, melu tapi ora juara, hehe.." artinya (Iya, ikut tapi nggak dapat juara).

"Hehehe"

Tak terasa, waktu cepat berlalu. Lomba untuk anak-anak telah selesai. Hadiah pun hampir selesai dibungkus semua. Tiba-tiba Danang masuk, dan bicara pada Zen.

"Je, hadiahe ize turah pora?" kata Danang, yang artinya (Je, hadiahnya masing ada nggak?)

"Wah, entek Nang.. Wis lebokne kado kabeh, lah prye?" Zen menjawab, artinya (Wah, habis Nang.. sudah dimasukkan ke kado semua, kenapa?)

"Kui, Soni nambah ono lomba tarik tambang nggo ibu-ibu, pak kei hadiah opo yo?" kata Danang lagi yang artinya (itu, Soni nambah ada lomba tarik tambang buat ibu-ibu, mau dikasih hadiah apa ya?)

"Walah, kok mendadak temen?" timpal Zen, artinya (Walah, kok mendadak banget?)

"Nah iyo, aku be mangkliye bingung teo, duite wis ape entek, blonjokne sabun-sabun karo deterjen puo Je nggon lestari." titah Danang kepada Zen, artinya (lah iya, aku juga jadi bingung banget, duitnya sudah hampir habis, dibelikan sabun sama deterjen aja Je, di toko Lestari)

"Iyo,"jawab Zen.

"Kye duite, aku tak ngurus lomba tarik tambang kae wis ape mulai, cepet o Je," Danang berkata, artinya (ini duitnya, aku mau mengurus lomba tarik tambang itu mau mulai, cepet ya Je).

"Ok Pak Ketua!"

Danang keluar menuju lapangan. Zen berbicara padaku.

"Bulek, nggowo motor pora?" artinya (tante, bawa motor nggak?).

"Kontake nang bulek Siti," jawabku, artinya (kuncinya ada di tante Siti).

"Aku nggowo motor mas Zen," itu Wahyu yang berbicara. Artinya (aku bawa motor mas Zen).

"Yowis, njo melu aku blonjo, motormu parkire nang ndi?" kata Zen, artinya (Yaudah, ayo ikut aku belanja, motormu diparkir dimana?).

"Kui nang arep umahe mas Barudin," jawab Wahyu, artinya (Itu didepan rumahnya mas Barudin).

"Oh, njo mangkat," ajak Zen ke Wahyu, artinya (oh, ayo berangkat).

Akhirnya Zen dan Wahyu pergi belanja. Berboncengan. Aku dan Vivi masih duduk didalam rumah ibu Kadus, diantara kardus kado. Aku melihat lomba tarik tambang antar RT yang pesertanya ibu-ibu. Di RT tempat tinggalku yang ikut ada Mak Kutis, Mbah Narti, Mbah Talkiyah, Mbak Turah, dan istrinya Pak Tunas. Yang badannya besar, posisinya dibelakang, itu Mbah Narti sama Mak Kutis. Lomba itu lumayan membuatku senang, rame, lucu, dan menegangkan. Hehehe. Tapi sayang, RT ku kalah, jadi nggak dapet juara deh.

Lomba telah selesai, para penonton dan peserta mulai beranjak pergi meninggalkan arena perlombaan. Panitia sibuk membersihkan tempat lomba dan menata tempat. Mempersiapkan untuk keperluan tirakatan malam 17 Agustus nanti. Sekaligus pembagian hadiahnya juga nanti malam.

Zen dan Wahyu datang membawa belanjaan untuk hadiah, banyak, isinya macam-macam, langsung dibungkus sama panitia cewek. Untung sekarang sudah ada Risma dan Rohma, sehingga tugasku menjadi lebih ringan. Sementara panitia cewek yang lain ada yang sedang memasak mie instant di dapur. Untuk makan panitia.

Ternyata hari sudah mulai senja. Bulek Siti pun sudah pulang. Aku jadi tidak ada kendaraan untuk pulang. Aku bicara pada Risma.

"Mol, aku baline diter o?" artinya (Mol, aku pulangnya diantar ya?).

"Opo koe ora nggowo motor, Pol?" tanya Risma, artinya (emangnya kamu nggak bawa motor, Pol?)

"Digowo bulek Siti mau," jawabku, artinya (sudah dibawa tante Siti).

"Oh, tapi aku be ora nggowo motor ko, aku nggowone pite Tiwi, pit cilik, ora keno nggo boncengan.. Hehe" jelas Risma kepadaku. Artinya (oh, tapi aku juga nggak bawa motor kok, aku bawa sepedanya Tiwi, sepeda kecil, nggak bisa buat boncengan..).

"Ngko tak ter aku," kata Zen tiba-tiba sambil makan mie rebus, artinya (nanti aku antar).

Aku hanya mengangguk tak bersuara. Lalu terdengar suara adzan maghrib dari loud speaker masjid Desa Tegalsuruh. Aku, Risma, dan Rohma pun keluar untuk pulang. Panitia lain juga pada keluar, yang cowok malah pada nongkrong didepan rumahnya mbak Novi.

Aku berjalan dengan Rohma dan Risma. Posisinya Risma menaiki sepeda, aku dan Rohma ada dibelakangnya. Tiba-tiba Zen datang dari arah belakang, naik motornya, Revo hitam-merah. Berhenti disamping kami, tepat didepan gerbang mushola Al Amin.

"Njo, tak ter.." kata Zen, artinya (ayo aku antar).

"Kui Pol, cepet nompak, wis maghrib," kata Risma kepadaku, artinya (itu Pol, cepat naik, udah maghrib).

"Iyo Pol, aku karo Risma ape adus," timpal Rohma, artinya (iyo Pol, aku sama Risma mau mandi).

Akhirnya aku naik ke atas motor Zen. Dudukku menyamping, karena aku waktu itu memakai rok sekolah warna cokelat. Dibelakang, ada suara teriakan cowok-cowok yang meledek.

"Ciye ciyeee..."

"Suit suit.."

"Merdeka kiye Zen!"

Entah suara siapa saja itu. Tidak penting. Yang penting aku cepat sampai dirumah. Perasaanku was-was. Takut orang-orang sekitar dan nenekku tahu kalau aku pulang diantar Zen. Sebenarnya tidak apa-apa sih, kan cuma tetangga. Tapi mungkin aku yang terlalu berlebihan dalam menyikapi hal tersebut.

Akhirnya sampai juga. Aku turun. Zen berbelok dan berhenti sebentar. Tapi motor masih menyala dan dia masih diatas motor.

"Matur nuwun yo Om.." kataku, artinya (terima kasih ya Om..)

"Iyo," jawabnya.

Lalu dia pergi. Melaju diatas motornya. Sebentar aku memandangnya, yang memakai kemeja garis-garis biru kecil, tak dikancing, dipadu dengan kaos putih dan celana pendek robek-robek dipaha. Ah, senja itu. Aku masuk ke rumah. Dan itu adalah harinya, ketika aku pertama kali berboncengan dengan dia.

***

Malamnya sehabis maghrib. Ada SMS dari Zen.

"Nanti tolong datang ke acara tirakatan ya.."

"Insya Allah.." balasku.

"Biar aku minta Risma untuk menjemputmu nanti.."

"Iya," jawabku karena aku capek.

"Terima kasih sudah membuat ramalanku terjadi," katanya.

"Ramalan apa?" aku bingung.

"Ramalan tentang aku memboncengkan dirimu, Hid.."

"Hahaha.." tulisku, sambil mengingat-ingat.

"Sudah makan?" dia bertanya.

"Ini lagi maem.." jawabku.

"Selamat makan.."

"Iya, makasih.."

Lalu tak ada komunikasi lagi sampai waktu menjelang Isya. Aku dengar ada suara motor berhenti di depan rumah. Rumah nenekku.

"Assalamu'alaikum!.." itu suara Risma. Mungkin dia datang untuk menjemputku.

"Wa'alaikumsalaam.." jawabku dari dalam rumah sambil berjalan menuju pintu depan. Benar, itu Risma.

"Mrene mlebu ndisik Mol," kataku mempersilakan, artinya (sini masuk dulu Mol).

"Iyo, mono koe toto-toto, wis dinteni mas Zen, hehe," Risma berkata yang artinya (iya, sana dandan dulu, sudah ditunggu mas Zen, hehe).

"Hii, opo si Mol.." artinya (ih, apaan sih?)

Aku hanya ganti baju, dan memakai jilbab. Malam itu aku memakai baju warna pink dan juga kerudung pink, serta bawahan celana jins hitam model pensil. Malam ini adalah malam tirakatan atau malam untuk mendoakan arwah para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia yang diadakan setiap tanggal 16 Agustus malam. Lokasinya tetap dirumah Ibu Kadus. Karena beliau adalah kepala Dusun Kemplokolegi, dan juga kebetulan ada tempat yang luas untuk acara masyarakat.

Biasanya malam itu kami warga, membawa makanan atau bahan makanan ke tempat Kadus, yang nantinya makanan itu disajikan untuk orang-orang yang datang ke acara tirakatan. Ada juga nasi yang sudah disiapkan oleh Kadus. Karena ada acara makan-makannya juga. Selain acara doa tadi.

Sampai disana, sudah ramai orang. Aku dan Risma masuk lewat pintu depan. Ternyata didalam sudah ada panitia cewek lain yang sudah hadir dari Mlokolegi bagian utara. Selain itu juga banyak ibu-ibu, kebanyakan saudaranya Zen, karena memang disitu adalah tempat dimana keluarga besar simbahnya Zen berkumpul. Satu gang isinya satu keluarga besar. Tidak perlu aku menyebutkannya satu persatu. Capek.

Aku lihat Zen sedang melamun diluar. Aku SMS dia.

"Hem.." tulisku.

"Ada apa?" balasnya.

"Gi apa Om?" tanyaku.

"Ngobrol sama kelelawar.." jawabnya ngaco. Dia memang suka begitu.

"Kelelawarnya kenapa?" tanyaku mengimbangi.

"Galau, dicuekin temannya, kupu-kupu.."

"Kok bisa?"

"Iya, kupu-kupunya sibuk, jadi kelelawarnya dicuekin.."

"Yaudah, nanti kupu-kupu aku suruh ngobrol sama kelelawar.." kataku.

"Iya, emang kamu tahu siapa kupu-kupu dan siapa kelelawar?" dia bertanya.

"Enggak, hehehe.."

"Baiklah, hahaha.."

"Om, udah dulu ya.. Aku mau bantu ngeluarin minuman buat orang-orang," tulisku.

"Iya, bulek, terima kasih sudah mau membantu," balasnya.

"Sama-sama.."

Ya, tugas yang cewek malam itu adalah menghidangkan makanan, membagi hadiah lomba, dan terakhir mencuci piring dan gelas bekas dipakai acara. Tentunya aku juga terlibat dan akibatnya, pulangku jadi terlalu malam. Aku takut nanti dimarah nenekku karena pulang malam.

Waktu itu pukul sebelas malam, akhirnya aku pulang diantar oleh Risma dan Zen. Karena kalau Risma sendiri pasti takut pulangnya. Rumahku ada dipojok selatan Daerah Istimewa Mlokolegi dimana kalau kesana harus melewati kebun-kebun kosong yang banyak ditumbuhi pohon. Kalau malam jadinya menyeramkan. Sebaiknya tidak usah aku ceritakan. Karena aku sudah sampai dirumah, dan dibukakan pintu oleh Mbah Waisah. Diam tanpa bicara. Hanya mengucapkan terima kasih pada Zen dan Risma karena telah mengantar aku pulang.

Aku masuk kamar, dan tidak langsung tidur. Melepas kerudung dan mengganti baju dan celana. Jangan dibayangkan saat aku membuka baju dan celana. Setelah itu aku ke kamar mandi, pipis, cuci kaki, dan masuk ke kamar lagi. Merebahkan diri. Menarik nafas dalam-dalam dan kemudian mengucapkan.

"Selamat tidur juga, untukmu.." seperti aku mendengar ucapan selamat tidurnya kepadaku.

Kamis, 14 April 2016

(sambungan dari LEBARAN TANPA SALAMAN) I.R.A.K.

Lebaran telah lewat. Tetapi suasananya masih melekat. Karena sempat tidak sempat, orang-orang masih ada yang makan ketupat. Serta malam harinya masih dihiasi letupan suara petasan dan kembang api, juga cahaya kembang. Malam ini pun aku sedang bermain kembang api dengan Zahra, anaknya Mbak Naroh. Tapi acaranya jadi terganggu karena pacarku menelepon dan Zen kirim SMS. Repot. Aku angkat telepon dari pacarku saja.

"Halo Assalamu'alaikum.." aku membuka percakapan.

"Wa'alaikumsayang.. hehe," itu pacarku yang berbicara. Sudah biasa begitu.

"Ada apa?" tanyaku.

"Cuma pengen ngobrol seperti biasa," jawabnya.

"Oh.."

"Gi ngapa sekarang?" pacarku bertanya.

"Lagi main kembang api sama Zahra.." jawabku sambil memegang kembang api.

"Oh, kayak anak kecil aja main kembang api.. Hehe," kata pacarku.

"Biarin, memang aku masih kecil."

"Sudah maem belum?"

"Sudah, tadi.."

"Pakai apa?"

"Pakai tangan, pakai sendok, pakai mulut.."

"Maksudnya pakai lauk apa?"

"Oh, pakai ayam.. Kamu sendiri lagi apa?"

"Lagi duduk aja didepan rumah."

"Sudah maem belum?"

"Belum," jawab pacarku.

"Kenapa belum?" tanyaku.

"Belum laper. Hehehe."

"Maem dulu sana biar nggak sakit.. Aku juga mau main kembang api lagi.."

"Iya.. Iya.. Yaudah, udah dulu ya.."

"Iya.. Daa.." aku berkata sambil menutup telepon.

Lalu terlihat ada dua pesan masuk dari Zen lagi. Aku baca.

"Terbuat dari apa Mlokolegi Pojok malam ini?" begitu tulisnya.

"Maksudnya?" aku bertanya karena memang bingung. Zen ini bahasanya kadang sulit dimengerti.

"Maksudnya, bagaimana gambaran tempatmu saat ini?" jelas Zen.

"Oh, bagus, rame.." jawabku singkat.

"Oh.."

"Bunder.. bagaimana ditempatmu Om?" aku bertanya, tentunya sambil memainkan kembang api punya Zahra.

"Malam ini kamarku terbuat dari sarang laba-laba, semut yang berbaris, suara cicak, dan aku yang sedang mendengarkan lagu-lagunya Green Day sambil SMS-an denganmu.." jawaban Zen panjang.

"Bikin puisi om? Hahaha.." aku tertawa karena keanehannya.

"Nggak, bukan.. Hehe," balasnya.

"Terus?"

"Kamu sedang apa sekarang?" dia bertanya. Obrolan SMS itu memang kadang tidak begitu nyambung.

"Lagi main kembang api sama Zahra.." aku menjawab.

"Zahra itu siapa?"

"Anaknya mbak Naroh.."

"Aku kira anaknya Harti, eh, bulek Harti.. Hehe.." aku rasa Zen keceplosan menyebut bulek Harti dengan nama Harti saja, mungkin karena usia bulek Harti lebih muda dari usia Zen, yang mungkin seumuran dengannya adalah Bulek Siti.

"Bukan.. kamu sendiri sedang apa om?" tanyaku.

"Aku tadi sudah bilang sedang diculik raja semut belum?" jawabnya asal.

"Belum kayaknya.."

"Yasudah, berarti aku sekarang sedang diculik raja semut, dan diajak berdiskusi, tentang kamu.." dia pasti sedang tidak serius, tapi aku suka, jadi aku tetap melanjutkan obrolan.

"Tentang aku?" aku bertanya pura-pura kaget.

"Iya, raja semut mengajak diskusi, apakah kamu ini manis atau tidak?"

"Lalu apa jawaban Om Zen?"

"Aku jawab saja bahwa kamu itu manis sekali.."

"Hahaha, ngarang.."

"Iya bener, jadi aku menyuruh raja semut itu pindah dari kamarku.. karena aku kalah manis denganmu.."

"Hahaha.. terus?"

"Raja semut bilang, dia nanti mau pindah ke kamarmu, disambut ya.."

"Hahaha, nggak mau.."

"Oh iya, aku juga titip pesan kepada raja semut, untukmu.." Zen berkata.

"Apa pesannya?" tanyaku penasaran.

"Jangan lupa ingatan, hehe.."

"Hahaha, udah gitu aja?" tanyaku, karena aku berharap ada kata-kata romantis dari dia.

"Iya, gitu aja.."

"Oh.."

"Eh, raja semut itu gila ya?"

"Gila? Nggak tahu maksudnya," aku bingung dengan pernyataannya.

"Iya, raja semut gila, masa ngajak ngobrol manusia?"

"Hahaha, om Zen yang gila, ngajak ngobrol semut.. Hahaha.." aku tertawa dibuatnya. Oleh pemikirannya yang tidak umum seperti orang lain.

"Ah, udah ah.. aku mau main PS dulu," kata Zen.

"Aku juga capek om, ngetik SMS sambil mainan kembang api.."

"Bersenang-senanglah.."

"Iya," balasku.

Malam itu aku bingung. Kenapa aku begitu peduli pada Zen dan mengabaikan pacarku? Ah, mungkin hanya perasaan bosan saja karena masa pacaran yang terlalu lama dan kebetulan Zen masuk disaat ini. Yang bisa aku jadikan tempat penghibur saat aku sepi dan merasa bosan.

***

Daerah Istimewa Mlokolegi, tanggal 2 Agustus 2014 masehi. Zen bilang padaku kalau dia ingin mengaktifkan lagi organisasi IRAK (Ikatan RemajA Kemplokolegi) yang saat itu dalam masa Vacum of Power alias mandek tidak ada kegiatan aktif. Dia cerita banyak kepadaku tentang IRAK. Sudah satu tahun organisasi ini terhenti, alasannya karena kegiatan Agustusan ada pada bulan puasa. Jadi tidak ada yang mau meramaikan. Secara tidak langsung hal ini mematikan organisasi yang diurus oleh pemuda Mlokolegi itu. Aku punya catatan rekaman percakapan dengan Zen lewat SMS tentang itu, walau pesannya sudah kuhapus, tetapi aku ingat. Walaupun tidak sedetail jika Zen yang mengingat.

"Hai bulek.."

"Hai juga, om.."

"Kamu, apa kabar?"

"Baik, kamu?"

"Aku selalu baik, gi apa?"

"Dikamar.. dengerin musik."

"Boleh aku bertanya?"

"Iya, boleh.. Apa?"

"Kamu di sekolah ikut organisasi?" dia bertanya.

"Iya, pernah ikut OSIS," jawabku.

"Menjabat apa?"

"Bendahara.."

"Bagus, aku mau mengaktifkan IRAK lagi, kamu ikut ya.."

"Insya Allah," jawabku.

"Biar rame kampung ini ada kegiatan.."

"Iya, om, aku juga dari dulu ingin ikut kegiatan di kampung, bosen dirumah terus, tapi aku malu dan nggak ada yang mengajak.."

"Kebetulan dong, yaudah nanti aku jadikan kamu pengurus, bisa ikut kumpulan kan?"

"Insya Allah bisa, kalau nggak sibuk.."

"Pinter.."

"Oh iya, nanti yang jadi ketua siapa? Kamu ya?" tanyaku.

"Hehe, aku sudah terlalu tua, dan juga sudah pernah, lagian untuk jadi ketua itu ada tiga kriteria yang harus dipenuhi yaitu Pinter, Kober, dan Bener.."

"Maksudnya?" aku masih belum paham.

"Iya, jadi ketua itu pertama harus Pinter, dalam artian tidak gampang dikendalikan anak buahnya dan juga bisa mengatur anak buahnya.."

"Terus?"

"Kober, artinya selalu bisa menyempatkan waktu untuk mengurus jalannya kegiatan dan hadir dalam acara musyawarah organisasi.."

"Terus apa lagi?"

"Yang terakhir bisa berperilaku bener, artinya bisa menjalankan amanah sebagai ketua dengan benar, tidak semena-mena, dan jujur.. Gitu, bulek paham?"

"Iya.. Iya.. Paham, hehe," kataku.

"Dan yang memenuhi kriteria itu untuk saat ini, menurut rembugan tidak resmi pada waktu ngumpul ngeteh dirumah Om Soni, sepakat untuk memilih Danang.."

"Alasannya apa?"

"Ya itu tadi, Pinter, Kober, Bener.. Pinter, Danang kan kuliah, sudah pasti pikirannya terbuka dan tidak gampang diatur anak buahnya.. Kober, jelas, kami semua tahu kalau Danang punya waktu senggang selalu dikampung, tidak merantau.. Bener, orang kalau duitnya banyak, itu nggak akan korupsi, malah kadang bisa nalangi dulu biaya operasionalnya.. Hehe," jelas Zen panjang lebar.

"Oh gitu? Kenapa nggak kamu aja? Kamu kan kuliahan juga, terus tidak merantau, dan menurutku kamu orangnya baik, nggak pernah bikin masalah.."

"Itu kan penilaian pribadi kamu, lagian aku sekarang sudah kerja di Pabrik Gula Sragi, jadi susah kober-nya.."

"Oh.."

"Tapi nanti tetap ada pemilihan secara voting pas kumpulan nanti.."

"Kapan kumpulannya?" tanyaku.

"Belum tahu, tunggu saja undangannya datang.."

"Oke," kataku.

"Kapan mulai masuk sekolah lagi?" Zen bertanya.

"Tanggal empat," jawabku.

"Oh, yang rajin ya, udah kelas tiga.."

"Iya, Om.."

"Sudah ya, aku mau istirahat, capek.." kata Zen.

"Iya, met istirahat, kamu.."

"Kamu juga.."

Itulah dialog antara aku dan Zen. Tentang IRAK. Aku rasa inipun termasuk peristiwa sejarah yang harus diketahui. Walaupun mungkin tidak penting bagi kalian.

***

Hari Kamis, tanggal 7 Agustus 2014 Masehi. Malamnya cerah. Harusnya aku ikut hadir pada acara pembentukan kembali Organisasi Ikatan RemajA Kemplokolegi malam itu karena aku dapat undangan. Tetapi aku tidak bisa hadir karena ada acara juga di rumah pak dhe Dono. Jadi, aku mengikuti rapat dari SMS yang dikirim Zen.

"Bulek nggak datang ke kumpulan warga dan remaja?" tanya Zen.

"Aslinya pingin Om, tapi disuruh anter nenek ke tempat pak dhe Dono," jawabku.

"Oh, yaudah, tapi nanti aku usulkan supaya kau jadi bendahara di IRAK," kata Zen.

"Memangnya kalau tidak hadir bisa dipilih?" tanyaku.

"Tenang, semua bisa diatur, karena pada dasarnya, setiap organisasi perlu ada seseorang yang membuat anggota lain semangat hadir mengikuti kegiatan, dan orang itu biasanya wanita, kebetulan kamu orang yang tepat karena sekarang kamu sedang menjadi bintang di Daerah Istimewa Mlokolegi.." Zen menjelaskan panjang lebar.

"Gimana ya?"

"Mau kan?"

"Emmm, aku takutnya nggak bisa selalu hadir pada saat kegiatan, karena selain sibuk sekolah dan kadang nganter mbah Waisah.."

"Tidak apa-apa, mau ya?"

"Iya deh.."

"Yaudah, nanti aku tunjukkan ini ke teman-teman sebagai bukti," Zen berkata.

"Tapi, yang ikut siapa aja? "

"Ya belum tahu, ini baru mau mulai rapatnya, udah dulu ya.."

***

Sembilan puluh tujuh menit kemudian, Zen SMS lagi. Hasil rapat pembentukan kembali organisasi I.R.A.K.

"Ketua : Danang
Wakil : Zen
Sekretaris : 1. Basuki 2. Wahyu
Bendahara: 1. Devi 2. Risma
Koordinator RT/RW
001/05 - Jumadi dan Mut
002/05 - Dayat dan Adi
001/06 - Sigit dan Cicik
002/06 - Ari dan Ahmad"

"Itu beneran Om?"

"Iya, bener, mulai sekarang kamu jadi bendahara I.R.A.K."

"Sama Risma?"

"Iya, sengaja kami pilihkan biar kamu mau, hehe.."

"Tadi apa nggak diprotes orang-orang? Kan aku tidak hadir.."

"Tidak, karena cewek-cewek lain yang hadir ada yang tidak mau dijadikan pengurus," jelas Zen.

"Tapi kan ada yang cowok yang bisa mengisi jabatan itu.."

"Yang cowok-cowok justru pada semangat dan setuju saat aku mengusulkan namamu untuk jadi bendahara.."

"Hahaha, masa sih?"

"Iya, bener."

"Tapi aku tidak janji bisa selalu hadir di kegiatan ya?" kataku.

"Tenang, aku pastikan kamu bisa hadir, hehe.."

"Kok bisa?" tanyaku.

"Jadwal rapat akan disesuaikan dengan waktu luangmu.." jawab Zen.

"Hmmm." tulisku.

"Udah selesai acara di tempat pak dhe Dono?"

"Sudah, ini sudah dirumah kok, hehe," aku menjawab.

"Aku tidak lihat kau lewat.."

"Om Zen tadi sibuk, aku lihat kamu kok.."

"Maaf ya, aku terlalu sibuk jadi tidak sempat memperhatikanmu, iya, aku sibuk dengan lingkungan sekitar, memastikan bahwa tidak ada yang mencoba mengganggumu.."

"Ngomong apa sih Om Zen, hahaha," kataku mencoba menetralkan hati yang baru saja dikejutkan oleh kalimatnya.

"Ngomong kamu, hehe," balas Zen.

"Om.."

"Apa? Oh iya, besok mulai menariki iuran khusus pemuda, untuk acara agustusan hari minggu nanti.. Kita cuma punya persiapan tiga hari untuk mengadakan acara perlombaan.." Zen menjelaskan.

Sebenarnya tadi aku mau ngomong penting dengan Zen, tetapi terpaksa aku tunda karena dia malah menjelaskan masalah agustusan. Inilah contoh ketidakpekaan cowok yang membuat rugi dirinya sendiri.

"Iya om, aku mau bobok dulu ya.. besok aku sekolah," kataku untuk mengakhiri obrolan lewat SMS malam itu.

"Selamat tidur mahluk bumi.." begitu tulis Zen.

Sebenarnya malam itu aku tidak langsung tidur, masih mendengarkan musik dan juga memikirkan macam-macam hal, sampai kira-kira jam sebelas malam. Dan tak sempat mengucapkan selamat tidur untuk dia. Untuk om Zen.

Bersambung ke BAB VIII..

Sabtu, 09 April 2016

(sambungan dari LAGU UNTUKMU) LEBARAN TANPA SALAMAN

Aku tidak jadi pergi bersama Zen, Risma, dan Sigit untuk jalan-jalan ke Kaliwadas hari ini karena tidak diberi izin oleh nenekku. Aku selalu menuruti apa kata nenek. Yang baik-baik. Harus. Karena aku tinggal bersama beliau dan juga dirawat oleh beliau. Jadi anggap saja menuruti ucapannya adalah sebagai ungkapan terima kasihku kepadanya.

Hari ini adalah hari dimana pasar ramai penjual kembang. Iya, mulai dari kembang segar, kembang api, sampai kembang desa kalau mau. Enggak ding, bercanda. Jadi ketularan Zen nih. Dan tentunya tradisi pasar kembang ini juga sudah ada sejak jaman dulu. Aku ingat dulu waktu kecil sering diajak ke pasar kalau sudah mepet lebaran begini dan biasanya nanti aku minta dibelikan kembang api pada ibuku. Ah, betapa lucunya waktu kecil dulu.

Sekarang aku juga sedang diajak nenekku ke pasar. Belanja. Beli sayuran, beli wadah ketupat, beli daging, dan tentunya kembang tujuh rupa yang adalah tujuan utamanya pergi ke pasar. Tapi aku tidak minta kembang api karena aku sudah besar. Kalaupun nanti kalian melihat aku mainan kembang api, itu bukan punyaku, tetapi punya anak kecil lain. Bisa anak tetanggaku, bisa anak saudaraku, bisa juga anakku nanti. Hehehe. Kalau sudah menikah.

Saat hampir lebaran begini, yang rame bukan cuma pasar kembang saja tetapi juga jalanan ramai, lebih rame dari biasanya. Mungkin akibat dari banyaknya orang mudik kali ya. Aku lihat banyak orang-orang yang tadinya jarang aku lihat dikampung, sekarang nongol. Dan tadi sewaktu aku berangkat mengantar nenekku ke pasar, disamping jalan juga banyak yang buka usaha dadakan TERIMA POTONG AYAM. Entah kenapa kalau mau lebaran begini orang suka banget pada nyembelih unggas seperti ayam, bebek, dan menthok. Aku nggak mau memikirkan itu, biar Zen saja yang memikirkannya karena memang dia suka memikirkan hal-hal yang orang lain tidak mau memikirkan.

Yang lebih rame adalah toko-toko baju dan mal-mal. Orang-orang pada berebut beli baju baru dan mencari diskon-an. Udah kayak semut merubung gula aja. Atau mungkin yang ada dalam pikiran orang-orang itu adalah bahwa ini lebaran terakhir mereka. Hehe.

Akhirnya, nenekku selesai belanja. Kami pun segera pulang. Tak ada yang istimewa hari ini. Karena aku dari pagi sibuk membantu nenekku. Paling tadi aku sepintas melihat Zen waktu dia sedang mencuci motor disamping rumahnya, di lapangan bulutangkis. Iya, kalau mau lebaran begini memang orang-orang juga jadi pada rajin bersih-bersih. Itu motor Zen juga mungkin dicucinya pas mau lebaran aja, setahun sekali. Hihihi.

"Rajin banget om.." aku SMS zen.

Beberapa jenak kemudian baru ada balasan. Mungkin baru selesai cuci motornya.

"Harus dong.. Eh, tadi ke pasar ya?" tanya Zen.

"Iya, nganter nenek, emang om Zen lihat aku?" aku balik bertanya.

"Nggak usah lihat pun, aku sudah apal suara motormu dan bau mu, hehe.. Tiap pagi kalo mau sekolah kan lewat depan rumahku.."

"Ah, om Zen.."

"Beli apa aja tadi ke pasar?" Zen bertanya.

"Banyak, ada kembang, ada sayur, daging, bungkus ketupat, dll." jawabku.

"Oh, nggak beli mercon?"

"Nggak, eh itu nyuci motornya yang bersih.."

"Udah selesai, bersih, wangi, berkilau.. Hehe"

"Hahaha, emang pakai apa nyucinya?"

"Ah, cuma pakai shampoo.. Hehe."

"Hahaha.. kayak iklan."

"Eh, udah dulu ya, sekarang giliran aku yang mau ke pasar, nganter mbak Nit.." kata Zen.

"Iya, om, hati-hati ya.." kataku.

"Iya.."

***

Senja itu pas maghrib, adalah buka puasa yang terakhir dibulan puasa tahun 2014. Aku menikmati buka puasa di Daerah Istimewa Mlokolegi. Dirumah nenek dari ibu. Nanti malam aku akan menghabiskan waktu tidurku di Tegal Suruh dirumah eyang dari Ayahku. Karena menurutku malam lebaran atau malam takbiran di Mlokolegi itu kurang rame khususnya di tempatku tinggal di Pojok Mlokolegi. Habis makan, aku sholat maghrib. Lalu pergi naik motor ke Tegal Suruh. Sendiri.

***

Selepas Isya. Suara takbir berkumandang dimana-mana. Suara bedug dipukul berirama mengiringi takbir. Pertanda hari lebaran. Hari kemenangan. Hari raya idul fitri.
Langit malam dihiasi letupan suara kembang api dan cahayanya yang indah. Ramai sekali malam itu dan kebetulan tidak hujan. Zen SMS aku.

"Jalan-jalan yuk.." begitu tulisannya.

"Aku sedang pergi.." balasku.

"Kemana?" dia bertanya.

"Tegal Suruh.." aku menjawab.

"Ngapain?"

"Dirumah eyang yang dari ayah.."

"Oh.. Aku kesitu ya?" pinta Zen.

"Jangan, nggak enak sama saudaraku disini."

"Oh gitu, nanti pulangnya jam berapa?" tanya Zen.

"Aku nggak pulang, tidur disini.. Disuruh eyang tidur disini.." jawabku.

"Yaah, padahal aku mau ngajak kamu ikut arak-arakan ini, rame disini.." dia berkata.

"Iya, tapi nggak bisa, karena aku menuruti perintah ayahku.."

"Disitu enak ya?"

"Iya, disini rame nggak kayak di Mlokolegi.. tapi kalau disuruh tidur disini sebenarnya agak nggak suka.."

"Emang, lokasinya dimana?" dia bertanya.

"Tegal Suruh bagian utara, gang paling utara yang depannya sawah-sawah, rumah paling pojok," jelasku.

"Tetap saja di pojokan.."

"Hahaha.."

"Besok berarti nggak sholat ied di Mlokolegi?"

"Besok aku pulang, habis sholat subuh.."

"Yaudah, selamat bersenang-senang disitu.. Aku mau bikin gambar ketupat tiga dimensi dilapangan bulutangkis.."

"Seperti apa itu om?"

"Gambar yang kalau difoto bisa tampak seperti benda yang berdiri padahal aslinya gambar datar.." jelasnya.

"Om Zen.."

"Apa?"

"Aku kagum padamu.." entah aku sadar atau tidak waktu menulis ini dulu.

"Kenapa kagum padaku?" dia bertanya.

"Kamu itu pintar, baik, dan wawasannya luas.." jawabku.

"Terima kasih.. Kalau begitu, aku juga kagum padamu.."

"Apa yang membuatmu kagum padaku?" tanyaku penasaran.

"Kamu cantik, baik, rajin ibadah, dan mau berteman denganku.. Oh iya, suaramu bagus pas baca qur'an.."

"Darimana kau tahu?" tanyaku.

"Aku dengar sendiri waktu pergi kerumah mak Kutis sehabis maghrib.. Waktu itu aku dengar kamu sedang mengaji.." jelasnya.

"Kamu yakin itu aku? "

"Yakin, karena aku hafal suaramu.. dan aku sempat berhenti sejenak diatas sepedaku untuk mendengarkanmu, tepat dibawah jendela kamarmu.."

"Hayoo, ngintip ya? Hahaha.."

"Nggak, hehe.."

"Om, udah dulu ya, aku diajak ngobrol eyang ni, nggak enak kalau mainan hape terus.." kataku.

"Oke.."

"Oh, iya, nanti aku dikasih lihat gambarnya kalau sudah jadi ya?"

"Iya, bulek.."

Dan malam itu aku tidur di Tegal Suruh. Kurang bisa tidur sebenarnya. Rindu kepada kamarku di Mlokolegi. Rindu nyamannya. Dan rindu seseorang yang tumben tidak mengucapkan selamat tidur untukku lewat SMS ataupun telepon. Mungkin dia sibuk menggambar. Tetapi aku tahu, dia pasti mengucapkan selamat tidur untukku dari situ. Iya, aku tidak mendengar, tapi aku juga mengucapkan selamat tidur untuknya. Besok kita ketemu.

***

Subuh, aku bangun. Sholat. Lalu pamitan pulang ke Mlokolegi. Suara takbir masih berkumandang di masjid-masjid, udara dingin mengiringi perjalananku pulang, pagi itu dingin. Aku memakai sweater. Karena aku punya. Dan sepertinya pagi itu orang-orang sudah mulai beraktivitas. Aku sampai dirumah nenekku di Mlokolegi. Langsung mandi dan mempersiapkan perlengkapan sholat ied di Masjid Darussalam. Aku berangkat ke masjid kira-kira pukul setengah enam, bersama mbah Waisah, bulek Harti, mak Kutis, dan mbak Naroh. Ketika kami lewat didepan rumah Zen, pandanganku mencari dirinya, hanya ingin melihat. Tapi tak ada, hanya ada saudara-saudaranya. Sampai di Masjid Darussalam, sudah ramai orang. Jamaah laki-laki ada dibarisan depan yaitu didalam bangunan masjid sedangkan jamaah perempuan ada dihalaman masjid. Tapi tetap saja tidak muat sehingga sebagian ada yang dihalaman rumah orang dan ada yang dijalanan.

Sekitar pukul enam lewat sedikit. Aku melihat Zen baru datang ke masjid. Dia memakai sarung kotak-kotak berwarna cokelat dan baju koko putih serta memakai peci hitam. Wajahnya segar seperti habis wudhu tapi tetap jelek. Hehehe. Dia tidak kebagian tempat dibagian masjid, jadi dia ada dihalaman rumah orang. Duduk bersama jamaah lain diatas tikar.

Adegan sholat ied menurutku tidak usah diceritakan. Lewati saja. Langsung ke adegan aku pulang. Ramai sekali orang-orang berjalan kaki sehabis dari masjid. Ada yang ngobrol dan bercanda. Biasanya para anak cowok itu ngobrolnya keras banget sambil bercanda dijalan. Ah, aku jadi rindu suasana lebaran.

Pas lewat didepan rumah Zen lagi, aku melihat gambar ketupat yang dia buat tadi malam, yang katanya seperti tiga dimensi. Tapi aku melihatnya dari jauh, yang aku tahu hanya ada gambar ketupat besar dilapangan bulu tangkis samping rumah Zen. Ah, biarlah.

Setelah sampai dirumah nenekku, aku langsung melepas mukena dan menggantungnya ditempat mukena. Lalu aku berganti pakaian dengan baju lebaranku. Baju baru. Berjilbab. Kemudian mengeluarkan toples-toples berisi kue ke meja ruang tamu. Berikutnya aku sungkem kepada nenekku dan mohon maaf lahir batin. Lalu bersalam-salaman ke rumah mbah narti dan rumah-rumah tetangga sekitar, seperti Mak Kutis, Mbah Talkiyah, dan Mak Darinah.

Aku agak sedih juga, karena ibuku tidak pulang diwaktu lebaran ini. Ibuku pulangnya nanti sehabis lebaran. Katanya sekalian mau hajatan, khitanan adikku, Agung, yang ikut ibu ke Jakarta. Aku hanya bisa mohon maaf lahir batin lewat telepon. Aku sedikit meneteskan air mata.

Oh iya, aku juga menerima ucapan selamat hari raya idul fitri dari Zen lewat SMS. Begini.

"Entah mengapa, kalo mengarang kata-kata untuk acara seperti lebaran ini, kok sulit ya, aku ga bisa seperti yang lain yang punya kalimat-kalimat kreatif untuk meminta maaf, mungkin karena aku ga suka basa-basi, intinya kalo aku salah ya aku minta maaf aja gitu.. maafin aku ya.. ZEN ARMSTRONG yang BELUM BERKELUARGA."

Aku balas,"Nggak usah pakai yang belum berkeluarga juga kali om, hahaha.."

"Selamat lebaran ya, mohon maaf lahir batin.. Dari aku, Zen, untukmu, Hid.." tulisnya lagi.

"Iya, om, aku juga minta maaf ya.." balasku.

"Iya, bulek.."

Habis itu aku pergi sungkem ke rumah eyang Tegal Suruh. Aku cuma sebentar disana. Cuma salam-salaman, icip-icip kue, dan minum sirop. Karena saat itu aku di SMS Zen bahwa dia ada di rumah nenekku yang di Mlokolegi untuk mau salaman dengan aku.

"Aku mau ketempatmu, mau salaman denganmu.."

"Aku nggak di Mlokolegi," balasku.

"Dimana?" tanyanya.

"Di Tegal Suruh.." jawabku singkat.

"Kapan pulangnya?"

"Sebentar lagi.." aku berkata.

"Oh, ini aku rame-rame sama teman-teman.. Sudah hampir sampai dirumah Mbah Waisah.." kata Zen.

"Aku sebentar lagi pulang.."

"Iya.."

Aku pulang ke rumah Mbah Waisah, tapi ternyata sudah tidak ada Zen. Mungkin dia sudah lewat. Lalu aku cek HP, ada pesan.

"Aku melihatmu.. baru pulang.."

"Iya.."

"Aku sudah sampai dirumah Dhe Sindon," kata Zen.

"Hahaha.. salamannya ntar aja ya.." kataku.

"Oke, nanti malam.." katanya.

"Iya, tapi kalo mau kesini jangan sendirian, ajak Risma.." ancamku.

"Kenapa?"

"Aku nervous kalo harus menemui kamu sendirian.."

"Waduh, nggak usah nervous, aku juga enggak kok, hehe.."

"Om Zen mah malah seneng ketemu aku. Hahaha.."

"Iya, dong.. Nanti malam aku datang.." janjinya.

"Bareng Risma, kalo nggak sama Risma, aku nggak mau nemuin, hehe.." aku mengancam lagi.

"Iya, nanti aku ajak Risma.."

"Sekarang sedang apa om?" aku bertanya.

"Sedang main mercon bawang.. Hehe," jawabnya.

"Apa itu mercon bawang?" tanyaku penasaran.

"Ini, mercon yang kalo dibanting jadi meledak, bentuknya kecil, jadi aman walaupun diarahkan ke baju orang lain sampai meledak.. Kamu mau?"

"Mau apa? Mainan mercon bawang? Ogah ah.." aku bertanya sendiri dan menjawab pertanyaanku sendiri.

"Bukan, maksudnya kamu mau dilempar mercon ini nggak?"

"Ah om Zen..tetep enggak, hahaha.."

"Nanti sore aku datang habis maghrib ya.."

"Jangan, habis Isya aja, biar tetangga udah sepi.." pintaku.

"Iya deh.." jawabnya.

Hari itu kegiatannya biasa saja. Aku hanya menerima telepon dari pacarku dan kirim-kirim pesan dengan teman-temanku.

***

Hari sudah menjelang malam, dan aku semakin deg-degan, karena Zen janji mau datang. Aku sengaja minta agar Risma datang dulu ke tempatku. Untuk jaga-jaga. Aku bener-bener nervous. Tiba-tiba ada pesan dari Zen.

"Maaf, sepertinya aku agak telat, aku sedang di Muncang, tempat temanku.."

"Iya, nggak apa-apa.." balasku.

"Risma aku SMS tidak terkirim, gimana nih? Aku datang sendiri aja ya?"

"Nggak boleh, hehehe."

"Ah, boleh dong.."

"Enggak, weeek!"

"Ah, pelit, masa mau silaturrahim nggak boleh.."

"Hehe, eh, ini Risma udah disini.. Om Zen kalau mau kesini cepetan ya.. Nanti Risma keburu pulang," kataku.

"Aduh, nggak bisa sekarang, lagi ada acara disini.. suruh Risma menunggu, hahaha.."

"Lihat gimana entar, aku mau ngobrol sama Risma dulu.. daa"

Malam itu aku ngobrol bersama Risma sampai jam setengah delapan malam. Tapi suasananya kayak udah jam sepuluh malam, sepi banget. Maklum dikampung. Zen belum datang. Padahal aku sudah mulai mengantuk. Akhirnya Risma pulang, dan aku bersiap-siap masuk kamar ketika tiba-tiba ada pesan dari Zen.

"Risma masih disitu?" dia bertanya.

"Udah, barusan." jawabku ketus.

"Aku sudah sampai Tegal Suruh, aku ketempatmu ya?"

"Nggak boleh, nggak sama Risma. Wek!" aku kesal.

"Nanti aku minta Risma menemani aku ketempatmu," katanya.

"Nggak bakalan mau dia, tadi habis dari sini, katanya dia ngantuk mau tidur.."

"Terus, aku nggak jadi salaman sama kamu?"

"Nggak, aku juga sudah ngantuk mau bobok.."

"Oh, gitu.. yaudah, nggak apa-apa, aku langsung pulang kerumah aja, kamu istirahat ya.."

"Iya, terima kasih.."

"Jangan lupa.." katanya.

"Iya, aku tahu kok.."

"Apa?" dia bertanya.

"Jangan ingat aku, kan?" jawabku.

"Pinter.."

Itulah harinya, dimana aku tidak bersalaman dengan orang yang selalu membuatku merasa terganggu dengan tingkahnya. Padahal itu hari lebaran. Hari raya idul fitri. Dimana seharusnya saling bermaaf-maafan sambil bersalaman. Kembali fitri, suci, bersih dengan saling memaafkan dan bersilaturrahim.

Maaf, om Zen, mungkin kamu kecewa denganku karena aku tidak mau kau temui sendirian. Aku takut, ada tetangga yang melihat dan mengira yang tidak-tidak. Dan aku juga nervous, aku belum pernah didatangi seorang cowokpun ke rumah, termasuk pacarku. Maaf, waktu itu.

Mungkin lebaran tahun depan kita bisa salaman. Hehehe.

Bersambung...

Kamis, 31 Maret 2016

(sambungan dari STICKER AMBIGRAM) LAGU UNTUKMU

Setelah acara buka puasa bersama itu, aku dan Zen lebih sering berkomunikasi. Yang namanya berkirim pesan lewat SMS dalam sehari bisa mencapai 50 pesan. Bahkan bisa lebih. Telepon juga, kadang sampai tiga kali sehari, udah kayak minum obat aja, hehe. Itu biasanya terjadi sehabis sholat subuh dan setelah sholat tarawih.

Aku akan menceritakan kejadian-kejadiannya, mencoba mengurutkan sesuai waktu terjadinya. Karena ini merupakan bagian dari sejarah.

Aku kadang seperti bingung sendiri sampai sekarang. Kenapa aku dulu bisa sangat mementingkan Zen daripada pacarku sendiri. Padahal aku sudah pernah bilang bahwa Zen tidaklah ganteng dan keren penampilannya. Aku juga sempat tidak menggubrisnya serta bersikap cuek terhadapnya. Ini bukan rasa cinta. Tapi entah apa. Mungkin kalau kalian jadi diriku pada saat itu,kalian juga akan mengalami perasaan seperti yang aku rasakan. Rasa dimana ada seoranp cowok yang sikapnya lebih manis dibanding pacar sendiri. Dan rasa itu tidak tersedia di dalam roti yang dijual dengan harga seribuan di warung.

Seperti malam itu, ketika aku sedang ditelepon pacarku tetapi kemudian ada telepon masuk juga dari Zen. Cuma miskol. Mungkin dia tahu aku sedang menerima telepon dari orang lain. Jadi dia mengalah. Aku langsung SMS ke dia.

"Ada apa?"

"Cuma ingin ngobrol, boleh?" begitu balasnya.

Aku sudahi telepon dengan pacarku. Lalu aku menelepon Zen. Langsung diangkat. Aku yakin pasti saat itu dia girang banget ditelepon oleh diriku.

"Halo.." sapaku.

"Halo.." dia membalas sapaanku.

"Lagi apa om?"

"Lagi tiduran, dan ditelepon sama kamu.."

"Dimana?"

"Diatas pohon, bersama raja semut, hehe.." jawabnya bercanda.

"Ih, om Zen.. Serius, dimana?" tanyaku.

"Dikamar.. eh, kamu tahu lagunya Muse nggak?" dia bertanya padaku.

"Ngerti.." jawabku singkat.

"Suka nggak?"

"Suka.. tapi aku ngertinya yang lagu itu aja, apa itu judulnya yang.. yang.."

"Starlight?" dia menyela.

"Bukan.."

"Histeria?"

"Bukan.. lagunya itu melow banget, pokoknya kalau disetel malam-malam dingin itu cocok banget.. judulnya aku nggak tahu, susah ngucapnya." jelasku.

"Oh, itu Unintended kayaknya.." kata Zen.

"Mungkin.. coba nyanyinya gimana?"

"Sebentar.. aku ambil gitar dulu, dengar sampai lagunya selesai ya.." pintanya.

"Iya.."

Malam itu, tanggal 24 Juli tahun 2014, dia menyanyikan lagu Unintended untukku. Aku suka. Walaupun suaranya pas-pasan, hihihi. Buat yang mau tahu lirik lagunya seperti apa, aku berbaik hati menuliskannya.

UNINTENDED


You could be my unintended
Choice to live my life extended
You could be the one I always love..


You could be the one who listens
To my deepest inquesition
You could be the one I always love..


I'll be there as soon as I can
But I'm busy mending broken
Pieces of the life I had before..


You could be the one who challenge
All my dreams and all my balance
She could never be as good as you..


You could be my unintended
Choice to live my life extended
You should be the one I always love..


Dan pada saat Zen menyanyikan itu untukku. Akupun sebenarnya ikut bernyanyi dengan suara pelan dikamarku.


Selanjutnya kami ngobrol santai sambil sesekali nyanyi-nyanyi bareng ditelepon. Biasanya aku dulu yang mulai bernyanyi, lalu Zen mengikuti. Lagu apa saja yang aku ingat, aku nyanyikan. Kadang aku sengaja menyelipkan lagu yang menggambarkan perasaanku kepada Zen. Karena aku tidak mungkin mengatakannya jika harus sengaja mengatakannya. Jadi dengan lagu aku bisa bebas mengungkapkan perasaanku.


"Kamu cita-citanya, ingin jadi apa?" tiba-tiba Zen bertanya setelah tadi aku bernyanyi lagu Titanium.


"Apa om? Maaf, tadi nggak dengar." kataku agar Zen mengulangi pertanyaannya.


"Kamu cita-citanya, ingin jadi apa bulek?" ulangnya.


"Jadi dokter," jawabku mantap.


"Bagus.. Nanti setelah lulus SMA lanjut ke Universitas mana?"


"UGM, Fakultas Kedokteran," jawabku dengan semangat.


"Semoga bisa masuk kesana ya.."


"Iya, aamiin.."


"Waah, nanti aku panggil kau bu dokter ya?"


"Hehehe." aku hanya tersenyum.


"Belajar yang rajin ya, Bulek.."


"Iya, Oom.."


"Tapi, hati-hati juga di dunia perkuliahan.. jaga diri baik-baik.." katanya.


"Memangnya kenapa Om?" tanyaku penasaran.


"Cewek secantik kamu, pasti bakal jadi incaran banyak cowok dikampus.. dan aku takutnya, mereka hanya ingin merusak dirimu.. sudah banyak contohnya kan? Aku tak ingin kau diganggu orang-orang seperti itu.."


"Iya om, terima kasih sudah mengingatkan," kataku.


Zen banyak bercerita tentang kehidupan mahasiswa dan kampus padaku. Yang membuat aku jadi tambah wawasan, tambah mengerti, dan membuka pemikiran. Aku rasa, dia adalah sosok yang aku inginkan. Dia bisa berperan sebagai teman sekaligus kakak bagiku. Iya, aku anak pertama, jadi aku tidak pernah mengerti rasanya punya kakak yang bisa melindungi dan menyayangiku. Dan juga bisa ada untukku setiap aku membutuhkannya. Seperti Superhero di film-film.


"Oom, aku ngantuk, aku bobok duluan ya.." kataku lirih.


"Iya bulek dokter.. hehe.."


"Ah, apaan sih om.." aku tersipu.


"Eh, jangan ingat aku ya.." Zen berkata.


"Kok gitu?" tanyaku heran.


"Biar aku saja yang mengingatmu, dan mengucapkan selamat tidur untukmu.." kalimatnya itu membuat aku terpana dan tersanjung. Tidak seperti pacarku yang mintanya selalu diingat dan ketemu dimimpi. Zen malah tidak ingin diingat tetapi dia sendiri yang akan mengingat diriku. Dan kalian harus tahu, aku melanggar ucapan Zen. Iya, aku malah mengingatnya serta mengucapkan selamat tidur untuknya.


"Selamat tidur juga Oom Zen.."


***


Paginya masih gelap dan dingin. Aku dan nenekku habis sholat subuh di mushola Al Amin. Sesampai dikamarku dan mengecek hape-ku, ternyata ada pesan masuk. Kalian pasti sudah tahu siapa pengirimnya.


"Jalan-jalan yuk!"


"Kemana?" tanyaku membalas pesan dari Zen.


"Keliling Daerah Istimewa Mlokolegi aja tuan Putri.. Melihat negerimu dan kehidupan rakyatmu, aku yang jadi pengawal, hehe.."


"Apaan sih?" aku jadi malu. Dia memang suka berimajinasi yang aneh-aneh, kayak anak kecil.


"Kamu kan saat ini cewek tercantik di Daerah Istimewa Mlokolegi, jadi semua orang harus tahu bahwa kamu juga tidak sombong untuk menyapa rakyat-rakyatmu disini.. mau nggak?"


"Dingin.. hehe, kapan-kapan aja ya.. lagian aku malu kalau jalan sama cowok yang bukan keluargaku, nanti dikira pacaran.." alasanku menolak adalah takut ada yang melihatku kemudian melapor pada ibuku.


"Ah, baiklah.. kapan-kapan," Zen mengiyakan.


"Aku juga kalau mau keluar harus minta izin ke nenekku.. nggak apa-apa kan?"

"Oke.." jawabnya singkat.

"Sebenarnya aku ingin menyanyikan lagu untukmu, tapi nanti aja ya kalau telepon.."

"Lagu apa?" Zen bertanya.

"Ada deh.. Hahaha"

"Ah kau.."

"Om sudah dulu ya, assalamu'alaikum.." aku mengakhiri SMSan itu karena pacarku menelepon.

***

Matahari mulai menampakkan sinarnya. Menyinari bumi dan jutaan bulir-bulir embun dipucuk dedaunan serta rerumputan Daerah Istimewa Mlokolegi. Aku sedang menyapu lantai karena disuruh. Capek juga walau sudah terbiasa. Sayup-sayup aku mendengar handphone-ku berbunyi. Mungkin ada yang menelepon. Iya benar, ada yang menelepon. Dan itu adalah mahluk yang tampaknya suka sekali menggangguku dan membuang waktuku. Tetapi aku suka diganggu olehnya. Zen.

"Halo.." aku berbicara.

"Halo.." suara Zen disana.

"Ada apa?"

"Ada aku disini.. hehe.. sedang apa sekarang?" dia bertanya.

"Tadi sedang menyapu, tapi sekarang sedang berbicara denganmu.." jawabku.

"Apakah aku mengganggu?"

"Nggak," jawabku singkat.

"Oh iya, tadi katanya mau nyanyi buat aku.. lagu apa?" dia menagih janjiku.

"Hehe, itu.. emmm, lagunya Padi.."

"Yang judulnya apa?"

"Itu, Harmoni.." jawabku.

"Oh iya, aku tahu.."

"Dengar ya," pintaku.

"Silakan menyanyi, aku mendengar.." katanya.

Asli aku menyanyikan lagu itu dari awal sampai akhir. Kadang Zen juga ikut bernyanyi pas masuk bagian reff.nya. Lagunya bagus, berisi tentang kehidupan sebagai manusia didunia.
Aku juga berbaik hati menuliskan liriknya untuk kalian baca.


Harmoni


Aku mengenal dikau
Tak cukup lama
Separuh usiaku


Namun begitu banyak
Pelajaran
Yang aku terima


Kau membuatku mengerti hidup ini
Kita terlahir bagai selembar kertas putih..
Tinggal kulukis dengan tinta pesan damai
Dan terwujud harmoni..


Segala kebaikan
Takkan terhapus
Oleh kepahitan


Kulapangkan resah jiwa
Karena kuyakin
Kan berujung indah..


"Sudah om.." kataku.


"Suaramu bagus," Zen memuji.


"Terima kasih, tapi menurutku biasa aja kok," aku merendah.


"Beneran, bagus.. lain kali nyanyi bareng yuk, mau?"


"Nggak ah, malu, hehe.."


"Tadi, lagu itu kau nyanyikan untukku?"


"Hu-um," aku menjawab sambil tak sadar mengangguk, padahal dia nggak akan melihat. Ekspresiku saat itu adalah menggigit bibir bawah dan memegangi sapu.


"Terima kasih.. sudah mau menyanyikan.."


"Sama-sama om, sudah mau mendengarkan.."


"Eh, jangan lupa sarapan ya.."


"Iya, eh nggak ding, ini kan masih puasa om.. Hahaha"


"Oh iya, lupa, hehe.."


"Ah om Zen udah tua, pelupa, hahaha.."


"Heheh.. Baiklah.. Aku mau beraktifitas dulu ya.. Udahan ah.." katanya.


"Iya om, terima kasih sudah menelepon," kataku.


"Terima kasih juga sudah mau diganggu.."


"Hahaha.." aku tertawa.


"Boleh assalamu'alaikum nggak nih?"


"Ya, assalamu'alaikum.." kataku.


"Wa'alaikumsalaam.." balasnya.


Telepon aku tutup. Aku melanjutkan aktifitasku. Bulan puasa hampir selesai. Seperti sudah dijadikan tradisi, jika harus bersih-bersih rumah untuk menyambut lebaran Idul Fitri. Kali ini aku semakin semangat melakukan aktifitasku. Sambil bernyanyi dan sesekali menari bagai penari balet. Nenekku hanya tersenyum melihat tingkah cucunya yang paling cantik ini tiba-tiba jejingkrakan kayak orang kesurupan. Untung mak Kutis tidak lewat dan melihatku. Tapi aku yakin dia pasti mendengar suaraku yang sedang bernyanyi. Hari itu aku benar-benar semangat. Karena dia. Zen.


(sambungan dari SEMAKIN MENDEKAT) STICKER AMBIGRAM

Memasuki minggu akhir bulan puasa, pemuda Mlokolegi yang tergabung dalam organisasi I.Ra.K (Ikatan Remaja Kemplokolegi) berencana mengadakan acara buka puasa bersama. Awalnya itu hanya ide iseng saja dari aku dan Risma karena merasa daerah kami ini sepi tanpa kegiatan pemudanya. Ternyata saat aku bilang tentang ide ini ke oom Zen, langsung mengiyakan dan akan menghubungi pemuda lain untuk ikut berpartisipasi. Aku masih ingat obrolanku dengannya lewat SMS yang membahas soal buka puasa bersama.

"Selamat malam.. boleh aku mengganggu?"

"Malam juga, om."

"Eh, nggak tarawih ya?"

"Iya, perutnya sakit.. om Zen nggak tarawih juga?"

"Nggak, lagi kerja, sakit kenapa?"

"Kekenyangan, hehe.. tadi habis makan mie ayam, dibeliin mbah Narti," jawabku.

"Di Castam ya?" dia bertanya.

Oh iya, Castam adalah nama orang, penjual mie ayam yang paling terkenal di wilayah Sragi dan sekitarnya. Orang Mlokolegi. Kedainya ada di sebelah selatan SMA Negeri 1 Sragi. Namanya Mie Ayam Tenda Biru, karena dulunya sebelum punya kedai berbentuk bangunan, warungnya hanya menggunakan tenda terpal berwarna biru dipinggir jalan, tepatnya didepan rumah Ibu Hajjah Tulipah.

"Bukan, tadi ada tukang mie ayam keliling lewat sini."

"Oo.. yaudah kamu istirahat aja.."

"Iya, om, makasih.. tapi ngomong-ngomong kamu lagi kerja apa?" tanyaku penasaran dan memang sebenarnya aku masih ingin ngobrol dengan dia, soalnya dirumah sepi. Pacarku juga mungkin sedang tarawih jadi nggak ada SMS ataupun telepon dari dia.

"Kerja freelance bikin desain.."

"Desain apa?"

"Logo dan kaos.."

"Itu dijual ya?"

"Iya.."

"Dapat duit?"

"Iya.."

"Berapa?"

"Tergantung kesepakatan, harganya beda-beda karena desainnya juga beda-beda.."

"Oh, aku mengganggu ya? Maaf ya.."

"Nggak kok, kamu tidak mengganggu, aku malah senang ditemani kamu SMS-an.."

"Hehe :-)," aku tersenyum. Pakai emoticon senyum.

"Eh, aku bikin sticker ambigram buat kamu.."

"Apa itu om?" tanyaku nggak ngerti.

"Itu, ambigram adalah kata yang bisa dibaca bolak-balik tetap sama, termasuk seni typography.." dia menjelaskan.

"Masih nggak ngerti, hehe.." aku akui aku bukanlah orang yang mengerti hal-hal seperti itu, aku hanya fokus pada pelajaran disekolah.

"Nanti kalau sudah lihat bentuknya pasti paham.."

"Iya deh.."

"Aku bikin namamu.."

"Iya.."

Kalian sadar nggak? Perhatikan tulisan SMSku, tanpa sadar aku sudah mengikuti gaya tulisan Zen yang memakai titik-titik diakhir kata atau kalimat. Ternyata intensitas hubungan bisa mempengaruhi kebiasaan secara psikis. Inilah mengapa orang yang berpasangan pasti memiliki chemistry diantara keduanya. Walaupun aku dan Zen tidak memiliki hubungan khusus.

"Eh, bulek, aku dengar dari Risma kalau kamu ingin mengadakan buka puasa bersama, bener nggak?" Zen bertanya.

"Emang Risma bilang gimana?"

"Dia bilang, eh mas Zen, kae Depol jare pingin ono buka bersama, gitu.."

"Oh.. iya aku ingin ada kegiatan itu, biar nggak sepi kampung ini.."

"Iya bener juga, aku juga merasa begitu, kegiatan pemuda harus dihidupkan lagi.."

"Bener om.."

"Oke, nanti aku bilang ke teman-teman yang lain.."

***

Besok sorenya Zen mengirim pesan kepadaku.

"Jadi, akan ada buka puasa bersama.."

"Kapan?" tanyaku membalas SMS yang dikirimnya belasan menit terlewat. Aku tadi sedang mandi.

"Hari Jumat, tanggal 25 Juli 2014.." jawabnya.

"Tempatnya dimana?"

"Rencananya di Keboen Bamboe Comal, aku sudah bicarakan sama Danang dan Ari.."

"Oh, iurannya berapa, Om?"

"25 ribu.."

"Ok.."

"Sudah mandi?" dia bertanya.

"Udah.."

"Pinter.."

"Aku mau pergi dulu om, mau nganter nenekku," aku pamit.

"Kemana?"

"Ke Sragi beli lauk buat buka puasa nanti..," jelasku.

"Iya, hati-hati.."

"Iya, makasih..

***

Malam harinya, cuaca bagus, ada sedikit angin berhembus. Selepas maghrib, Mbah Waisah dan Mbah Narti duduk selonjoran diteras rumah sambil ngobrol. Aku juga ikut duduk disitu. Tapi aku tidak ikut ngobrol. Aku hanya mendengarkan mereka sambil mainan hape-ku.

Kemudian mak Kutis yang rumahnya tepat dibelakang rumah nenekku itu datang dan ikut ngobrol disitu. Mak Kutis ini orangnya asyik. Kadang aku minta ditemani dia kalau mau pergi membeli sesuatu yang berhubungan dengan anak muda, bahkan kadang aku juga curhat sama dia. Setelah mak Kutis datang, ada lagi yang nyusul, yaitu Mbah Talkiyah, rumahnya disebelah barat rumah Mak Kutis, bisa dikatakan tepat disamping kirinya. Lalu Bulek Harti juga ikut duduk disitu. Komplit deh ibu-ibu pada ngerumpi. Aku hanya mendengarkan dan kadang ikut tertawa mendengar obrolan mereka yang kadang lucu. Tiba-tiba ada SMS masuk dari Zen.

"Aku mau ke rumahmu, sekarang.."

"Jangan om, rumahku ramai.."

"Nggak apa-apa, aku sudah jalan.."

"Mau apa?"

"Mau ngasih kamu sticker.."

"Kapan-kapan aja, banyak orang disini, aku malu.." jelasku kepadanya agar dia membatalkan acara kunjungannya karena aku takut dan malu kalau ada seorang cowok datang dan memberiku sesuatu. Nanti dikira aku pacaran.

Tidak lama kemudian dari arah Timur atau arah depan rumah nenekku, terlihat Zen naik sepeda. Dia memakai sarung motif kotak-kotak besar warna cokelat dan baju motif kotak-kotak kecil berwarna ungu. Berdua. Tapi aku tidak tahu siapa yang diboncengnya. Saat tepat didepan rumah, hatiku sudah dag dig dug ser, berdetak kencang. Bagaimana kalau dia nekat berhenti dan benar-benar bertamu? Tak tahu harus berbuat apa. Tapi tiba-tiba secara mendadak Zen membelokkan sepedanya ke arah samping rumah menuju jalan ke rumah mak Kutis. Entah kenapa. Semenit kemudian dia dan temannya itu lewat lagi, pergi menjauh. Mungkin pulang. Dalam hatiku berkata,"Kenapa pergi lagi? Aneh."

"Kok rame ya?" dia SMS.

"Kan tadi aku udah bilang.." belaku.

"Hehe, iya, kirain cuma ada sedikit.. Aku malu.."

"Aku juga malu kalau kamu jadi bertamu.. udah deg-degan tau.."

"Hahaha.."

"Tadi sama siapa?" tanyaku.

"Cekrek.."

"Siapa Cekrek?" aku tidak tahu kalau ada nama pemuda Mlokolegi yang seperti itu.

"Eh, itu Ari anaknya Pak Slamet ketua RW, tadi aku paksa dia untuk menemaniku, padahal dia tadi mau mandi.."

"Hehehe.. Kok dia mau?"

"Aku bilangnya mau nganterin undangan buka puasa bersama buat kamu.." jelasnya.

"Hehehe.. dasar.." aku senyum.

"Yaudah stickernya nanti aja kapan-kapan ya.."

"Iya om, hehe.."

***

Malam berikutnya ada pemberitahuan dari Zen kalau ternyata acara buka puasa bersama jadwalnya berubah.

"Jadwal buka puasa bersama berubah." katanya.

"Kok bisa?" tanyaku.

"Iya, soalnya kalau hari Jumat itu terlalu mepet sama hari Lebaran.. karyawan Keboen Bamboe pada mudik.."

"Oh, terus?"

"Katanya sih bisa aja kalau mau pakai tanggal itu, tapi mereka cuma menyiapkan hidangan tanpa ada pelayanan, tadi aku sudah bicara dengan pemiliknya sama Danang sekaligus ngasih DP.." jelasnya.

"Terus jadinya diganti hari apa?"

"Jadinya hari Rabu.."

"Nggak Kamis aja Om?"

"Nggak bisa, Danang ada bukber sama alumni SMP.."

"Oh, yaudah, tapi aku sudah terlanjur bilang sama nenekku kalau buka puasa bersama hari Jumat.." aku berkata.

"Bingungnya kenapa?" tanya Zen.

"Kalau tiba-tiba aku pergi pas hari Rabu dan bilang mau buka puasa bersama, nenekku nggak percaya, dikira aku bohong.. Nenekku itu sangat protektif ke aku.." aku menjelaskan.

"Yaudah nanti aku bikin undangannya khusus buat kamu.. biar nenekmu percaya.."

"Iya om, terima kasih.. Aku mau bobok dulu ya.."

"Iya, jangan lupa.."

"Lupa apa?"

"Aku mengucapkan selamat tidur dari sini, kamu nggak akan dengar.."

"Iya.."

Dalam hati aku menjawab,"aku juga mengucapkan selamat tidur dari sini.."

***

Besoknya, pagi sekitar pukul sepuluh. Zen datang kerumahku bersama Danang. Saat itu aku sedang di dapur, membantu nenekku bikin kue. Maklum mau lebaran. Aku diberitahu kalau ada tamu untukku, yang memanggil Bulek Harti. Lalu aku berjalan menuju ruang tamu. Aku duduk. Aku merapikan rambutku, mengikatnya ke belakang membentuk gulungan rambut diatas kepala. Disitu ada Bulek Harti dan suaminya juga.

"Ada apa?" tanyaku setelah posisi dudukku nyaman. Posisiku tepat menghadap Zen.

"Ini, undangan buka puasa bersama, jadwalnya berubah," Danang yang bicara.

"Oh iya," jawabku datar karena aku sudah diberitahu oleh Zen soal perubahan jadwal ini. Dan sebenarnya undangan ini juga hanya sebagai formalitas agar nenekku tahu akan adanya perubahan jadwal ini. Biar tidak curiga.

"Yasudah, begitu saja, kami pamit dulu," Danang lagi yang berbicara.

"Terima kasih ya.." aku yang bicara.

Kemudian mereka berdua beranjak dari tempat duduk untuk pergi keluar. Aku juga berdiri mengantar sampai di pintu.

"Assalamu'alaikum.." Zen yang mengucap salam sambil memakai sandalnya.

"Wa'alaikumsalaam.." Aku yang membalas salamnya sambil memegang kertas undangan.

Aku masuk. Melanjutkan pekerjaan membantu nenek bikin kue lagi. Baru sebentar sudah ada pesan masuk dari Zen.

"Rambutmu dicat ya?" tanya Zen.

"Nggak.. Kenapa?" aku bingung.

"Oh, tadi sepintas aku lihat ada warna merah diantara rambut hitam milikmu, pas kena cahaya matahari.."

"Bukan, nggak disemir.. Ini alami.." balasku.

"Merahnya bagus, bukan merah pirang karena sering kepanasan, tapi kayak rambut jagung gitu, hehe.."

"Iya, ini alami.."

"Kayak orang bule ya Bulek?" Zen menggodaku.

"Iya dong.. Bule Hid, hehe.. Aku mau lanjut bantu nenek bikin kue lagi ya.. Kamu minta?"

"Iya, mana?"

"Belum mateng.. Hihihi.."

***

Daerah Istimewa Mlokolegi. Selasa malam. Hidupku rasanya penuh dengan SMS dari Zen. Mentang-mentang SMS gratis. Sesama operator. Padahal orangnya nggak ganteng-ganteng amat, keren juga enggak. Masih kalah keren dibanding penampilan pacarku. Gantengan juga pacarku. Tapi kenapa setiap dapat SMS dari Zen, aku merasakan suasana hati yang berbeda? Dan malam itu aku juga sedang SMS-an dengannya.

"Nanti pas acara bukber, kita boncengan ya.." ajak Zen.

"Emmmm gimana ya?" aku pura-pura berpikir.

"Aku nggak ada motor, dibawa kerja adikku.." kata Zen

"Aku malu.."

"Malu kenapa? Kan ada aku, nanti ngumpet dipundakku aja.. Hehe.." rayunya.

"Malah tambah malu aku, nanti mukaku merah kayak kepiting rebus, hahaha.."

"Kok bisa?"

"Bisa, saking malunya, hehe.."

"Kan kita tetangga, nggak apa-apa dong.."

"Nanti aku tanya sama Risma dulu.." ujarku.

"Kenapa tanya sama Risma?"

"Soalnya Risma juga mau boncengan denganku juga.."

"Baiklah, kalau kamu mau boncengan sama Risma, nanti aku cari boncengan lain.. boleh aku meramal?"

"Apa?" aku penasaran.

"Suatu hari nanti, kamu berboncengan denganku.." Zen meramal.

"Kamu yakin Om?" aku sangsi.

"Lihat saja nanti, Hid.."

"Hehe.."

"Nanti kalau mau tidur, jangan lupa ya?"

"Lupa apa?" tanyaku.

"Ingatan, hehehe.."

"Ah kamu, iya lah.. Kalau lupa ingatan nanti gila namanya, hahaha.."

"Udah ah, aku mau lanjut kerja.."

"Iya.."

***

Daerah Istimewa Mlokolegi, hari Rabu, tanggal 23 Juli 2014, pukul empat sore dibulan puasa. Jalanan tampak lebih ramai dari biasanya. Ya, kali ini banyak pemuda-pemudi yang siap untuk berangkat menuju ke tempat acara buka puasa bersama diadakan. Keboen Bamboe Comal. Aku jadinya boncengan dengan Risma naik motorku. Tapi aku tidak berkumpul dijalan, aku dan Risma ngumpul dirumah Rohma. Dibelakang Mushola Al Amin. Muncul Zen naik sepeda gunung warna merah dan kuning, pakai celana jins hitam panjang, kaos hitam, dan jaket jins yang disampirkan dipundaknya. Menghampiri kami bertiga. Lalu, dengan posisi masih diatas sepeda dan berhenti, dia bilang.

"Ini, sticker ambigram buat kamu.. bisa dibaca bolak-balik.."

Aku hanya diam, pura-pura nggak dengar, menunduk. Sumpah aku malu.

"Ini, ambil, buat kamu.." kata Zen lagi.

"Kae Phol tampani," Risma yang bicara pakai bahasa Mlokolegi yang artinya,"Itu Phol terima."

Aku masih diam. Malu campur bingung. Akhirnya aku suruh Risma aja yang nerima dan ambil sticker itu. Kebetulan Zen juga nggak masalah yang nerima siapa, asal nanti dikasih ke aku. Dia cuma bilang:

"Yaudah, ini stickernya ada di Risma, nanti diambil ya.. Jangan lupa ditempel.." Zen berkata lalu pergi menggowes sepedanya.

"Oh iya, sebentar lagi berangkat!" teriak Zen dari depan Mushola Al Amin.

Setelah Zen pergi, aku terima sticker itu dari Risma. Aku masukkan ke dalam tas. Lalu aku kirim SMS untuk Zen.

"Terima kasih ya.." tulisku.

"Iya, sama-sama.." dia membalas.

Lalu seluruh peserta buka puasa bersama berangkat. Aku berboncengan dengan Risma, sedangkan Zen, aku lihat dia masih belum berangkat, belum dapat boncengan kayaknya. Kasihan juga sebenarnya, dalam hati aku berkata," Maaf, Om, tapi bodo amat, kamu bukan pacarku."

Waktu sudah hampir maghrib saat semua peserta sampai di Keboen Bamboe. Ramai sekali disana. Tempat parkir penuh. Perut sudah keroncongan. Kami langsung menuju ke tempat yang sudah di pesan, pojok kanan belakang dekat dengan Mushola untuk pengunjung dan karyawan. Ada mainan prosotan dan ayunan juga disitu. Eh, ada jungkat-jungkit juga. Suasananya dibuat seperti suasana pedesaan, pondok makannya didesain seperti saung, ada sawahnya, dan banyak pohon bambu hiasnya. Tapi sayang, sawahnya kering, jadi kurang asyik kalau ada yang kecebur disawah. Tidak kotor oleh lumpur. Hehehe.

Makanan belum tersaji. Padahal sebentar lagi bedug maghrib. Yang pusing panitia. Aku lihat Zen, Danang, Tiyan, dan Barudin sibuk mondar-mandir, tak tahu kenapa. Aku sih asyik aja ngobrol sama teman-teman. Waktu itu ada Risma, Cicik, Rohma, Wahyu, Ayu (keponakan Zen), dan Mbak Nita (Ibunya Ayu sekaligus kakaknya Zen yang juga menjabat Kepala Dusun Kemplokolegi).

Akhirnya bedug maghrib sudah dipukul. Duk duk duk begitu bunyinya. Orang-orang dari kelompok lain sudah balapan ambil minum dan makanan. Ditempat kami baru muncul beberapa hidangan saja. Salah kami juga datangnya telat.

Panitia memutuskan untuk mendahulukan peserta cewek untuk makan dan minum dulu, sementara yang belum kebagian boleh minum seadanya. Alhamdulillah. Walaupun yang peserta cowok sebagian ada yang belum dapat jatahnya. Aku lihat mereka memilih untuk sholat maghrib dulu daripada bengong.

Setelah para cowok sholat maghrib, lalu giliran ceweknya yang sholat. Habis itu acara ngobrolnya dilanjut lagi. Sebagian ada yang main ayunan, ada yang main prosotan, ada yang main jungkat-jungkit, ada juga yang naik kuda-kudaan. Lalu yang lain aku lihat nongkrong dijembatan yang melintasi sawah buatan disana. Aku juga SMS-an dengan Zen. Walaupun dekat jarak kami.

"Sudah makan om?"

"Belum, cuma minum tadi, sama nyicipi jajan punya Obes, hehe.."

"Belum kebagian ya?" aku menebak.

"Iya, nggak apa-apa, yang penting peserta udah semua."

"Iya, tapi nanti dapat juga kan?"

"Iya dong, tenang aja.."

"Ini aku mau makan dulu, udah datang nih makanannya.."

"Alhamdulillah.."

Malam yang sedang bagus itu tiba-tiba berubah jadi dingin dan gelap sekali. Bintang yang tadinya banyak jadi hilang tertutup mendung. Hujan turun dengan deras tiba-tiba. Yang lagi pada mainan langsung berlarian menuju saung tempat makan tadi. Terpaksa jam pulang ditunda sampai hujan reda atau minimal tinggal gerimis kecil. Aku masih duduk dipojokkan saung sambil BBM-an dengan pacarku. Sementara aku lihat Zen yang berdiri diantara peserta sambil berbicara entah tentang apa. Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas karena jarak antara aku dan dia lumayan jauh, dan ada suara hujan juga. Tapi samar-samar aku dengar tentang pengumuman.

Kira-kira pukul setengah delapan hujan mulai reda. Tinggal rintik-rintik gerimis yang masih ada menari di atas bumi. Tapi angin bertiup agak dingin. Semua peserta mulai berjalan meninggalkan saung menuju tempat parkir motor. Aku juga. Berjalan sendiri. Tiba-tiba Zen datang dari arah belakangku dan menjajari jalanku.

"Dingin ya?" dia bertanya.

"Iya, tapi masih bisa ditahan kok," jawabku berbohong karena memang aslinya aku kedinginan. Aku hanya memakai baju kaos lengan panjang, celana pensil, dan hijab.

"Yasudah, aku juga dingin, dan tidak ingin sakit, aku tetap pakai jaketku ya.. Kamu kalau kedinginan, biar Risma aja yang didepan.."

"Iya nggak apa-apa.."

"Atau kita boncengan saja?"

"Nanti Risma mau ditaruh dimana?"

"Naiknya bertiga, hehe.."

"Nggak ah, ini udah terang juga, wek!"

"Kamu tahu, kenapa tadi hujan?"

"Tahu dong, aku kan anak IPA.. Karena uap air yang terkandung dalam awan sudah terlalu banyak, jadi dengan sendirinya uap air itu jatuh ke bumi dalam bentuk tetes-tetes air yang disebut hujan, hehe.."

"Bener, tapi yang aku tanyakan adalah, kenapa tadi harus ada hujan? Soal waktu"

"Emmm kenapa ya?.. Nggak tahu deh.." aku memang malas berpikir tentang hal itu.

"Tuhan pasti sengaja menurunkan hujan tadi agar kita bisa berkumpul lebih lama, bukan hanya datang, makan, minum, lalu pulang.. Nggak ada esensinya jika acara perkumpulan hanya begitu saja.."

"Iya aja deh, yang ngomong mahasiswa, hehe," kataku.

"Hehe, jangan gitu ah.. Eh, nanti naik motornya hati-hati ya.. Licin jalannya.. Dingin juga."

"Iya Oom.. Terus kalau tahu dingin, kenapa nggak mau minjemin aku jaket?"

"Karena kalau aku sakit, nggak ada yang menjaga kamu nanti.." jawabannya bikin aku terharu.

"Terus kalau aku yang sakit?" tanyaku.

"Ada pacarmu yang siap menjengukmu.. dan aku dirumah saja.."

"Kok gitu?" tanyaku agak kesal.

"Mendoakanmu biar cepat sembuh.."

"Dasar, udah ah.."

Sampai dirumah, aku lepas hijabku. Aku ganti baju yang tadi dengan baju tidur. Lalu aku ambil tas yang tadi aku bawa pergi ke acara buka puasa bersama. Aku cari sticker pemberian dari Zen. Ada. Aku perhatikan bentuknya dan tulisannya yang katanya bisa dibaca bolak-balik. Lama aku berpikir tentang tulisan apa ini. Ternyata itu adalah tulisan namaku, Devi yang telah dimodifikasi agar bisa dibaca bolak-balik atau istilah kerennya ambigram. Setelah itu aku pasang sticker itu dikaca helmku, disebelah kanan. Sambil tersenyum dan memikirkan betapa kreatifnya Zen. Aku kagum. Dan berterima kasih, itu adalah pemberian pertama dari seorang cowok yang tidak ada nilai jualnya namun menunjukkan kualitas orangnya. Benda itu juga adalah barang pertama yang diberikan Zen kepadaku.

Bersambung lagi ya...

(sambungan dari DIA TETANGGAKU) SEMAKIN MENDEKAT

Malam berikutnya. Setelah sholat maghrib dan berbuka puasa. Ada yang menelepon, nomor baru, tapi pas aku angkat langsung dimatikan. Ternyata cuma missedcall. Dasar fakir miskol. Tapi karena penasaran, aku kirim pesan ke nomor tadi.

"Maaf, ini siapa?" begitu tulisku.

"Ini aku.." jawabnya.

"Kalau kata Risma, yang model SMS-nya dikasih titik-titik itu Zen, bener nggak?" aku menebak.

"Emang Risma bilang begitu?"

"Iya, katanya begini, pokoknya kalau ada SMS masuk ke nomermu dan dibelakang ada titik-titiknya, itu berarti Zen,"

"Kapan?"

"Dulu, waktu kamu bilang ke Risma minta nomerku."

"Hehe.. kamu pintar.."

"Harus dong, nomer kamu baru?"

"Iya, baru beli tadi.. biar operatornya sama dengan punyamu.."

"Biar irit ya? Hehe.."

"Boleh aku menelepon?"

"Eh, jangan sekarang ya, sebentar lagi Isya', tanggung," kataku.

"Baiklah.."

Dari sini aku mulai dekat dengan Zen walaupun hanya komunikasi menggunakan handphone. Dia termasuk yang beruntung bisa dapat nomorku karena tidak sembarang orang bisa punya nomorku. Aku tidak mau ada orang iseng atau pengganggu yang bisa punya nomorku. Biar orang berkata aku sombong, yang penting aku merasa tidak sombong karena ini hanya bagian dari caraku menikmati hidup dengan tenang. Dan aku percaya kalau Zen itu orang baik. Jadi tak masalah kalau dia boleh punya nomorku.

Dia sangat perhatian. Sering mengingatkan aku makan, mengingatkan aku minum, kadang juga mengucapkan selamat tidur. Malah yang aku rasa, dia lebih perhatian dari pacarku sendiri. Tapi pernah juga dia menyuruhku untuk jangan makan.

"Hai, selamat siang.." dia SMS begitu.

"Iya, siang.." balasku.

"Kamu, jangan makan ya.."

"Hah?" aku bingung.

"Iya, pokoknya kamu jangan makan.."

"Emang kenapa?" tanyaku.

"Ini kan bulan puasa, jadi kamu jangan makan siang-siang, nanti batal puasanya.."

"Ah itu, ya ampun, kirain kenapa, hahaha, ya iyalah.."

Dia juga kalau mengucapkan selamat tidur beda dengan orang lain yang pernah mengucapkan selamat tidur padaku.
Biasanya orang lain akan mengatakan;

"Selamat tidur, semoga mimpi indah."

Kalau pacarku sendiri malah sempat-sempatnya menuliskan lirik lagu punya Superman Is Dead yang berjudul Saint of My Life, begini:

"Goodnight my little angel, goodnight my little ones, spread your wings and fly away into your dream, semoga mimpi indah"

Nah, kalau Zen cuma begini ucapannya:

"Percayalah.. Aku mengucapkan selamat tidur dari sini.. Semoga kamu dengar.."

Memang aneh dia. Mana mungkin aku dengar? Sedangkan jarak tempat aku tidur dan dia tinggal kan lumayan jauh, ada kira-kira seratus meter. Kecuali kalau dia mengucapkannya pakai pengeras suara yang ada di mushola Al Amin, aku yakin bukan cuma aku yang mendengar tapi seluruh warga Mlokolegi dengar. Tapi aku tidak berharap itu, kasihan dia nanti dimarah orang banyak.
Diam-diam aku kadang membalas pesannya itu dalam hatiku. "aku juga mengucapkan selamat tidur dari sini.."

Banyak sekali hal-hal yang dia ceritakan selama berkomunikasi denganku. Mulai dari hal-hal ringan seperti kegiatan sehari-harinya yang seru sampai tentang pengetahuan umum yang tidak aku mengerti sebelumnya. Pokoknya selalu ada saja cara dia untuk bisa ngobrol denganku, seperti tak pernah kehabisan bahan obrolan. Terus terang ini menjadikan aku senang dan ingin selalu mendengar cerita-ceritanya. Karena dia tak melulu ngomong soal cinta. Obrolannya variatif. Seperti dia adalah orang yang dikirimkan Tuhan kepadaku. Sebagai penghiburku dan perpustakaan hidupku.

Anehnya rasa itu terjadi saat kami menjalin hubungan lewat telepon saja. Iya, saat saling berpapasan dijalan, aku tak pernah berani menatap matanya secara langsung, aku hanya berani meliriknya. Dan aku seperti patung yang diam tak bisa bicara. Nervous.
Begitupun dirinya, hanya memandangku dan memberi sedikit senyum yang jelek. Tak pernah menyapa diriku. Meng-klakson pun tidak. Kemudian hari, dia menjelaskan alasannya padaku lewat SMS.

"Maaf tadi aku tidak sempat mengklaksonmu, karena pulsa klaksonku habis, ada sih bonus tapi cuma bisa dipakai buat klakson sesama Revo.."

Dalam hati aku tertawa. Dasar orang aneh, dia berkata begitu karena motorku Beat. Tapi aku jawab juga,"Iya, nggak apa-apa.."

Dan juga alasannya kenapa dia tidak pernah menyapa aku adalah karena dia malu dan tak tahu harus bilang apa. Katanya, aku ini cantik sekali dan membuat dia tak bisa berkata-kata walaupun hanya hai.

Ketika aku tanya dia,"Kenapa tidak bisa untuk bilang hai padaku? Padahal dengan yang lain kamu bisa."

Jawabnya begini,"Aku memang tidak bisa menyapamu, melihatmu seperti melihat Medusa, mahluk cantik legenda Yunani yang membuat siapapun yang melihatnya menjadi patung, begitulah aku ketika melihatmu, tak bisa apa-apa, bisaku hanya menyayangimu.."

Sebagai cewek, hatiku langsung dag dig dug ser.. walau agak lebay. Tapi saat itu posisiku sudah punya pacar. Jadi, aku tak mungkin mencintai orang lain.

***

Aku memanggilnya dengan sebutan Oom. Ada ceritanya. Malam itu dia meneleponku.

"Halo.." sapanya.

"Iya, halo," aku balas menyapa.

"Apa kabar?"

"Baik, kamu?"

"Aku juga selalu baik.. Sedang apa sekarang?"

"Biasa, lagi boboan aja dikamar."

"Ooo.. Boleh aku bertanya?"

"Apa?"

"Kok jadi kamu yang tanya? Hehe.."

"Iya, maksudnya boleh, mau tanya apa?"

"Kapan hari ulang tahunmu?"

"Buat apa?"

"Biar bisa kasih hadiah.."

"Nggak ah, nggak penting, lagian udah lewat juga."

"Udah lewat? Biar aku tebak bulannya.."

"Coba aja kalau bisa, hehe."

"Sebentar.. Namamu Devi Nurhidayanti, susah juga, nggak ada sangkutannya sama bulan kelahiranmu.."

"Wek.. bisa nggak?"

"Biar aku cari cara lain, hmm gini, kamu tinggalnya di pojok Mlokolegi, daerah itu adalah daerah yang dekat dengan sawah dan sungai, kira-kira hewan apa yang tinggalnya disawah dan disungai?"

"Kok jadi hewan sih? Nggak nyambung deh."

"Sabar dulu, tenang.. yang tinggal didaerah seperti itu ya palingan ular sawah, katak, kura-kura, sama kepiting.."

"Terus apa hubungannya sama bulan kelahiranku?"

"Hehe, penasaran ya? Biar aku jelaskan, diantara keempat hewan tersebut, yang masuk dalam jajaran zodiak atau rasi bintang hanya kepiting, sebagai lambang zodiak cancer.."

"Terus?"

"Kamu tahu kan kalau orang yang punya zodiak cancer itu orang yang lahirnya bulan Juni, bener nggak?"

"Nggak tahu, wek.."

"Kamu lahir Bulan Juni kan?"

"Ehmm.. iya, kamu bisa aja." aku tersipu.

"Tahun berapa?"

"Ih, kepo deh, hahaha."

"Boleh aku menebak lagi?"

"Terserah.."

"Ok.. aku ingat, dulu waktu aku jadi panitia pemungutan suara untuk Presiden, aku ditugaskan untuk memberikan undangan nyoblos atas nama kamu, dan itu berarti usiamu sudah tujuh belas tahun karena syarat untuk bisa mencoblos adalah warga negara indonesia yang sudah berusia minimal tujuh belas tahun bagi yang belum menikah.. Jadi kalau sekarang ditahun dua ribu empat belas ini usiamu tujuh belas tahun berarti kamu lahir pada tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh tujuh masehi.. Bener lagi?"

"Iyain aja deh, haha."

"Beda sembilan tahun denganku.." kata Zen.

"Apa?!" aku terkejut.

"Iya, aku sudah hampir dua puluh enam tahun.. nanti Agustus usiaku dua puluh enam.."

"Hahahaha, udah tua rupanya, kayak oom-oom.."

"Wa lah, masih muda kok.. kan belum punya anak.."

"Udah tua, kalau gitu aku manggilnya Oom aja deh, Oom Zen, hahaha.."

"Nggak apa-apa, nanti aku panggil kamu Bulek.. Bulek Hid, hehe.."

"Kok gitu?"

"Ya iyalah.. Oom kan pasangannya Bulek, wee.. Kamu mau kan jadi buleknya Obes?"

"Nggak.. nggak.. aku cocoknya jadi mbaknya Obes, aku kan masih kecil, hehe.."

"Kecil apanya?"

"Rambutnya, wek! Hahaha.."

Dari situlah aku mulai terbiasa memanggilnya Oom. Tapi akhirnya dia juga nekat memanggilku Bulek (artinya Tante dalam bahasa Indonesia). Kesel juga sih kadang kalau dipanggil gitu. Aku kan masih siswi SMA, masa dipanggil Bulek? Iya, aku beda sama anak-anak jaman sekarang yang masih pacaran manggilnya udah mami-papi, papa-mama, ayah-bunda, dan lain-lain. Aku sama pacarku aja nggak ada panggilan khusus kok. Tapi ini, kenapa dengan Zen yang bukan siapa-siapa, hanya tetanggaku, nggak pacaran. Malah punya panggilan Oom dan Bulek? Ah, biarlah, aku hanya tersenyum kalau ingat itu. Lucu juga sih..

Dia juga sempat-sempatnya bikin sendal jepit yang ada namanya Om Zen cakep dan Bulek Devi jelek. Ngeselin kan? Padahal udah jelas dia yang jelek dan aku itu cantik. Hehehe.

Terus pas aku tanya,"Kok pakai nama Devi bukan Hid?"

Jawabnya,"Biar semua orang tahu, kalau pakai nama Hid nanti yang tahu cuma aku.. Nggak asyik, Hahaha"

"Ngeselin ih, malu tahu nanti aku dikira pacaran sama Oom Zen.. bisa dimarahi ibu, ih.."

"Hahaha.."

Itulah dia. Yang suka seenaknya sendiri. Tapi dia itu baik, sering ngasih aku cokelat dan hadiah. Suka ngasih aja. Nggak ada maksud tertentu dan nggak ada acara apa-apa. Kadang dititipkan mak Kutis atau dia datang sendiri tanpa bilang dulu. Dia juga kadang membantu aku mengerjakan tugas sekolah. Hehehe.



ini gambar sendal jepitnya.

INI AKU

Hai. Aku Devi. Nama lengkapku Devi Nur Hidayanti. Suku Jawa. Dan aku habis minum air putih dari kulkas. Aku dilahirkan oleh ibuku, namanya Rumiyati, disebuah wilayah kecil yang bernama Kemplokolegi (selanjutnya disebut Mlokolegi), yang masuk dalam wilayah Desa Bulakpelem, Kecamatan Sragi, Kabupaten Pekalongan (sekarang Kabupaten Kajen). Ibu melahirkan aku dibantu seorang bidan desa, namanya Kamini atau biasa dipanggil Bu Mimin. Tepuk tangan dulu buat bu bidan, karena sudah menolong orang melahirkan. Dari cerita itulah akhirnya Aku memilih untuk melanjutkan sekolah di sebuah akademi kebidanan di kota Kendal setelah lulus SMA. Biar jadi bidan. Biar bisa menolong orang melahirkan.

Aku punya masa kecil di Mlokolegi. Tapi kemudian aku pindah ke Bulakpelem karena orang tuaku membuat rumah disana, tepatnya dipinggir jalan raya antara Sragi dan Kesesi. Rumah itu ada ditengah antara rumah Pak Mantri Warsito dan Pak Rismoyo, guru olahragaku waktu SD. Ya, aku dulu sekolah di SD N 05 Sragi. Walaupun namanya SD N 05, tapi sebenarnya itu adalah es-de dengan peringkat terbaik di Kecamatan Sragi. Oh, iya, aku tinggal dirumah itu sampai aku lulus SMP. Sekarang rumah itu sudah dijual, setelah dibiarkan kosong sekian lama. Kata orang-orang disekitar situ, rumahnya berhantu. Bisa buat uji nyali. Aku sih tidak takut. Kecuali kalau disuruh tidur disitu sendirian pas malam jumat kliwon.

Masa-masa SMA, aku kembali ke Mlokolegi, tinggal dirumah nenekku karena orang tuaku pergi merantau ke Jakarta. Nenekku bernama Waisah. Kami tinggal disebuah rumah sederhana yang punya tiga kamar tidur, satu kamar mandi plus WC, ruang tamu, ruang nonton tivi, dapur, dan halaman yang lumayan luas yang kalau siang terang, kalau malam jadi gelap, dan kalau buat tidur tidak nyaman. Coba aja.
Disebelah kanan ada kebun pisang, yang dulunya ada rumah milik Mbah Kalsum, penjual pecel legendaris di Mlokolegi. Kemudian dibagian belakang rumah ada pekarangan untuk memelihara ayam yang pemandangannya tembus ke pesawahan yang indah kalau pas ada matahari terbenam. Rumah nenekku ini berdempetan dengan rumah Mbah Narti, adiknya. Dan dirumah nenekku, aku tidur dikamar nomer tiga. Barangkali kamu mau ngobrol lewat jendela.

Oh iya, kalian tidak perlu tahu tanggal lahirku karena aku khawatir nanti pas ulang tahunku ada kiriman hadiah banyak dari orang-orang tak dikenal. Kasihan nanti nenekku bingung. Yang perlu kalian ingat adalah namaku dan wajahku (yang diatas itu foto asli wajahku), siapa tahu ketemu dijalan.
Banyak orang memanggilku Devi. Tapi dirumah biasanya nenek memanggilku Depi. Lalu teman-teman yang suka iseng menyebutku Dephol. Dan aku ingat, ada seseorang yang memanggilku dengan panggilan yang belum pernah diucapkan orang lain. Dia memanggilku Hid, yang diambil dari nama belakangku, Hidayanti. Orang itu bernama Zen. Yang pernah ada untukku, selalu berusaha menyenangkan aku, meski tanpa ada hubungan apa-apa.

Saat ini aku sedang berada didalam kamar yang nyaman di Mlokolegi. Kamarku. Aku melihat-lihat kembali surat-surat dari Zen yang tulisannya berbeda-beda, kadang rapi dan kadang seperti cakar ayam. Kertasnya juga bukan kertas yang indah-indah, tapi kertas ala kadarnya, malah ada yang berbentuk kertas sobekan. Aku jadi senyum-senyum sendiri.
Ada juga barang-barang pemberian darinya yang juga hanya barang sederhana tapi berasa istimewa bagiku. Nanti akan aku ceritakan pada kalian.

Aku senang tinggal di Mlokolegi. Tempat yang mungkin pernah menjadi daerah paling menawan menurutku. Dan juga romantis. Karena aku benar-benar pernah merasa menjadi wanita paling istimewa disini. Ditempat yang biasa disebut Daerah Istimewa Mlokolegi oleh Zen.
Diwilayah inilah kisah antara aku dan Zen terjadi. Bagiku Mlokolegi bukan hanya urusan wilayah saja, tapi juga menyangkut urusan perasaan. Kalian harus tahu bagaimana rasanya jadi aku saat itu. Nanti kalian akan tahu setelah aku ceritakan.

Dikamarku ini, aku sedang duduk diatas kasur empuk yang kalau buat tidur rasanya nyaman. Mencoba menuliskan kisahku dilaptop, agar kalian bisa membaca dan menjadi saksi . Biar Zen juga bisa membacanya dan tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya saat ada dia dalam hidupku. Ditemani lagu Unintended dari Muse, aku mulai saja dari sini. Simaklah.

Tetapi sebelum aku mulai cerita tentang Zen. Aku akan bicara soal Mlokolegi yang menurutku adalah daerah paling romantis se-Indonesia. Mungkin menurut kalian, aku berlebihan. Tapi biar saja karena kalian tidak pernah merasakan menjadi aku, dan aku tak perduli. Iya, walaupun tak seindah Bali, tak seramai Jakarta, tak sesejuk Bandung, dan tidak seklasik Jogja, tapi Mlokolegi itu romantis dan aku bangga menjadi bagian dari Mlokolegi.

Di Mlokolegi ada bangunan peninggalan Belanda yang sayang sekali sekarang sudah roboh dan hanya meninggalkan jejak fondasi dan pipa air dalam tanahnya saja yang tersisa. Masyarakat setempat menyebutnya Gedong Bodol yang artinya Gedung Rusak, atau biasa disingkat Nggedong. Lokasinya dekat dengan jalan raya Sragi-Kesesi. Didepan Gedong Bodol ada jembatan swadaya masyarakat Mlokolegi. Kemudian disekitar situ juga ada jembatan legendaris yaitu Broug Putih yang katanya banyak kejadian mistis terjadi disitu jika sudah lewat tengah malam. Makanya disitu kalau malam sepi. Tapi kalau pas bulan puasa disitu ramai, banyak orang jalan-jalan dan ada yang main petasan. Ah itu masa lalu. Nah, diseberang jalan menghadap Gedong Bodol, yaitu sebelah Timur ada tempat cukur atau potong rambut yang juga legendaris. Nama tukang cukur yang menghuni tempat itu adalah Bapak Rusmadi, tapi orang-orang menyebutnya Rus Buntung karena kakinya putus satu. Kejadiannya dulu, waktu dia kecil, suka narik tebu yang diangkut kereta menuju pabrik gula Sragi. Nah, waktu mau mengambil tebu itu dia kepeleset dan salah satu kakinya yaitu kaki yang kirinya terlindas rangkaian kereta pengangkut tebu itu. Kasihan ya..
Oh iya, dibelakang tempat cukur Rus Buntung itu ada rumah Bu Mimin, bidan yang diawal tadi sudah membantu ibuku melahirkan aku. Lalu dibelakang rumah Bu Mimin, melewati persawahan ada pemakaman umum Desa Bulakpelem yang biasa disebut Sarean Wedhen. Tapi kalau kata Zen, itu adalah Lembah Keabadian tempat dimana orang yang dikubur disitu sudah tak akan pulang lagi kerumah. Akan abadi disitu.

Di Mlokolegi juga ada Masjid Desa Bulakpelem yaitu Masjid Darussalam yang kalau hari Jumat pasti ada orang sholat jumat disitu. Orang-orang seluruh desa Bulakpelem juga Sholat Idul Fitri dan Idul Adha disitu. Jadinya ramai.
Tidak hanya masjid, Mlokolegi juga punya mushola tempat aku biasa tarawih kalau bulan puasa. Mushola Al Amin. Disitulah kadang aku melihat Zen yang juga kebetulan sholat. Mushola itu terletak diantara rumah Pak Jarwoyo dan Pak Tasjani almarhum. Lalu dibelakang mushola ada rumah Rohma. Dia temanku, dan dulu bapaknya Rohma adalah imam di mushola tersebut, namanya Pak Abdul Wahab tapi masyarakat lebih akrab dengan panggilan Pak Sidul, beliau sudah almarhum sekarang.
Didepan mushola ada tumbuh pohon mangga yang daunnya cukup rimbun, yang kalau berbuah bisa banyak sekali dan kalau sedang tidak berbuah ya tidak ada buahnya. Anak-anak kecil kadang suka bermain dibawahnya atau bahkan memanjat naik ke atas pohon. Aku sih enggak. Karena rumahku jauh dari mushola.
Aku dengar, dari bermain ataupun sholat dimushola ini, ada yang jadi ketemu jodohnya. Hehehe.

Sebenarnya masih banyak lagi tempat-tempat asyik di Mlokolegi yang ingin aku ceritakan pada kalian. Tetapi takutnya nanti malah tidak fokus ke tokoh-tokohnya. Mungkin nanti sambil berjalan, aku akan ceritakan juga tempat-tempat kejadian sejarah yang menyangkut kisahku dan Zen. Iya, itu adalah bagian dari peristiwa sejarah. Walaupun mungkin tidak penting bagi kalian, tapi ini penting bagiku.

Bersambung...